Wednesday, July 18, 2007

Terima Kasih Avip, Terima Kasih BMS (by Tonny D. Widiastono)

Tonny D Widiastono

(retrieved from http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/28/Musik/3631755.htm)

Terima kasih Avip Priatna. Terima kasih Batavia Madrigal Singers. Anda semua telah menjadi duta yang benar-benar mengangkat nama bangsa.

Kata-kata itulah yang bisa terucap seusai menyaksikan pergelaran kelompok Paduan Suara Batavia Madrigal Singers (BMS) bersama Orchestra Ensemble Kanazawa (OEK) dari Jepang, yang menyuguhkan karya Carl Maria von Weber, Missa Sancta No 1 in E flat major, J 224 Freischutzmesse, Jumat (22/6) pekan lalu di gedung konser Ishikawa Ongakudo, Kanazawa, Jepang.

Terima kasih secara khusus perlu disampaikan kepada Avip Priatna, yang dalam konser ini tidak hanya menjadi konduktor untuk Missa Sancta saja, tetapi juga untuk tiga karya Weber lainnya. Der Freischutz Overture, Invitation to the Dance; dan Clarinet Concerto No 1 in f minor Op 73, dengan solis klarinet Fumie Endo.

Ucapan terima kasih pantas disampaikan kepada Avip Priatna, konduktor BMS, dan anggota paduan suara. Mereka telah mengangkat bukan hanya nama kelompok BMS, tetapi juga nama bangsa Indonesia di dunia internasional. Apalagi di tengah situasi bangsa Indonesia yang masih terus dirundung duka dan bencana, prestasi Avip dan BMS sungguh memberi hiburan tersendiri.

Di belakang panggung, para anggota pun berangkulan, berlinang air mata haru. Mereka saling memeluk, saling mencium, mengekspresikan kegembiraan. "Terima kasih, terima kasih, terima kasih," sambut Avip sambil berlinang air mata saat menyambut ucapan selamat dari berbagai pihak termasuk anggota BMS dan OEK.

"Big success, big success," komentar sejumlah penonton di tengah tepuk tangan tak henti, membahana di gedung konser yang dibangun tahun 2001 untuk menghormati pejuang gigih di bidang musik klasik, Hiroyuki Iwaki (1932-2006).

Untuk menambah kepuasan penonton, BMS masih memberi imbuhan lagu O Ina Ni Keke, sebuah lagu daerah Minahasa. Mendengar lagu yang diaransemen oleh Buche ini, penonton pun cep, diam. Senyap menyelimuti seluruh ruangan gedung konser. Dan, para penonton pun larut dalam keindahan lagu ini. Sebelum konser, malam itu BMS juga menyuguhkan sebuah lagu dari daerah Tapanuli, Sik Sik Sibatumanikam, yang diaransemen oleh Pontas Purba.

Membahana

Tepat pukul 18.15, muncul empat anggota OEK—N Matsui (violin 1), N Takenaka (violin 2), Y Ishiguro (biola), dan A Osawa (cello)—di depan pintu masuk ruang konser. Kelompok tanpa nama ini menyeret kursi, membuat setengah lingkaran, dan "menghibur" para tamu yang sudah hadir dan masih menikmati jus jeruk atau kopi dengan menyuguhkan sebuah String Quartet No 1 First Movement karya Ludwig van Beethoven.

Ihwal penampilan Avip sejak awal sudah terasa menggigit. Suguhan pertama adalah Der Freischutz Overture, Invitation to the Dance; dan Clarinet Concerto No 1 in f minor Op 73, dengan solis klarinet Fumie Endo. Seluruh lagu pada babak pertama ini "dikomandani" Avip Priatna.

Memasuki babak kedua, sang master konser segera mengambil nada, lalu membahana Kyrie (bagian pertama Missa Sancta No 1 in E flat major, J 224 Freischutzmesse.) Setelah delapan bar, tampil Aning (Ratna Kusumaningrum) sebagai solo sopran, "Kyrie eleison, eleison, eleison, eleison…," alunnya, membuat siapa pun yang memahami arti kata-kata itu ikut merunduk, memohon ampun, merasa diri berdosa.

Tampilnya para solis lain, Fitri Muliati (sopran/mezzo sopran), Farman Purnama (tenor), dan Rainier Revireino (bas), di bagian-bagian lebih lanjut dari Missa Sancta ini membuat mahakarya yang lahir dari zaman peralihan klasik menuju romantik ini terasa sungguh amat indah.

Seperti Weber, banyak komponis besar juga ikut menciptakan ordinarium untuk misa suci bagi Gereja Katolik. Ordinarium yang diciptakan pun umumnya lengkap, dari Kyrie, Gloria, Credo, Sanctus-Benedictus, dan Agnus Dei. Khusus untuk Credo yang oleh Gereja Katolik di sejumlah tempat kini jarang dinyanyikan, oleh OEK dan BMS justru dibawakan dengan amat sangat bagus. Begitu pula Offertorium (persembahan) yang dalam karya ini dimaksudkan oleh Weber sebagai pujian, penghormatan kepada Tuhan atas pemahkotaan (coronation).

Bertaraf internasional

Hadirnya Avip Priatna menjadi konduktor di OEK dan tampilnya BMS diiringi kelompok orkes ternama dan di tempat bergengsi segera saja mengukuhkan kelompok ini bertaraf internasional. Memang, sejak tahun 2001, BMS memasuki dunia paduan suara internasional dan sering memenangi berbagai kompetisi di Tours, Perancis; diundang dalam Festival Paduan Suara Polyfollia di Normandia, Perancis; dan tampil dalam Festival Paduan Suara Internasional di Taipei.

Keterlibatan Avip Priatna dan BMS dengan OEK sebenarnya sudah terjadi sejak Oktober 2006. Saat itu, sekaligus untuk merayakan 250 tahun Mozart, kelompok yang terdiri atas kaum muda berbakat ini tampil bersama di National University of Singapore University Cultural Center Hall (23/10/2006) dan di Macau International Music Festival St Dominic’s Church (25/10/2006).

"Konser di Kanazawa merupakan kali ketiga saya menjadi dirigen untuk OEK. Yang pertama dan kedua di Singapura dan Macau itu," tutur Avip.

Tentang keberhasilan dan menanjaknya nama OEK, tidak lepas dari usaha gigih musikus Jepang bertaraf internasional. Dibangun tahun 1988, OEK sejak awal memang dirancang untuk menjadi sebuah orkes dengan anggota dari berbagai negara meski sebagian besar terdiri atas musisi Jepang.

Atas perjuangan Hiroyuki Iwaki pula, nama Orchestra Ensemble Kanazawa meningkat. Begitu pula nama gedung konser Ishikawa Ongakudo yang semakin mencuat dengan seringnya para musisi terkenal dari seluruh dunia hadir dan bermain di situ.

Untuk meningkatkan interpretasi para musisi Jepang yang tergabung dalam OEK saat memainkan karya-karya klasik, pihak manajemen tak segan-segan mengontrak sejumlah pemain asing, bahkan mengundang musisi dan dirigen tamu bertaraf dunia.

Misalnya saja, ada James DePreist, Dmitrj Kitajenko, Jean-Pierre Wallez, Salvatore Accardo, Mario Brunello, dan dalam waktu dekat menampilkan Jose Carreras, penyanyi tenor yang kian kondang karena tergabung dalam The Three Tenors bersama Luciano Pavarotti dan Placido Dominggo. Maka, jadilah OEK sebagai salah satu kelompok musik klasik bergengsi di Jepang.

Terima kasih Avip, terima kasih BMS. (Tonny D Widiastono, dari Kanazawa, Jepang)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...