Wednesday, December 31, 2008

I Won't Say (I'm in Love)

Di akhir tahun ini, ketika semua org sedang sibuk dengan berbagai perayaan, gw malah lagi autis sm perasaan gw sendiri. Tiba2 (walopun kata Mas Danny dosen gw, no such things as "tiba2) saja terjadi sesuatu yg bikin perasaan gw amburadul (spt kata Ikang Fawzi - kalo gak salah).

Kaget bgt. I havent had this such a feeling since...forever?? Haha, lebayyy! Pokoknya udah lama bgt dehh. Gw udah lupa kpn. Mungkin juga cm sesaat. Who knows? All I know is, just enjoy it! Walopun rasanya ternyata gak enak bgt!

I think I fall for the wrong guy. It doesn't supposed to be this way. I was soo sure that he wasn't a type of guy that I would be fall for! But in the end, it turned out to be the opposite. :-( He's way much better in the inside!
Oh noo!
Try to deny it, but I can't. Reminds me of one of the OST of Hercules from Disney. Check it out...

[Meg:]
If there's a price for rotten judgement
I guess I've already won that
No man is worth the aggravation
That's ancient history, been there, done that!

[Muses:]
Who'd'ya think you're kiddin'
He's the earth and heaven to you
Try to keep it hidden
Honey, we can see right through you
Girl, ya can't conceal it
We know how ya feel
And who you're thinking of

[Meg:]
No chance, no way
I won't say it, no, no

[Muses:]
You swoon, you sigh
Why deny it, uh-oh

[Meg:]
It's too cliche
I won't say I'm in love

I thought my heard had learned its lesson
It feels so good when you start out
My head is screming get a grip, girl
Unless you're dying to cry your heart out
Oh..

[Muses:]
You keep on denying
Who you are and how you're feeling
Baby, we're not buying
Hon, we saw ya hit the ceiling
Face it like a grown-up
When ya gonna own up
That ya got, got, got it bad

[Meg:]
No chance, no way
I won't say it, no, no

[Muses:]
Give up, give in
Check the grin you're in love

[Meg:]
This scene won't play
I won't say I'm in love

[Muses:]
You're doin flips read our lips
You're in love

[Meg:]
You're way off base
I won't say it
Get off my case
I won't say it

[Muses:]
Girl, don't be proud
It's O.K. you're in love

[Meg:]
Oh
At least out loud
I won't say I'm in love

Will It Get Better?

Entah kenapa, lately masalah tangan kanan gw lg suka terangkat ke permukaan. Diawali dgn pengulangan cerita asal muasal cacatnya tangan gue kepada salah seorang teman yg baru pertama kali melihat gue bermain piano.
Kembali lagi gw diingatkan dgn fakta bhw lambat laun kondisi tangan kanan gw bbrp thn terakhir ini semakin buruk saja.

Malam itu gw salah tidur. Posisi gw terlalu lama miring ke kanan, sehingga pundak kanan gw terlalu lama tertindih badan. Jadilah seharian pundak gw sakit.
Akhirnya mlm itu ortu menyarankan gw memakai sbh alat kesehatan yg sdh dibeli bokap d rmh. Selama ini gw sdh disuruh, tp gw mmg males make alat2 begituan. Tp hari itu gw tergerak utk pake. Sbnrnya krn mengingat kondisi tangan gw yg smkn buruk itulah yg menyebabkan gw mau mencoba alat itu.

Alat sederhana. Sebuah mesin yg mengalirkan listrik ke tubuh lewat telapak kaki dan bbrp buah kabel yg ditempel ke tubuh. Kata ortu gw, alat smcm ini jugalah yg digunakan dalam fisioterapi yg rutin gw jalani semasa gw kecil. Jadi hal tsb menambah keyakinan mereka bhw tidak ada salahnya mencoba alat ini.

And it worked! Gw baru memakai alat itu bbrp kali, dan tangan kanan gw terasa sedikit "hidup". Terutama jari jempol dan telunjuk gw yg sudah hampir mati rasa.

Gw masih ingat respon sorg tmn yg sorg dokter ketika gw bertanya ttg saraf yg rusak. Dia gak yakin saraf gw rusak. Katanya saraf rusak kalo sudah mati rasa. Dia pikir kondisi gw gak sampe sebegitunya. Masih inget responnya yg gak bisa ngasi penghiburan apa2 ketika gw blg dr kecil jempol gw mmg nyaris mati rasa dan bbrp thn terakhir telunjuk gw pun mulai mengikuti jejaknya, hehe.

Oh ya. Buat yg gak tau sejarahnya. I was born over-weight. For about 4.5 kg. Gw sulit sekali dikeluarkan dr perut nyokap. Saat itu kondisi kritis. Sudah tercetus bhw hrs dipilih, selamatkan nyokap ato gue. Thank God, I was survived, tp tangan kanan gue terkilir ketika proses persalinan. Jadilah saraf gw di pundak terjepit tulang. Akibatnya, gerakan tangan kanan gw terbatas sekali dan pertumbuhan pun terganggu. Tp untung sewaktu kecil ortu rajin bawa gw terapi, kalo gak tangan gw bisa gak tumbuh, tetep sebesar tangan bayi. Pengobatan demi pengobatan kami jalanin, mulai dr yg murah sampe yg mahal, mulai dr yg less painfull sampe yg sakit gilaaa, dan semuanya membawa ke kondisi yg semakin baik, walaupun hanya sedikit.

Hmm, cukup byk pengalaman buruk yg gw alami sjk kecil sehubungan dgn kekurangan gw yg satu ini. Tp gak terlalu membekas kok. Gw malah masih bersyukur bgt masih bisa bermain piano dgn cukup baik (walopun terbatas kalo udah susah2 bgt) dan mengendarai mobil dgn baik pula (tanya tmn2 gw kalo gak percaya, hehe), dua kegiatan yg sounds impossible dilakukan dengan 1 tangan cacat.

But it's kinda make me worry ketika bbrp thn belakangan kondisinya agak memburuk. Sedikit byk mungkin krn gw semakin jarang main piano. Gw mmg belajar piano selama 10 thn lebih. Thn 2003 yg lalu gw berhasil menyelesaikan studi gw di Yayasan Pendidikan Musik hingggal lulus Persiapan Konservatorium III. Stlh itu, tangan kanan gw smkn jarang digunakan. I guess that's why. No wonder it would be that obvious.

Well, I do sometimes feel sad. Apalagi ketika gw mau melakukan kegiatan kecil yg simpel, dan gw gak bisa. Kinda worry I wouldnt be able to do certain things. Salah satunya mungkin simple thing spt menggendong anak gw sendiri di masa yg akan datang?
I was so sure that my body will cope the situation. Hope it will....

Friday, December 26, 2008

Gigit Bibir!

Bibir kegigit tepatnya! Dimulai dr malam natal kemaren, di mana terjadi gigitan pertama. Hingga saat ini ntah udah brp kali bibir gue kegigit di tempat yang sama! Sangat mengganggu!

Hmm, ada apa yaa? :p

Notes : Bibir tergigit oleh diri sendiri ya, bukan orang lain. :p

Wednesday, December 17, 2008

Christmas Isn't Christmas....

"Christmas isn't Christmas,
till it happens in your heart.
Somewhere deep inside you,
is where Christmas really starts.

So give your heart to Jesus,
you'll discover when you do.
That it's Christmas,
really Christmas for you."

How 'bout you?
Has it happened in your heart?

Tuesday, December 16, 2008

Hati2 Penipuan dengan Modal Marga!!

Saya tergerak untuk berbagi pengalaman, terutama kepada saudara2 saya yang berasal dari suku Batak. Saya nggak rela kalau semakin banyak korban dari jenis penipuan ini. Kejadian ini saya alami bbrp waktu yg lalu. Dlm waktu singkat saya sudah menemukan bbrp pengalaman serupa dengan modus operandi yang serupa. Ada yang sudah kena, ada yg gagal kena, ada yang sedikiiitt lagi kena. Ada modusnya berbeda, ada yg mirip, ada yang sama persiss!

Bbrp hari yg lalu orang tua saya menerima telepon dari seorang pria yang mengaku seorang "kerabat". Ia memperkenalkan diri dengan menyebutkan beberapa saudaranya yg kemungkinan adalah saudara dari kami juga. Walaupun orang tua saya belum mendapati secara jelas status "persaudaraan" dengannya, namun orang tua saya tetap menanggapinya dengan baik, melihat betapa merasa akrabnya dia dengan mereka.

Ternyata lelaki itu mencari br. Tobing yg berumur 30-an di rumah kami, dengan tujuan ingin memperkenalkannya dengan salah satu kerabatnya dgn tujuan perjodohan. Laki2 yg ingin diperkenalkan itu seorang Dokter berumur 37 tahun, lama bekerja di Papua, pernah sekolah di Singapore. Mencari br. Tobing krn ompung borunya (nenek) juga br. Tobing. Dia juga menyarankan nantinya utk mengundang lelaki tsb ke rumah sebagai tahap lanjutan, spy saya dan "Dokter" tidak canggung. Nama laki2 itu Dr. Eduard Simanjuntak. Maaf kalau ada kesamaan nama. Salahin mereka yg menyalahgunakan nama itu, hehe.

Singkat cerita, walaupun sebelumnya sempat sedikit adu argumen dengan Mama, akhirnya saya berhasil ngobrol selama sekitar 15 menit dengan sang "Dokter" tersebut. Yg saya protes bukan "perkenalan"-nya. Yahh, memperluas networking dgn dikenalin oleh orang lain sih menurut saya nggak salah sama sekali. Tak ada yg tak mungkin tohh? Tapi yang menjadi masalah adalah karena orang tua saya sbnrnya belum tahu jelas siapa orang yg memperkenalkan tersebut. Mau tahu analisa yg saya dapatkan dari pembicaraan 15 menit tersebut? Ada bbrp point yg menarik perhatian saya.

* Dlm 30 detik pertama, cara bebicara sudah terdengar tidak sinkron dengan status pendidikannya. Tdnya saya berharap akan berbicara dgn manusia intelek (bukan berarti harus resmi, dll), tp pokoknya gaya komunikasinya nggak intelek banget deh. Jauh dari kesan orang telah mengenyam pendidikan tinggi, apalagi kedokteran.
* Sangat terlihat bahwa sepanjang pembicaraan dia sama sekali tidak berusaha mengenal saya lebih jauh, seperti layaknya orang yg memang berniat berkenalan. Sepanjang pembicaraan dia lebih fokus utk menciptakan image yg sempurna di mata saya (bahkan terlalu sempurna).
* Dia berusaha ciptakan image sbg Dokter sukses yang banyak pengalaman : lulus kedokteran Unpad, lalu PTT di Bali, lalu ambil Spesialis Bedah Syaraf di Singapore (5 thn), lalu kerja 8 thn di Irian, dan setelah ini dia akan mulai berkerja di RSCM. Hehe, coba itung deh. Kira2 mungkin nggak, secara umurnya 37?
* Dia berusaha ciptakan image sbg orang "berkecukupan" : bapak mantan orang Pajak, dan sudah beli rumah di Jkt. Pdhl kmrn ke Jakarta katanya cm buat perkenalan dgn org RSCM, tempat dia bekerja nantinya. Katanya belum pernah ke Jkt, tp kok ya cepat sekali dapet rumah? Sampe saya tanya ke dia, lewat siapa bisa nemu rumahnya? Agak heran, memang gampang apa beli rumah? Wong buat jalan2 aja Jkt kyknya lumayan ribet deh buat pendatang luar.
* Dia berusaha ciptakan image sbg "sebatang kara" : orang tua sudah meninggal keduanya, hanya punya 1 orang Kakak di Singapore. Sudah saya duga, nantinya status sebatang kara ini akan dipergunakan utk dapat memohon pertolongan di masa yg akan datang (dan ternyata memang benar!).
* Orang tua katanya dulunya di Pekanbaru. Memang menurut saya ini aman. Jika dia sebut di Jakarta atau Medan, pasti terjadi pembahasan lebih lanjut, mengingat dapat dipastikan saya pasti memiliki banyak kerabat di kedua tempat tersebut.
* Jika orang tua sudah di Pekanbaru, kemungkinan dia lahir tidak lagi di Sumut. Biasanya orang Batak kan merantau ketika masih lajang, bukannya setelah memiliki anak baru pindah kota. Yahh, bukannya ngak mungkin. Mungkin saja terjadi, misalnya krn urusan pekerjaan. Tp kan lebih banyak merantau ketika belum berkeluarga. Oke, berarti lahir tidak di Sumut, lalu kul di Bdg, PTT di Bali, sekolah ke S'pore, kerja di Papua, lalu kenapa logat Batak-nya masih kental sekali yaa?
* Mencari wanita 30-an sangatlah wajar, mengingat wanita (Batak) berusia 30-an scr emosional lebih mudah diombang-ambing urusan percintaan, apalagi kalau bukan dampak dorongan sosial yg menuntut utk segera berkeluarga. Tp walaupun saya bukan target pasarnya (alias belum 30), tp tetep masih di-"jajal" juga loh. Ckck...
* Tdnya saya berharap respon yg lebih dr dia ketika saya katakan bahwa kakak ipar saya juga br. Simanjuntak. Ehh, tau2nya responnya nggak excited sama sekali. Belakangan baru saya mengerti kenapa, hehe.
* Setiap kali digali lebih dalam, dia cenderung menghindar, dengan alasan "Sabar, masih panjang waktu kita. Besok2 lah kita ngobrol2 lagi." Hehe, kesannya aku ngebet banget kali ya. Pdhl yg ditanya juga nggak nyentuh urusan hati.

Akhirnya pembicaraan diakhiri dengan janji untuk menelepon lagi di keesokan harinya, ketika dia dalam perjalanan ke Jakata (katanya saat itu dia masih berada di Papua).

Keesokan paginya dia menelepon saya jam 8 pagi. Dia sukses membangunkan saya dari tidur. Saat yg tepat kalau mau melakukan penipuan. Otak belum loading dengan sukses . Tapi untung akal sehat masih dapat berjalan dengan baik. Saat itu ia menelpon karena keberangkatannya terancam gagal karena urusan BANK. Hmm, begitu dengar satu kata itu, saya sudah langsung yakin 99% bahwa ia berniat jahat.

Sejak kata itu disebut, saya sudah tidak mendengarkan penjelasannya dengan seksama lagi. Tapi kalau tidak salah, dia mengalami kesulitan membawa uangnya ke Jakarta. Di Papua katanya hanya ada bank BRI, sementara di Jkt BRI hanya menerima penarikan tunai sebanyak 5 jt per hari. Jumlah tersebut menurutnya sangat kurang, apalagi dia berniat menyicil mobil (hihi, detik terakhir masih aja sempet2nya naikin image). Katanya orang bank menyarankan untuk membawa seluruh uangnya dalam bentuk tunai, which is sangat tidak mungkin dan beresiko tinggi. So, katanya menurut orang bank satu2nya cara adalah dengan meminta tolong orang di Jkt untuk membukakan sebuah rekening baru, sehingga uang dapat dipindah secara transfer.

Nahh, minta tolonglah dia kepada saya untuk dibukakan rekening. Kalau tidak, dia menanyakan kepada saya apakah saya memiliki rekening yang kosong. Ketika saya sarankan untuk minta tolong kepada saudaranya yg lain, dia jawab bahwa kakaknya di Singapore, dan paling cepat 2 minggu baru bisa ngurus. Ketika saya sarankan utk meminta tolong saudaranya yg di Jkt, kembali dia menjawab dengan memelas bahwa dia tidak punya siapa2. Emang yg kmrn nelpon ke rumah siapa dong? Tp yah saya sudah malas bahas lebih jauh. Saya langsung tolak mentah2 dan jangan pernah meminta tolong urusan beginian ke saya.

So, akhir kata...saya mau bilang apa ya? Salah juga kalau menyarankan utk tidak membantu orang lain. Tp yg pasti, lebih berhati2 lah. Jangan lupakan logika. Jangan langsung lupa diri begitu mendegar "marga" ataupun hal2 subjektif lainnya. Jangan sampai perasaan kita disalahgunakan. Jangan pernah hilang kewaspadaan. Jangan langsung membuka pintu dan hati selebar2nya tanpa mempertimbangkan resiko yg mungkin terjadi.

Hidup memang semakin sulit. Segala cara dilakukan utk memperoleh uang. Sudah banyak penipuan yang diawali dengan mengaku "saudara". Secaraa, orang Batak...semuanya juga saudara, hehe. Yahh, lebih hati2 deh ya. Temen ada yg udah kena tipu 8 jt, plus perseteruan keluarga, krn dianggap salah satu keluarga (yg namanya disebut oleh si penelpon) ikut bersekongkol. Ada juga teman yg kena tipu 15 jt krn membantu "saudara"-nya.

Ada yg mau bantu menjerat? Agak gemes juga nih. ^_^

Thursday, December 11, 2008

Sentuhanmu....

Masih teringat hangat sentuhanmu
Masih terbayang hangat nafasmu
Masih terasa erat pelukmu
Masih tersimpan harum tubuhmu

Kecupan kecil di keningku menghangatkan hatiku
Bisikan kecil di telingaku menimbulkan desir di dadaku
Pelukmu mengenyahkan segala kesesakan
Keberadaanmu menenangkan jiwaku

Namun sayang,
Semua itu hanya mimpi....
Lenyap seketika ku membuka mata

Reality bites, 'eh?
Time to work!
Bye bye, sweet dreams!
Hope to see u soon! :p

How To Be "A Nice Girl"

Nice (english) adj : pleasant; agreeable

Nice : 1 baik; 2 baik/enak (of a meal); 3 senang; 4 menyenangkan; 5 bagus; 6 halus, renik (distinction)

No wonder kalo pengkategorian "nice" menjadi sangat subjektif.

Last night gue cukup terhenyak dgn respon sorg teman yg dgn spontan menilai sorg cewek dgn mengatakan, "What a nice girl."
Pdhl yg br dia dengar adlh hal yg sangat berbeda 180 drjt dgn gw. Wow, does that mean what I do is not "nice"??

Well, akhirnya gw drop lg, masih gara2 topik yg sm dgn Notes gw "Who Cares?! Well, Nobody!" Sekali lg gw spt dibuat spt org bodoh. Bahkan org yg berbuat kebalikan dr gw lah yg skrg masuk kategori "nice".

"Mungkin Tuhan memang gak mau lo begitu, Bi."
"Well, at least the Bible told you so, Dek."
Hehe, kalimat2 itu seharusnya bs menguatkan gw. Tp kalimat2 itu mulai jd hambar setiap kali gw membuka mata sm fakta di sekitar gw. Org2 terdekat gw aja nyaris udah gak ada yg mengkategorikan itu sbg "nice". Figur2 yg gw anggap bisa jd panutan pun trnyt melakukan hal yg sama. Temen2 gw yg, tdk spt gw, jauh lbh religius pun ternyata jg demikian. Udah kgk ada yg mikirin kalee.

Kejadian smlm sih gak terlalu berdampak sama idealisme gw. Krn mmg bkn itu yg dicari sm hati gw.
Tp dgn dihapusnya apa yg gw lakukan dr kategori "nice", well, berkurang lg deh daftar sisi positif gw. Just feel less precious afterwards....

Tuesday, December 09, 2008

Hati yang Terluka

Menyaksikan* sebuah penyiksaan membuat hatiku perih
Mengetahui ada orang yg menderita membuat jiwaku terluka
Jantungku pun berdebar dengan sangat kencangnya
Aliran darahku berpacu seiring dgn luapan emosiku

Suara2 itu memekakkan telingaku
Mengiris2 hatiku
Jeritan histeris seorang anak
Suara yang begitu memilukan

Suara drum di ruang sebelah tak mengapa
Suara TV tak akan membuyarkan konsentrasiku
Suara obrolan orang di sekitar jg tak akan mengganggu aktifitasku
Tapi suara itu.....

What kind of Mom is she?
Haruskah menjadi psikolog utk dpt memahami anak?
Haruskah menjadi guru utk tahu bagaimana mendidik anak?
Haruskah kehilangan sesuatu terlebih dahulu utk sadar akan rasa sayang yg dimiliki?

Kumaki dalam hati
Kumaki dengan mulut
Kurasakan kepedihannya
Dan kudoakan sepenuh hati

I hope the child would be okay...
May God bless his soul...
And he grows with a perfect heart...
No matter how hard life could be...

(* menyaksikan : Mendengar dengan telingaku, 9 Des 08, 5pm, dr jendela SMA St. Bellarminus; Jl. Lombok.)

Thursday, December 04, 2008

Dear, God, Please Help Him....

Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Detik2 berjalan dgn cepatnya. Jam demi jam berlalu. Hari berganti hari. Masa berganti masa.

Tanpa kita sadari, sudah btk yg kita alami selama hidup kita. Byk hal juga telah berubah.

Some people found kalau dunia sudah tak seindah dulu lagi. Bukan hanya untukku, terlebih lagi bagi someone that I care so much.

Entah kenapa, dunia semakin tidak bersahabat baginya. Cobaan datang silih berganti. Bahkan sesuatu yg awalnya dianggap sesuatu yg indah pun at the end it turns out to be a disaster.

Rasanya mau marahin dia. Pengen rasanya membuat dia berpikir bhw keputusannya dulu adlh salah. Hidup mmg penuh pilihan. Knp jg dia mesti memilih jln yg dia tempuh skrg?!?

Dear God, I really want him to be happy. I really want him to laugh as we used to.

Well, I know. Tantangan gak selalu datang tanpa alasan. Cobaan tidak selalu hanya membawa dampak negatif dlm hidup qta. Aku tahu, ada hal indah di balik semua itu. He might turn out to be a better person afterwards (he aldready is). Tapii, tetep dada gue ikut sesak ketika dia sedang dlm kesusahan.

At this time, behind his laugh, he's facing something big. It's already started, and I know it'll get worse day after day, year after year.

I think it's normal if I wish he'd stay out of trouble. I want him to laugh and happy as he used to. Tapi, kyknya itu bkn hal yg tepat.
So I think it's better praying for him, wishing God would give him strength and wisdom in his hard times.

Dear, God, please help him....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...