Friday, March 17, 2006

Jangan Beri Aku Narkoba...


Hey2, tenang2. Kalimat itu bukan ngebambarin diri aku. Itu cuma judul sebuah buku karangan Alberthiene Endah yang lagi aku baca.

Bukunya bagus juga. Ngegambarin tentang seorang pemakai narkoba. Selama ini yg beredar di masyarakat lebih ke makian kepada Narkoba dan para pemakai dll. Di buku ini kita lihat dari sisi si pemakai dan segala pergumulannya.

Ketika baca buku ini, gue tidak banyak berontak ataupun serem seperti baca bukunya Ayu Utami yang bagus tapi terlihat berontak terhadap norma2 yg ada.
Buku ini nggak terlihat "membela" Narkoba. Yang gue suka adalah cara penggambaran bahwa sesungguhnya pemecahan suatu masalah (dalam hal ini pemakai Narkoba) sebaiknya diambil dari sumber masalah yang sesungguhnya. Jangan hanya mengecam para orang2 yang berbuat salah, tapi cari tahu apa penyebab yang membuatnya demikian.
Kalo kata Arimbi, si tokoh utama di buku itu, "Kenapa kalian hanya memikirkan saya dan Narkoba? Kenapa kalian tidak pernah berpikir membuat panti bagi orang-orang yang membuat saya celaka. Orangtua."

Gosh, ketika nulis kalimat di atas (bbrp detik yg lalu) gue baru sadar, jgn2 ini salah satu jeritan hati gue sendiri?
Tapi harus gue akui, ada kebodohan yg dilakukan oleh Arimbi. KOMUNIKASI. Ketika dia nggak deal dgn orang tuanya, kenapa juga dia pendem dan malah lari ke pemuasan yg nantinya malah bisa berdampak buruk ke dirinya? Kenapa juga nggak speak out? Pdhl ada banyak kesempatan.
Ahh, easy to say ya. Walopun sedang berhadapan orang tuanya, maybe it's really hard to have a real communication. Walopun dia tahu apa yg dibicarakan orang tuanya itu tidak benar, walopun dalam hatinya dia menjerit, tapi mungkin memang sangat sangat sulit untuk mengungkapkan apa yg ada di hati dan pikirannya.

Ketika baca buku itu, ada kesan kondisinya dilebih2kan atau di dramatisasi (kayak sinetron). Bikin gue gemes. Tapi kalo dipikir2, gue rasa benar itu bukan hanya sekedar "mungkin". Kayaknya gue selama ini gue mengalami hal yang sama deh.
Hehe, Arimbi yang terlihat tolol dalam speak out her mind ternyata gambaran diri gue sendiri selama ini. Ahh, bodohnya! Pas nulis blog ini baru sadar!

Tp untungnya, akhir2 ini komunikasi di rumah ini udah lumayan membaik. Gue udah lebih berani ungkapin kalo gue nggak deal. Mungkin terlihat berontak. Tapi kalo gue ngomongnya nggak pake urat (like I used to), ternyata bisa lebih diterima. Saat ini, bukan gue tidak speak out. Tapi memang sedang tidak ada yang terlalu mengganjal di rumah ini.

Hmm, lumayan juga pemikiran yang bisa dimunculkan buku yang gue beli di obralannya Gramedia di Perpustakaan Bellarminus seharga Rp 10.000 ini.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...