Thursday, April 27, 2006

Meet the Parents...



Akhirnya, gue bertemu dengan keluarga Bang Raja!

Nekat yah? Cewek kalo dibawa pasangannya ketemu keluarganya dlm kondisi normal aja biasanya cuma banyakan diem. Pasif gitu. Yah, normal sih. Satu orang, dibawa ke tengah2 kelompok manusia baru, di mana dia adalah satu2nya orang asing di situ. Ditambah lagi, penilaian2 singkat yang biasa muncul di pikiran orang2 tersebut. Ihh, serem bangett!

Tapi kondisi gue lebih menyeramkan dari itu! Gue harus menghadapi orang2 itu SENDIRIAN! Tidak ada pasangan yang membawa gue, memperkenalkan gue seperti yang dialami orang2 lain.



Begini ceritanya... :p

Gue diundang datang ke kawinan Bang Reynold and Thio. Krn tidak mendapatkan teman (huh!), akhirnya gue pergi sendirian. Ya sutralah. Ke gereja doang kan? Cuma duduk. Sendirian nggak masalah. Ehh, di luar dugaan. Ternyata Bang Je, yang berjanji akan memperkenalkan gue keluarga Bang Raja, harus pergi duluan ke gedung sebelum kebaktian selesai. Walah! Kaco kann? Akhirnya rencana berubah. Gue yg tadinya berencana tidak mau datang ke gedung, jadi terpaksa ikutan. Mau tidak mau, harus cari teman! Bisa mati kutu di sanaa! Akhirnya gue “culik” Lydia Siahaan utk datang ke sana.

Di sana Bang Je sempat memperkenalkan aku dengan bbrp orang. Sisanya, sblm gue pulang, Yani nganter gue keliling ke Kakak2, Kakak and Abang ipar, serta Nyokapnya Bang Raja! Eng ing eng!

Gue nggak perlu gambarin deh tatapan2 yang gue terima dari mereka. Agak menyeramkan. Penuh penghakiman. Knp gue bilang penghakiman? Krn dlm pikiran mereka pasti muncul persepsi2 ttt (bisa positif, bisa negatif), namun tidak ada yg dapat menetralisirkan. Gue tidak kuasa ngobrol panjang lebar. Bang Raja juga tidak ada di sana.



Sabtu malam, aku reportase panjang lebar ke Bang Raja. Dia excited banget! Dia seneng banget aku bertemu dengan keluarganya. Aku ceritain semuanya. Walaupun dlm hati pasrah dgn “penghakiman”2 mereka tadi.



Bener aja. Senin pagi Bang Raja telp aku pas aku masih siap2. Aku minta ditelpon bbrp saat kmdn ketika aku udah lagi on the way ke tempat kerja. Ternyata, ketika ia nelpon berikutnya, cuma ngobrol singkat banget. Abis itu, aku setelah berkali2 SMS ato miskol, cuma dibales dengan SMS dingin. Kalopun nelpon, sekali nggak diangkat ya udah. Basa/i banget! Biasanya kalo mau tidur dia nelpon ato minimal SMS. Bbrp hari ini boro2. Nggak pernah ada kabar. Seumur2 kenal sm Bang Raja, baru bbrp hari kmrn dia SMS gue dengan manggil “bu”. Wow! Akhirnya kesabaran gue habis. Kalaupun dia repot banget, masa sih selama sekian puluh jam nggak punya waktu even 2 menit buat SMS gue?! Gue udah curiga pasti ada apa2. Tp dia sama sekali nggak ngomongin apa2. Kangen gue udah berubah jadi benci! Makanya ketika dia nelpon stlh gue marah2 di SMS, gue pilih utk tidak angkat telponnya. Drpd gue marah2 nggak karuan, sementara dia dingin gitu?! Drpd dia terpaksa telpon gue, pdhl lagi nggak kepengen, ya sudah. Mending kapan2 aja.



Akhirnya, bener aja dugaan gue, semalem dia SMS. Katanya dia hilang mood gara2 keluarganya bilang gue kegemukan banget. Entah nggak mood sama keluarganya (as he said), ato nggak mood sama gue. Tapi yg jelas dia bilang “what do u expect me to say?” Ya bela gue lah, Bang! Bilang apa kek! Bilang Abang sayang sama aku seutuhnya kek, apa kek! Dia juga bilang “i’ve told u many times utk kurangin”. Okay, lagi2 gue yg salah.



Kadang2 gue bingung. Apakah orang gemuk tidak layak utk hidup? Apa orang gemuk nggak boleh pacaran? Nggak boleh menikah? Kenapa orang seneng bgt lgsg bikin penilaian negatif thd org gemuk sih?! Okaay, mungkin pd orang gemuk resiko penyakit jadi lebih besar. Tapi kan gue juga kadang2 pengen bisa nikmatin hidup, di mana semua orang nerima gue apa adanya. Seumur hidup gue, temen2 nyela gue atas kebesaran tubuh gue. Orang tua gue selaluuuuu mengingatkan akan “keburukan” gue itu, bahkan tidak ragu2 mengungkapkan itu sooo many times di depan orang2. Wahai, manusia! Sadarkah kalau kata2 kalian itu menyakitkan! Walaupun orang2 seperti kami itu seringkali hanya tertawa menghadapi itu semua, yakinilah, dalam hati kami teriris2! Kami ingin diterima oleh orang2 sekitar kami. Tolonglah, sayangilah kami sebagaimana kami adanya. Salahkah kalo aku berharap demikian? Salahkah kalo aku berharap punya pasangan yg bisa mencintai aku apa adanya? Di mana fisik tidak terlalu berpengaruh? Di mana umur atau waktu sependek apapun dapat menjadi sangaatt berarti ketika bersama? Cinta yang seperti itu yang aku harapkan... :(



Aku mengharapkan hal tersebut dari Bang Raja. Sepertinya dia sungguh2 sayang sama aku. Tuluus sekali. Sepertinya, kondisi apapun tidak akan dapat merubah perasaannya terhadapku. Bisa merasakan bagaimana bahagianya mendapatkan cinta yang demikian? Dicintai seperti itu membuat aku merasa berharga di dunia ini. Membuat aku semakin mencintai diriku sendiri. Namun, semakin ke belakang, aku menemukan semakin banyak “syarat”2 akan cintanya dia. Salahkah kalo harapanku memudar?



Abang, maaf kalo aku tidak seperti yg Abang harapkan. Aku tidak menyalahkan harapan2 Abang. Sama sekali tidak. Apa yg Abang harapkan dari aku adalah hal2 yg baik. Aku tadinya berharap, ada penyesuaian dari kita berdua akan hal2 tersebut. Karena sbnrnya ada 2 solusi, dari sisi Abang (menghilangkan kriteria) atau dari aku (berubah). Tidak biasakah kita berdua yang berada di ekstrem kiri dan kanan bersama2 bergeser ke tengah?

Misalnya...

Abang : Kurus, biar sehat dan cantik! à Jaga kesehatan! ß Aku : Gemuk dan jelek!

Abang : Dilarang merokok! à Kadang2 saja merokok! ß Aku : Merokok!

Aku mau memperbaiki diri. Tapi aku juga mohon empati sedikiiitt saja. Tuntutan utk berubah di setiap saat oleh semua orang bisa bikin aku pusing dan makin nggak PD. At least aku pengen punya seseorang yang bisa pahamin aku and mencintai aku apa adanya. Aku harapin itu dari Abang.



Aku tidak tahu, apakah Abang hilang mood ke keluarga Abang ato ke aku. Tp aku rasa dua2nya. Aku sedih juga liad Abang begini. Sblmnya Abang sangat2 excited, banyak tertawa ketika aku cerita soal pertemuan dgn keluarga Abang. Tapi kesenangan itu dipatahkan begitu saja oleh keluarga Abang. Aku tidak tahu, apakah yg disampaikan oleh mereka hanya sekedar penglihatan mata atau sudah pendapat dari hati, di mana artinya ada kecenderungan utk tidak merestui kita. Kalau ada kecenderungan melarang, aku berharap Abang melakukan apa yg sudah kita obrol2kan dari dulu. Kesepakatan kita, faktor2 ekstern yang menentang hubungan kita, akan kita hadapi bersama, bukan? Aku juga bela mati2an kok kalo Papa-Mama mulai meragukan soal hubungan kita.

Lain hal kalo Abang hilang mood-nya ke aku. Di satu sisi Abang pasti kesal krn wanti2 Abang tidak aku indahkan, sampai akhirnya benar2 menjadi masalah. Di sisi lain, mungkin Abang hilang mood begitu menyadari “pacarku tidak sesempurna yg aku bayangkan”. Seperti yg Abang bilang kmrn, “Mana mau aku punya pacar jelek!” Ya kan? Mungkin skrg baru kebayang, bagaimana jeleknya aku berdasarkan pandangan keluarga Abang. Hilang harapan ngebeliin Lingerie-nya Victoria Secret or baju2 lain, hilang harapan utk punya pasangan yg bisa bikin orang2 terpesona. Akuilah. Pasti ada perasaan spt itu. Do you love me that much utk ngelawan perasan2 itu?



Aku belum tau mau bagaimana. Aku rinduu banget sama Abang. Pengen ngobrol and sayang2an spt kmrn2. Aku takut banget perasaan Abang berkurang, then I’ll loose you. Tapi aku nggak tau mau ngomong apa kalo kita bertemu di udara (telpon maksudnya). Besok hari Jumat. Aku berharap bisa ngobrol sm Abang and nemuin solusi kita bersama.
I love you, Bang...

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...