Thursday, August 16, 2007

Asian Youth Choir 2007, Anak Muda yang Membanggakan

ASIAN Youth Choir 2007
Anak Muda yang Membanggakan

(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/10/Musik/3752920.htm)

Sungguh luar biasa. Itulah kesan pertama saat menyaksikan pergelaran ASIAN Youth Choir atau AYC 2007 di Gedung Serba Guna Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, pada 27 Juli dan Usmar Ismail Hall, Jakarta, Minggu (29/7).

Kekaguman itu tidak mengada-ada. Pujian pantas diberikan kepada 30 pemuda-pemudi anggota AYC 2007, tidak hanya karena prestasi yang mereka capai, tetapi juga usaha yang mereka lakukan. Waktu persiapan yang begitu singkat, repertoar kelas dunia, anggota yang berasal dari beberapa negara di kawasan Asia, dan kendala bahasa dalam repertoar tentu bukan perkara mudah untuk mewujudkan sebuah paduan suara yang bagus.

Bisa dibayangkan, waktu yang tersedia untuk latihan hanya tiga hari. Malam sebelumnya, anggota yang sudah lolos audisi dan berasal dari Jepang, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia itu baru berkumpul, esok harinya mereka sudah dipacu untuk berlatih empat kali sehari, masing-masing dua jam. Pelatihan yang ekstra keras ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Anggota AYC 2007 kali ini memang "kurang lengkap" karena Rusia, China, Taiwan, India, Korea Selatan, dan Malaysia tidak menyertakan delegasinya.

"Tentu saja melelahkan. Akan tetapi, apa boleh buat, waktu yang tersedia hanya itu. Idealnya ya diperlukan waktu sekitar satu minggu," tutur Widiana Hartanthi, Project Manager AYC 2007.

Ivan dan Budi

Programa untuk pergelaran di Bandung dan Jakarta memang dibuat sama. Pergelaran diawali dengan menyuguhkan Kyrie yang merupakan cuplikan dari Missa Papae Marcelli (Misa Paus Marcellus) karya Giovanni Pierluigi da Palestrina. Karya dari abad ke-16 dengan gaya contrapunkt ini membuat komposisi dengan enam suara itu mampu membawa penonton larut dalam suasana doa. Suasana inilah yang ingin dipertahankan dengan suguhan kedua, Stabat Mater, juga karya Palestrina, disusul Ubi Caritas karya Stephen Caracciolo.

Masih dalam suasana doa, yang menarik dari bagian pertama konser AYC 2007 ini adalah ditampilkannya karya putra bangsa, Ivan Yohan, berjudul Ave Maria. Ivan Yohan yang banyak bergiat di Cantabile Sanggar Paduan Suara-Bandung sengaja menciptakan karya ini dengan tingkat kesulitan tinggi. Arahnya, komposisi ini diharapkan mampu berdiri sejajar dengan karya-karya klasik dari mancanegara. Alhasil, lagu Ave Maria ini ikut membangun suasana. Akhir babak pertama disuguhkan Benedic anima mea Domino, karya Jaako Mäntyjärvi.

Babak kedua, sengaja disuguhkan karya-karya "profan". Diawali dengan Rain Chant karya Murray Schafer, disusul Läksin mina kesäyönä käymään (As I set off me summernight) karya Leevi Madetoja, Two unaccompanied Part Songs karya Frederik Delius dan Dubbin’s Flowery Vale karya Matti Kallio. Yang juga menarik dari babak kedua ini adalah ditampilkannya karya Budi Susanto Yohanes, Gai Bintang, sebuah lagu Madura yang berarti menggapai bintang. Budi Susanto sendiri selama ini tinggal di Malang dan sengaja membuat repertoar yang memiliki tingkat kesulitan tertentu untuk bisa disertakan dalam perhelatan kali ini.

"Saya senang karya saya bisa ikut ditampilkan dalam kesempatan ini," tutur Budi susanto seusai pergelaran di Bandung.

Bagaimana pun juga, kehadiran karya Ivan dan Budi dalam percaturan repertoar yang mendunia ikut membuat kita semua bangga.

Kiprah Indonesia

Atas AYC 2007, Indonesia pantas bersyukur. Inilah untuk pertama kali AYC diselenggarakan di luar Jepang dan yang dipilih adalah Indonesia. Pemilihan Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan AYC 2007 tentu didasari kiprah negeri yang belum terbebas dari krisis ini dalam bidang paduan suara di tingkat internasional. Ini terbukti dengan makin banyaknya paduan suara dari Indonesia yang berhasil mengukir prestasi di ajang kompetisi internasional.

Awalnya, Asian Youth Choir (AYC) dibentuk pada tahun 1998 di Kota Niigata, Jepang. AYC dimaksudkan sebagai bagian Asia Culture Day. AYC sendiri merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun dan hingga kini sudah dilakukan lima kali di Jepang. Para penyanyi yang tergabung dalam AYC merupakan para penyanyi yang berusia 18-30 tahun dan berasal dari negara-negara Asia, yaitu Jepang, India, Rusia, China, Taiwan, Philipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan Indonesia.

Sejak awal, kegiatan AYC selalu berupa Music Camp dan konser-konser. Tahun 2000, mereka tampil dalam ASIAN Music Week di Yokohama.

Kepastian penyelenggaraan AYC 2007 di Bandung, Indonesia, muncul saat Batavia Madrigal Singers (BMS) mengadakan tur konser di Jepang akhir Juni lalu. Ivan Yohan dan Widiana Hartanthi adalah anggota BMS.

Jerih payah yang sudah dilakukan oleh anak-anak muda ini amat sangat menggembirakan dan membanggakan. (tonny d widiastono)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...