Wednesday, January 10, 2007

Forgiveness

Entah kenapa, the term about Forgiveness sering muncul belakangan ini. Belum lagi luka2 yang lalu sembuh, muncul lagi hal baru yang jika gue biarkan, bisa melukai gue lebih dalam, jauh lebih dalam dibanding semua luka yang pernah terjadi dalam hidup gue.

Nggak mungkin gue ungkapin di sini. Too personal. Too personal that I tried to face it all by myself all these times. Sampai tadi malam, gue decide utk mencari bantuan dari orang lain.

Saat ini, gue pengen belajar how to forgive. Terlalu banyak keamarahan, kedengkian, dan hal2 sejenisnya yang gue kubur dalam2 di dalam hati gue. Mungkin orang2 di sekitar gue nggak sadar akan semua ini. Tentu saja! I'm so daamn good ngumpetin semua luka2 gue.

Tapi tanpa gue sadari, semua ini semakin menggerogoti gue sampe ke akar2nya. Karena sering "terluka" dari kecil, gue jadi terbiasa buat melukai diri sendiri. Karena takut malu diledek oleh temen2 sekolah karena tubuh gue yang tidak pernah kurus (alias gemuk) dan tangan kanan gue yg cacat, gue akhirnya seringkali terlebih dahulu membuka segala aib gue, and pretending I was fine with those things. Sedari kecil gue selalu ingin jadi orang pertama yang menertawakan diri gue sendiri (karena sakit rasanya ditertawakan orang lain). Saat itu gue merasa puas dengan coping tersebut. And gue terapkan semua itu dalam setiap sisi kehidupan gue. Hasilnya? Yupe, I'm good at laughing at myself! I'm good at finding my weaknesses! My weaknesses, that's all I see.

How bout my strengths? I don't know. I can't find, and I guess so does everybody around me. Semakin lama, gue semakin rapuh. Yahh, seperti orang2 dgn low self-esteem pada umumnya, gue cepet terluka. Setiap dikecewakan oleh orang lain (teman atau keluarga), yg ada gue semakin menyalahkan diri sendiri.

But God is so good. He care for me so much. Bbrp tahun ini gue dibentuk sama Dia. Gue dikasih begitu banyak "latihan" bbrp tahun ini. Semakin lama semakin berat. Dia juga menghadirkan orang2 tertentu dalam hidup gue, yang membuat gue semakin hari semakin bertumbuh ke arah yang lebih baik (Thanks, Kak Indah! Thanks, Bang Raja!). Terlalu panjang kalau gue tulis (maybe someday) bagaimana metamorfosa gue bbrp tahun ini. I'm much better.

Saat ini gue lagi get deal dgn rasa kecewa dan rasa sakit gue dlm urusan percintaan, seperti yg gue tulis dlm postingan "A New Start" kmrn. Semalam gue sadar, Tuhan lagi memberi gue "latihan" baru lagi. Gue shocked! Ini lebih berat dari urusan percintaan! Gue semakin sadar, sebaiknya gue cepat membereskan hati gue utk segala luka2 yang lalu, termasuk luka2 dari kecil, luka2 akibat kecewa urusan pertemanan, dan luka2 akibat urusan percintaan. Karena kalo tidak, gue bisa hancur berkeping2. So, I'm getting myself ready for everything.

Gue lagi nyari2 bacaan ttg forgivness nih. Ehh, nemu Web yg lumayan lengkap. http://www.forgivenessweb.com/

________________________________________

FORGIVENESS

© By Sherry-lynne Mitchell

Forgiveness is a conscious choice

It must begin first in your head

In an aware and planned way

Sometime change engenders dread

Sincerity involves the heart

Need to realize time to let go

Monsters live and thrive in the dark

Pain involved in having to grow

Prison caused by anger and hurt

Trust is not something that is free

Forgiveness is a conscious decision

Trust is destroyed for you and me

Will never be okay, never

Forgiving does not mean to say

What was done then, is now okay

Wasn't right when it was done

Forever it will not be right

Forgiveness does not change the past

Does not erase what was done then

The years are passing too fast

No consent for enabling

Time to move on with living

Thoughts are ever turning backward

Have been thinking of forgiving

When I have it all worked out

I shall write for you a letter

Leaving it for you to read

When I am gone, this is better

* * * *** *** *** * * *

9/8/2004

Tuesday, January 02, 2007

A New Start

(Posted at Jan 02, 2006 at Friendster Blog)

Finally, the "season" is over. Christmas and New Year has passed. Oh yaa, Merry Christmas and Happy New Year buat yg merayakannya, ya. Soo, how was it, guys? Did you do something special to celebrate the moment?

For me, actually, I didn't do something special to celebreate those occassions, especially the Old & New. Natal dan Tahun Baru gue kali ini sepii bgt. Gue nggak ngerayainnya sama sekali. Nggak ada mood sama sekali. Pas ngejalanin, gue nggak happy sama sekali. Nelangsa iya.

Tgl 25 pagi, mood gue udah drop gara2 sesuatu. Keterpurukan itu kebawa terus seharian. Sampe2 terjadi tragedi di hari itu (sebagian dari kalian mungkin tahu). Hari itu yg gue rasain adalah sedih, kecewa, maraaahh! Bahkan di hari Natal itu gue decided untuk TIDAK AKAN MEMAAFKAN SESEORANG. Menurut gue, maaf gue untuk dia sudah habis. Selama ini gue selalu nrimo diperlakukan kalopun diperlakukan tidak baik. Amarah juga sering gue pendam, demi menjaga suasana. Terbukti dari bbrp draft SMS di HP gue yg berisi ungkapan kemarahan, kesedihan, kekecewaan, yang tidak jadi gue kirimkan. Alasannya? Gue ngerasa percuma. Gue sampaikan pun orangnya nggak akan ngerti apa yg gue sampein. Yg ada suasana makin buruk.

So, entah kenapa hari itu mata gue lebih terbuka lebar. I can see clearly akan apa yg sebenarnya terjadi between us. That's it! No more forgiving! It's enough! Dulu dia pernah mengakui kesalahannya sampe nangis2, minta maaf dengan amat sangat, baik ke gue maupun ke Tuhan, bahkan sampe mohon ke Tuhan biar dia dikasih kesempatan ngasih unjuk perasaan dia yg sebenarnya ke gue. Kenyataannya? Bukan cuma gue yg digombalin! Tuhan juga dia gombalin! Begitu he got what he wanted, dia jilat ludahnya sendiri. Dia sudah lupa perkataannya dulu. Dia lupa niatnya dulu. Bahkan dia lupa utk tidak menyakiti orang lain. There he go, back to old habbit, kembali menyakiti orang lain (bukan hanya gue). Melihat itu, gue ngerasa nggak akan ada gunanya lagi gue maafin dia. Cukup 2 kali gue dicampakkan begini. It's more than enough!

Gue sebenernya serem sendiri. Boow, kenapa hari Natal gue malah marah2? Kenapa hari Natal hati gue malah penuh kebencian? But I tried to think the possitive way. Mungkin kemarahan itu merupakan bukti bahwa gue sudah merelakan dia pergi dari hidup gue. I don't want him back to my life, and ruin everything, especially my heart. Pertanda bahwa I'm ready for the next step (of my life, not his).

Hati udah siap. Sekarang tinggal action. Selama ini memang gue sudah decided untuk tidak akan menghubungin dia lagi (and I did it). Aksi real lainnya yg baru bbrp hr yg lalu gue lakukan adalah dengan menghapus nomor telepon dia dari HP gue (something that Ben had told me lotsa times before). Lebih dari itu, I don't even remember those numbers! Abis ini gue juga akan hapus dia dari Friendster gue.

I don't hate him. God, not at all. I still love him. But somehow now I realize that he's not the one I'm looking for. He's not the one God wants me to be with for the rest of my life. It's hurt to see that fact. It's really hurt. But I knooww it's the best for me, and also the best for him.

Irene ngasih unjuk sebuah SMS ke gue : "As children bring their broken toys with tears for us to mend, I brought my broken dreams to God, because He was my friend. But instead of leaving him in peace to work alone, I hung around and tried to help with ways that were my own. At last I snatced them back and cried, 'How can you be so slow?' 'My child,' He said, 'what could I do? You never let them go."

Uhhh, dalem banget nggak sihh? I realise, there're some cases we have to leave to God. Let him work with His own way. Selama ini gue sampe mohoonn2 banget ke bbrp temennya (hehe, kalo mereka baca juga pasti ngeh) utk mau jadi his real friend, yg nggak akan lelah mengingatkan dia kalo dia salah, yg nggak lelah2nya menjaga dia supaya tidak melakukan kesalahan yg sama (as he did to me). Sekarang? I don't care. I leave it to Him, the almighty.

I thanked God for everything I've been thru' for the past years. I thanked God for presenting him in my life. I get the happiness. I learned much! Mungkin di postingan berikutnya akan gue share bagaimana metamorfosa kepribadian gue in the pas few years. It's really amazing how God has mold me into a better person!

So, here I am. Ready for a new start. Ready for another phase of my life.

Then back to main topic, finally, I feel the joy of the "season", the spirit of Christmas, and a new commandment for the New Year. Walaupun kmrn ketika jarum jam semakin mendekati pergantian tahun, namun hati gue semakin nelangsa, entah kenapa kebahagiaan itu berangsur2 muncul sepanjang kebaktian bersama keluarga. Then, di akhir acara, gue share mengenai apa yg gue rasain dan gue dapat sepanjang tahun 2006 dan rencana2 tahun 2007, akhirnya yg keluar dr mulut gue adalah rasa syukur, syukur, dan syukur. Ketika bbrp waktu lalu gue ditanya sama Kak Indah "Jadi kesimpulannya, tahun 2006 itu tahun yg spt apa?" gue masih bingung jawabnya. Gue tahun I had to be gratefull, but it was really hard! I still remember the pains along the way. Tp entah kenapa, waktu itu gue dapat mengucap syukur dari hati yang paling dalam. Gue sungguh2 mengucap syukur utk semua yg sudah gue alami. Amazing. Also, for the first time in my life, gue tahu apa yang gue mau! Gue tahu apa2 saja yang ingin gue capai di masa yang akan datang, terutama tahun 2007. Never feel so sure about myself.

Ahh, gue nggak ngerti lagi deh gimana harus mengucap syukur buat semuanya. Jadii, inti (iyalah intinyaa, detailnya too personal kalee :p) resolusi 2007 gue adalah GIVING. Giving my best to myself, giving my best to others, and giving my best to God. So help me, God.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...