Sunday, September 24, 2006

Being a Teacher...



Gue heran, kok bisa2nya gue jadi guru! Makk, gue gitu looh! Nggak perlu gue gambarin scr detail lah bagaimana gue waktu sekolah. Lucunya, teman bandel gue waktu kelas 2, yaitu Carla and Gewe (Carla-Gewe-gue = Joko-Acong-Sitorus), semuanya sekarang jadi guru! Waduh2. kayaknya kita bertiga kena tula nih. Gewe ngajar di Musik PH, Carla di PreSchool gitu, and gue di SMP-SMA Bellarminus.



Awalnya benar2 suatu ketidaksengajaan. Tawaran mengajar datang ketika gue lagi banyak nganggur. Mestinya nggak nganggur sih. Krn saat itu pun gue sebenarnya harus mengerjakan Skripsi. Tapi pada kenyataannya gue malah terlalu menikmati saat2 itu. Melihat kosongnya kegiatan gue di pagi-siang hari, akhirnya tawaran itu gue terima. Yahh, at least ada yang gue hasilkan walaupun tidak mengerjakan Skripsi, hehe.




Walaupun gajinya tidak seperti dugaan gue (di bawah perkiraan tentunya), tapi yah tetep gue jalanin. Sblm Skripsi gue tuntas, gue belon berani beralih ke pekerjaan yang lebih serius. At least masih bisa nutupin biaya gue sehari2. Sayangnya, belon cukup untuk nabung serius ataupun untuk pengembangan diri. Apalagi dengan harga bensin skrg ini! Hhh!! Pokoknya gitu deh.



Sebenernya yang pengen gue sharing di sini adalah bagaimana gue akhirnya mencintai pekerjaan gue ini. Padahal gue tauu, apa yang gue kerjakan ini tidak akan membawa gue ke mana2. Tidak akan ada peningkatan yang terlalu berarti. Untuk karir? Buset, mau jadi apa cobaa? Mentok2 jadi Kepala Sekolah. Elahh, nggak ada cita2 yang lebih dahsyat ape? Masih muda gitu loooch! Hihi, ngaku2 masih muda. Gpp lah agak2 nggak tau diri, hehe.



Bukan gajinya yg bikin gue jatoh cinta. Bukan juga pola kerjanya. Mungkin sebagian orang mikir jd guru enak, kerjanya dikit, jam kerjanya lebih sedikit. Jangan salahh! Sebagian pekerjaan masih bisa makan gaji buta. Kalo jadi guru? Misalnya gue harus ngajar 8 jam pelajaran dlm satu hari. Kebayang nggak dari jam 7 pagi gue harus cuap2 di depan kelas, ngadepin anak yang bbg macam! Bel bunyi, dlm hitungan menit sudah harus nongol di kelas lain lagi, melakukan hal yang serupa. Dan itu terus berulang sampe siang! Belon lagi kalo pulang sekolah ada Ekskul. Belon lagi tumpukan tugas dan ulangan yang menanti untuk dikoreksi. Kapan ngerjainnya? Ya after school! Kadang terpaksa dibawa ke rumah. Krn kalo nggak ya nggak selesai. Dapet reward dengan melakukan semua itu di luar jam kerja? No! Apalagi kalo lagi deket2 Ulangan Umum dan Remedial. Buset deh! Hectic banget! Nggak sempet napas! Deadline teruss! Belon lagi kalo sekolah lagi bikin kegiatan, dan kita terlibat di dalamnya sbg panitia or something. Akhirnya, selain kewajiban2 sebagai guru mata pelajaran beserta segala tetek bengeknya, nambah lagi hal2 yang harus dikerjakan oleh pikiran dan tubuh! Kayak kuraang aja yang harus dikerjain. Mana tidak pernah ada reward atas pekerjaan2 tambahan itu pula! Bener2 seperti pelayanan. Pdhl kan pada hakekatnya gue bekerja (walaupun judulnya guru) kan untuk mencari nafkah! Masa di tempat kita bekerja mencari nafkah juga harus “pelayanan” sih? Ada hal2 ttt gue lakukan dengan tulus dan tidak mengharapkan imbalan (biasanya ini urusannya pelayanan sama anak2), tapi kalo urusan sama sekolah, gue nggak mau dihitung pelayanan! Mestinya setiap jerih payah kita diberi penghargaan dong. Pola komunikasi di situ juga nggak sehat. Kyknya karena semua ngerasa masih butuh, dan si pemimpin ngerasa berkuasa, jadi sepertinya mereka semua enggan mencari gara2. Yah, hal itu juga terjadi sama gue. Maunya sih gue be assertive. Tapi gue BELUM berani cari gara2, krn sampe saat ini gue masih butuh pekerjaan ini. =(



Ada bbrp hal yang membuat gue masih bertahan di situ. Selain butuh pemasukan untuk menjalani hari2 gue, ada bbrp hal yang gue sayangi dari pekerjaan ini. Yupe! I love those kids! Selama ini gue cuma suka melihat anak kecil. Tapi nggak berani berinteraksi dengan mereka, karena gue nggak tau apa yang harus dilakukan. Mungkin karena gue anak bungsu dan belon pernah terlibat dekat dengan anak kecil. Sekarang? Gilaa, apalagi yang SMP2 awal gituu. Lucu2 bangettt! Semuanya lucu! Secara fisik sangat menggemaskan. Tapi perilaku mereka tidak kalah menggemaskannya. Polosnya mereka justru membuat gue takjub. Gue bahagia melihat kelucuan mereka. Tapi gue juga teriris kalo mengetahui ada dari mereka yang bermasalah.



Walaupun gue sangat menikmati kelucuan mereka, tapi gue sebenarnya lebih concern terhadap mereka yang bermasalah. Masalahnya bermacam2. Terutama masalah dengan lingkungan mereka. Misalnya anak2 yang selalu diledek oleh teman2 mereka. Alasannya macam2. Ada yang memiliki kekurangan fisik (biasanya kalo terlalu gemuk), atau karena keanehan mereka. Gue rasanya pengen ngelindungin mereka bgt. Gue berusaha agar mereka nggak terluka hatinya, dan akhirnya ledekan2 (yang terlihat seperti main2) tersebut berdampak panjang dalam diri mereka. Bukan apa2, I’ve been there. Ternyata luka2 dari hal2 kecil spt itu semakin lama semakin menumpuk, dan akhirnya mengganggu gue bahkan hingga dewasa.



Masalah lain yang sering terjadi adalah masalah dengan keluarga. Gue sedih sekali kalo gue tahu sebagian dari mereka ada yang keluarganya tidak “normal”. Macam2 bentuknya. Ada yang orang tuanya sangat sibuk sehingga mereka bisa berbulan2 tidak bertemu, ada yang orang tuanya sangat2 otoriter, ada yang sudah ditinggal oleh orang tuanya, ada (banyak bahkan) yang orang tuanya cerai atau sekedar berpisah, ada yang terpaksa tinggal seorang diri karena tidak ada yang mengurus, dan ada juga yang mengalami kekerasan fisik di rumahnya.

Ya Tuhann! Apa salah mereka sehingga mereka harus tumbuh dalam lingkungan yang demikian? Rasanya pengen gue peluk mereka satu per satuu. Pengen rasanya gue lindungin mereka dari hal2 yang bisa berdampak buruk (jangka panjang)! Dulu Kak Indah pernah berusaha membuka pikiran gue dengan mempertanyakan apakah tidak sebaiknya seseorang mengalami tantangan dalam hidupnya, hingga dia menjadi lebih kuat? Iya, itu ada benarnya. Ssorg yg tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan, biasanya akan menjadi orang yang kuat.

Tapi menurut gue itu semua ada saatnya. Dalam masa2 pertumbuhan seperti mereka, sebaiknya mereka berada dalam lingkungan yang kondusif. Dengan demikian, diharapkan mereka dapat bertumbuh dengan baik. Lingkungan yang buruk bisa membentuk mereka menjadi pribadi yang... yang apa yah? Nggak tau deh. Setiap perjalanan hidup pasti ada dampaknya. Pokoknya menurut gue, sebelum mereka diterjunkan ke medan yang berat (alias kejamnya dunia), mereka sebaiknya memiliki modal yang kuat, yaitu berupa pribadi yang sehat. Dengan demikian, coping mereka thd tantangan2 yang datang pun bisa lebih baik. Hal ini terlihat dari fakta bahwa anak2 yang bermasalah biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah.

Melihat betapa besar dampak dari lingkungan keluarga terhadap pembentukan pribadi ssorg (selama ini gue tau scr teoritis), kadang2 gue ngerasa hopeless. Gue ngerasa kita guru2 di sekolah nggak ada gunanya. Kita sih selain mengajarkan ilmu kepada mereka, berusaha juga mendidik mereka alias mempersiapkan mereka menjadi pribadi yang lebih matang untuk kemudian menghadapi dunia luar. Tapi, kalau hal tersebut tidak didukung oleh lingkungan rumah, ya sia2. Misalnya, sekian jam kita didik mereka untuk aktif dan berani mengungkapkan pendapat, tapi ketika tiba di rumah, mereka di-abuse untuk semua hal yang tidak sesuai dengan harapan orang tua. Bisa abuse fisik, bisa abuse dengan kata2. Akhirnya, keluar dari rumah, yang ada mereka memiliki kecenderungan berontak dan agresif. Pernah ada murid gue kelas VII yang nyaris berantem sama temennya di kelas cuma gara2 hal simpel yang dilontarkan temannya. Tau nggak apa reaksinya ketika dia diingatkan? “Bukan begitu, Bu. Di rumah kita udah diteken, masa sama temen juga harus diteken juga??” Waduuh! Kalimat itu maknanya daleemm banget! Yahh, ha2 seperti itu kadang2 bikin gue hopeless. Nggak bisa dipungkirim, memang lingkungan utama dalam pembentukan pribadi ssorg adalah keluarga.

Sering gue berharap gue adalah guru BP. Inginn sekali gue terlibat dalam sama mereka. Gue pengen bantu mereka. Gue ingin tahu masalah2 mereka, dan berusaha melengkapi kebutuhan jiwa mereka yang mungkin tidak terpenuhi di keluarganya. Bukan dengan memanjakan tentunya. Of course not. Itu mah namanya tidak membantu. Tapi yah apa daya. Gue cuma guru mata pelajaran biasa. Bisa aja bantu mereka dengan status gue begini. Masalahnya, dengan kondisi ini, sulit untuk terlibat dalam dengan mereka.




Wahai para orang tua, berhati2lah dengan anak yang Tuhan titipkan kepada kalian. Jgn semena2. Jgn berpikir pendek. Apa yang kalian perbuat terhadap mereka, semua ada dampaknya. Ckck2, sok tau banget gue yaa. Gue belon pernah ngerasain punya anak. Tp gue harap dengan pengetahuan dan pengalaman gue ini, gue bisa menjadi orang tua yang cukup “baik” buat anak2 gue di masa depan. Eleuh, eleuh! Tua banget yaah guee. Pleasee deh. Apa artinya inii??



Tapi oleh karena itu, hal ini juga menjadi pertimbangan gue dalam memilih pasangan hidup. Gue concern utk hal itu. Tp kalo punya pasangan yang tidak memiliki visi dan misi yang sama kan bisa berabe. Harus punya pasangan yang menyadari bahwa manusia hidup tidak hanya dengan roti saja. Hehe, maksudnyaa, manusia selain punya kebutuhan fisik, punya juga kebutuhan psikologis. Jadi dalam berkeluarga juga gitu. Jangan ngerasa puas dengan berhasil menghidupi dengan materi. Ada beban yang lebih besar daripada itu. Apalagi urusan anak. Karena ya itu tadi. Tugas orang tua adalah membantu anak untuk menghadapi masa depannya. Orang tualah yang paling bertanggung jawab utk urusan itu. Jadii, sebisa mungkin kebutuhan2nya terpenuhi. Bukan berarti semua yang dia inginkan langsung dipenuhi. Jelas beda lah. Untuk lebih jelasnya, mungkin lebih baik ntar diomongin sama orang yang bersangkutan deh yahh, hehe.

Hmm, ada yang satu visi dengan gue? Coba2, datang kemari. Siapa tau kita bisa “jalan bareng” menuju visi tersebut. Haha! Malah jualan... :p


Sunday, September 17, 2006

Miss Him Soo Much!



You know what! I miss him soo much!

Bukan karena ngarep yang macem2. Tapi mungkin karena I still care for him soo much. Gue masih pengen tau kabar dia, sudah sejauh mana perjuangan dia mencapai cita2nya, and so on. Secara sejak 3 minggu yang lalu kita udah nggak ada kontak sama sekali. Not even SMS. Nggak enak banget. Apalagi terakhir pembicaraan kita, kita berdua sangat2 emosi. Sampe2 kita berdua saling teriak and saling memaki.

Tadinya gue berharap dengan kedua belah pihak menyetujui bahwa jenis hubungan yang sebelumnya tidak mungkin dijalanin lagi, kita berdua masih bisa menjalin suatu hubungan yang lebih realistis, such as friendship. Tapi lagi2 untuk menjalani hal tersebut juga dibutuhkan itikad baik dari kedua belah pihak. Sebenarnya gue masih berharap kita bisa tetap saling memberikan perhatian, tentu saja dalam bentuk yang berbeda. Tapi yahh, namanya orang. Cara berpikirnya juga pasti beda. Mungkin pihak yang satu berpikir lebih baik tidak kontak sama sekali. Alasannya? Entahlah. Mungkin takut gue kejar2? Mungkin takut gue ngarep lagi? Takut kita tergoda lagi? Tapi yang pasti dia ingin kita menjalani hidup kitam masing2 saja.

Tapi apapun alasannya, buat gue sangat tidak mungkin menghilangkan orang tersebut begitu saja dari kehidupan gue. Dia pernah jadi bagian yang penting dalam hidup gue. Gue nggak suka banget dari tingkat hubungan yang sedemikian dalamnya, tiba2 harus dihapuskan begitu saja. Nggak mungkin gue tiba2 mengenyahkan dia dari kehidupan gue, seakan2 dia tidak pernah ada dalam kehidupan gue. Nggak mungkin gue bersikap seakan2 gue nggak peduli apa yang terjadi sama dia. Coz I still care. So much.



So, anybody yang kenal dia, silahkan meng-update kepada gue. Jgn berpikir I wanna ruin his life. Not at all. Just wanna know how he’s doin.

Lebih baik lagi kalo orang yang bersangkutan langsung yang meng-update kabarnya.



Bang, kalau kamu baca Blog ini, bisa reconsider kondisi kita sekarang ini? Aku nggak bisa banget terima kondisi kita sekarang ini. Bukan nggak rela kita pisah. Bukan itu. Cuma agak2 terlalu menyedihkan melihat hubungan kita sekarang ini. Hubungan yang udah kita jalanin selama ini seperti nggak ada artinya. Aku mau ke depannya kita masih bisa saling membangun. Tentu saja dalam bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Tuhan sudah “mempertemukan” kita. Pasti dia punya maksud tersendiri buat kita. Hope kita masih bisa jaga hubungan baik kita. Kalo bersedia, silahkan hubungi aku. Kalo tetap berpikir kita lebih baik kembali seperti sediakala, yaitu tidak saling kenal, yahh it’s up to you. Whatever it is, just want you to know that I still care for you. So much! There’s nothing else I could do, selain... I’ll pray for you. Hoping the best for you, Bang. May God bless us in everything we do..

Single vs In a Relationship



Sudah tepat 3 minggu status gue kembali menjadi Single. Tapi entah kenapa, gue belon sanggup ngerubah status di Friendster gue menjadi demikian. Hehe, pasti sebagian mikir itu nggak penting! Tp menurut gue, it really mean something.

Gue sendiri mencari tahu kenapa gue belon sanggup ngerubahnya. Gue nggak yakin artinya adalah gue masih berharap hubungan yang sudah kandas kemarin itu kembali berlanjut. No. Gue sudah tidak berharap demikian kok. Sebenernya bukan karena gue udah nggak sayang. Not at all! Still love him soo much! Tapi karena alasan tertentu, hubungan kita memang sudah nggak bisa berlanjut. Gue sadari itu. Makanya gue juga tidak berusaha merubah fakta bahwa kita udah nggak mungkin menjalani apa yang sebelumnya sudah kita rencanakan. Ibarat pepatah, “Cinta tak harus memiliki!” Hehe, basi abiss! Tapi mungkin emang iya kali yaa? Gue sih berprinsip, bahwa ketika kita memutuskan untuk nggak bersama seseorang, kita nggak perlu benci sama orang tersebut. Ternyata gue sanggup begitu. Gue pikir gue nggak akan sanggup kehilangan orang itu. Tapi ternyata kejadian juga. Walaupun sakitt banget ngebayangin impian yang sudah kita bangun bersama pupus begitu saja, tapi yahh mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih indah buat kita berdua.



Lalu kenapa doong gue belon sanggup ganti Statuss?? Yahh, mungkin karena gue belon siap untuk the next relationship? Iya kali yahh. Hati gue masih sakit banget. Kekecewaan gue amat sangat. Impian dan harapan yang sudah dibangun kandas begitu saja. Apalagi bukan karena apa2, melainkan karena pasangan kita memutuskan untuk berhenti berjuang untuk our relationship. Ternyata he doesn’t love me that much.



Entah di mananya bagian yang paling menyakitkan buat gue. Apakah karena ini adalah yang pertama buat gue? I’ve never been here before! Never loved someone this much! Nggak pernah ngerasa dicintai seperti itu! Bahagiaa rasanyaa. Dan amatt sangatt menyakitkan ketika menemui fakta bahwa ternyata semua itu hanya pikiran gue saja. Ternyata cinta yang gue terima selama ini semu?



Pernah ngerasain sayaang sama orang amat sangatt? Sakit yahh rasanya, begitu kita tahu orang tersebut nggak sayang sama kita in return? Rasanya mau menghilang dari muka bumii. Sekali lagi menemui fakta, seakan2 kita tidak layak dicintai.

Ever think of hurting yourself? Just wondering if someone still care.

Cara yang cukup efektif kan? Gue rasa yang peduli cuma keluarga gue. Yahh, walaupun keluarga gue nggak intim2 banget, tapi I know they care. Sisanya? Hell with everybody!



Saat ini, yang gue pikirin cuma keluarga gue. Gue lagi nggak peduli sama semua orang. Lagi nggak percaya sama semua orang. Orang2 di sekitar sih banyak. Tapi ngarepin perhatian yang tulus dari orang lain? Bleh!

Saat ini gue cuma pikirin target2 pribadi gue. I wanna do my best for myself and my family! Kenapa cuma itu? Karena gue rasa nggak akan ada lagi orang lain yang peduli terhadap keduanya, selain diri kita sendiri!!! Ya toh?!



Shiit! Nggak bisa dipungkirin, hati gue kesepian banget. Tapi, gue takut jatoh cinta lagi. Mungkin setelah ini, gue tidak akan memberikan hati gue sepenuhnya. Tapi apa bisa? Gue rasa itu memang cara gue sayang sm seseorang! Tapi bahaya yah kalo sayang gue itu berat sebelah. Akan sakit kayak gini lagi. Ahh, nggak tau deh kapan gue bisa percaya lagi sama orang.

Selain nggak percaya sama orang, gue juga jadi nggak percaya sama diri sendiri. Buat dapetin yang pertama ini aja penantian gue lamaa banget. Itu juga ternyata tidak seperti yang diharapkan. Masih mungkin nggak ada lagi yang datang? Yang lebih baik?



But someone told me, bahwa penantian kita nggak akan sia2. He encourage me to do as best as I could. Do it for myself, do it for everybody. Bener juga sih. Nggak ada ruginya berbuat baik setiap saat. Bukan karena mengharapkan “sesuatu”. Nggak ada ruginya kan bikin orang lain bahagia? Ketika bisa jadi berkat bagi orang lain, gue rasa itu anugerah banget.

Soo, selain wanna do my best for myself and my family, gue juga mau memberikan yang terbaik buat orang2 di sekitar gue. Imbalannya? Hmm, gue tahu Tuhan pasti akan ngasih yang terbaik buat gue.



God, thanks for this phase of life...



Shackled by a heavy burden, ‘neath a load of guilt and shame, then the hand of Jesus touched me, and I know I am no longer the same. Something happened and now I know. He touched me and made me whole. From glory to glory He’s changing me, from earthly things to the heavenlies. He is the potter, I am the clay. Mold me and make me, this is what I pray.

So as I face tomorrow, with its problems large and small, I’ll trust the God of miracles and give to Him my all. Something good is about to happen. Something good is stored for us. God will take care of me. God will take care of us.

Heavy Burden!



I'm worshipping You O Mighty Lord.

I'm praising You dearest God. I bent down on my knees.

I come to You.

This is me Lord.

I am lost without You.

Only You is the answer of everything that happened in my life.

Only You can fulfil my desire.

Only You can heal my heart.

Only You Holy Lord that I need.

Nothing else.

No one else.

I believe in Your power.

I believe You will strenghten me.

I believe in You.

Your presence renew my heart, rechange my spirit.

So help me, God!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...