Friday, December 25, 2009

Harmoni Indah....

Ketika hati sudah tertutup, Ketika tak ada lagi saling pengertian, Ketika tak ada lagi yang mau mengalah, Harmoni indah itu hilang… Aku terlalu lelah untuk ini. Tidak malam ini. Spiritku sudah hilang. Maafkan aku. Kali ini… Biarkan aku menutup telingaku. Membuat harmoni yang indah di kepalaku. Dan terlelap dalam imajinasiku.

Be Grateful in Our Imperfections....


Kaki gue terhenti ketika ngelewatin hall kecil milik XXI Plasa Indonesia yang sedang memutar Christmas Concert-nya Andrea Bocelli. Tanpa gue sadari, kedua ujung bibir gue melebar membentuk sebuah senyum bahagia, dan pupil mata gue membesar dan berbinar. How I’m feeling blessed by the orchestra sound, the choir voice, and moreover, the Bocelli’s voice, singing the beautiful Christmas songs. Hati gue rasanya suejuuukk, hihi.

Lebih jauh lagi, gue kembali terkagum melihat sosok Bocelli, salah seorang penyanyi Tenor paling well-known di dunia ini yang telah kehilangan kemampuan melihat-nya sejak ia berusia 12 tahun. Gue denger2 sih memang kemungkinan kebutaannya tersebut sudah diketahui sejak dini, makanya ibu-nya pun meng-encourage dia untuk memanfaatkan waktu yg ada, belajar sebanyak mungkin, sebelum waktunya “tiba”. *glek* Seseorang dengan memiliki “kekurangan” di hal yg cukup primer seperti dia saja bisa mencapai titik itu? Perjuangan yg patut ditiru! Very inspiring!


Setelah itu, kaki gue terpaksa gue langkahkan kembali, krn film-nya udah mau mulai. Film yg berjudul “Lourdes”. Ohh, ntah film apa ituu. Kehabisan tiket, jd nonton film apa pun yg bisa deh. Berharap film yg berbau rohani ini cukup member inspirasi menjelang natal ini. Ternyata film-nya tentang seorang wanita cacat yang hidupnya benar2 tergantung pada orang lain. Dia hanya bisa terduduk di kursi roda tanpa mampu menggerakkannya, krn tangannya pun lumpuh. Ide ceritanya sih lumayan, cuma kemasan film-nya jelek bgt. Alurnya pun lambat luar biasa. Tp ada beberapa kutipan yg menarik dr film itu.

Ketika sorg wanita bertanya kepada pastor, apakah benar mungkin terjadi mujizat di Lourdes situ, dan fisik seseorang menjadi sembuh, sang pastor menjawab, “Our soul have to be healed first, then our body will.” Hmm, bener juga. Pertama2 hati kita harus bisa menerima kekurangan kita, maka semuanya pasti akan terasa lebih “mudah”.
Lalu suatu ketika sang wanita cacat tersebut mengungkapkan kemarahannya, bahwa terkadang ia sering merasa iri terhadap orang lain yg tidak memiliki kekurangan seperti yg dia miliki. Terkadang ia bertanya, “Why me?!” Kenapa bukan orang lain yang mengalaminya? Dia berharap bisa memiliki kehidupan “normal” seperti yang lainnya. Dengan santainya sang pastor menjawab bahwa “There’s no such thing called ‘normal life’. God create lives differs each other. Each one is unique. Nothing is better than the others.” *glek*


Yep, nobody’s perfect. No life is “perfect” or “normal”. Each of us has our own imperfections in life. Don’t get jealous. Don’t whine. Don’t judge urself less-lucky than the others. Don’t give up with the imperfections. Live with it! Fight with it! Then let God do the rest.

Merry Christmas, all… ^_^

Tuesday, December 22, 2009

Freelancer = Cannot Be Trusted ?

Pagi ini lagi2 gue gagal dlm meloloskan aplikasi sebuah kartu kredit. Kecewa? Nggak. Kesel? Lumayan. Gemes? Ho’oh! Bukan krn gagal dapetin kartu kredit! Tp lebih krn merasa “tidak dipercaya” untuk punya kartu kredit. Sbnrnya gue sih tidak pernah dengan sengaja mengisi aplikasi2 tersebut. Memang basically tukang jualan kartu kredit bertebaran di mana tohh. Apalagi via telpon. Haha, ngejar2 gue ngisi aplikasi aja udah kyk ngejar artis, krn selain nelponnya selalu pas jam kerja gue (mana nggak pernah nanya apakah telpon mereka mengganggu aktivitas kita apa nggak!), gue pun udah males2an, krn tau pasti bakal ditolak, hihi. Satu2nya alasan gue masih mau bantu ngasi data2 buat ngisi aplikasi yah semata2 buat ngebantuin si marketing kartu kredit lah. Lumayan kan buat nambah2in point-nya dia. Tp itu juga kalo timingnya pas yaa!

Lagi2 gue berpikir, woow, kasihan sekali kami2 yang tidak punya “slip gaji” yaa? Dianggap unsecure? Dianggap kemampuan finansialnya tidak mencukupi? Wiihh, harga diri, cyynnnn! I think I’m secure enough. Cuma memang gue tidak hanya bekerja pada satu “boss”, hidup dari satu slip gaji, sehingga penghasilan total gue dapat dipantau secara jelas. Hmm, slip gaji yg diharapkan ya? Sementara yg punya slip gaji aja kalo urusan aplikasi2 begini juga suka bohong2in toh. Kalo mau bohong, gue bisa aja bohong. Pura2 aja punya slip gaji (ternyata byk juga yah yg suka begitu). Ehh, nggak bisa ding! Huhh, kalo lagi kyk gini2 nih gue sebel dengan ketidakmampuan gue untuk berbohong! Haha!

Oh well, whatever lah. Memang sih gue agak tergiur sama fasilitas2 yg bisa diperoleh oleh orang2 dengan adanya kartu kredit. Kalo promo2 siihh, hmm….nggak terlalu kyknya. Gw masih cukup conscious untuk mengontrol jiwa konsumtif gue. Jd kyknya promo2 itu gak akan terlalu membutakan gue. Ohh, kecuali promo2 yg berhubungan dengan MOVIE yaa! Hahaaa! Bisa2 khilaf! Pheww, gak punya kartu kredit aja pola nonton gue gila2an! HAhaa! Sooo, no credit card, no problem! Gue masih bisa survive tanpa kartu kredit. I still know how to manage my money tanpa harus “berhutang”. Gw pun belon perlu merasa harus berbohong untuk bisa dapetin kartu2 itu. They think I’m unsecure?? Be my guest. At least I know I'm not. :-)

Saturday, December 12, 2009

AADC's Poem

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau, pekat!

Seperti berjelaga jika aku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh

Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
Biar terderah,
atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

("Tentang Seseorang" from OST of "Ada Apa Dengan Cinta")

Monday, December 07, 2009

Be Strong....


I can hear your voice trembling. I can see your eyes full of sadness. The tears could fall anytime. You could pretend to be strong. But you can’t fool me. I can feel how heavy this is to you. I know this is a difficult situation for you. For him. For them. For Us. You can not blame the “fate”. Everything that happens is caused by something, and, big or small, you’re taking part of it. Reminds me of the “you reap what you sow” law. I thought I’d be able to say “See, I’ve told you”. But I can’t. I wish we were that attached that I can move my feet, open my arms, and give you a hug. Now, all I can do is giving you the encouragement, the ideas, and the prayer that God would help us through this.

Be strong, #### ……..

Thursday, November 19, 2009

"Take a Chance on Me" by ABBA

Ohh, jeritan hatikuu. Please, change ur mind and take a chance on me, boy! Mudah2an orangnya sadar, tanpa harus di-tag! :p

If you change your mind, I'm the first in line
Honey I'm still free
Take a chance on me
If you need me, let me know, gonna be around
If you've got no place to go, if you're feeling down
If you're all alone when the pretty birds have flown
Honey I'm still free
Take a chance on me
Gonna do my very best and it ain't no lie
If you put me to the test, if you let me try

Take a chance on me
(That's all I ask of you honey)
Take a chance on me

We can go dancing, we can go walking, as long as we're together
Listen to some music, maybe just talking, get to know you better
'Cos you know I've got
So much that I wanna do, when I dream I'm alone with you
It's magic
You want me to leave it there, afraid of a love affair
But I think you know
That I can't let go

If you change your mind, I'm the first in line
Honey I'm still free
Take a chance on me
If you need me, let me know, gonna be around
If you've got no place to go, if you're feeling down
If you're all alone when the pretty birds have flown
Honey I'm still free
Take a chance on me
Gonna do my very best and it ain't no lie
If you put me to the test, if you let me try

Take a chance on me
(Come on, give me a break will you?)
Take a chance on me
Oh you can take your time baby, I'm in no hurry, know I'm gonna get you
You don't wanna hurt me, baby don't worry, I ain't gonna let you
Let me tell you now
My love is strong enough to last when things are rough
It's magic
You say that I waste my time but I can't get you off my mind
No I can't let go
'Cos I love you so

If you change your mind, I'm the first in line
Honey I'm still free
Take a chance on me
If you need me, let me know, gonna be around
If you've got no place to go, if you're feeling down
If you're all alone when the pretty birds have flown
Honey I'm still free
Take a chance on me
Gonna do my very best, baby can't you see
Gotta put me to the test, take a chance on me
(Take a chance, take a chance, take a chance on me)

Ba ba ba ba baa, ba ba ba ba baa
Honey I'm still free
Take a chance on me
Gonna do my very best, baby can't you see
Gotta put me to the test, take a chance on me
(Take a chance, take a chance, take a chance on me)

Ba ba ba ba baa, ba ba ba ba baa ba-ba
Honey I'm still free
Take a chance on me

[fade]

Monday, November 16, 2009

My Birthday Wish List....

It's about a week to my 29th birthday. Time for another birthday wish list!
I would give some opportunity for everyone to make me even moorree happy on my upcoming birthday. How? Well, maybe you could pick one of the things listed below. Hehe...

1. Apple MacBook Air
2. Handyccam (JVC Everio MS120 or Sony HDR-SR12 is nice)
3. Yamaha Keyboard PSR S900
4. Digital Metronome
5. 1 year Dance Club Membership (Khatak Dance, Belly Dance, Salsa, anything!)
6. 1 year Fitness Membership
7. 1 million (or more) shopping voucher
8. Vocal Quintet Jazz Music Sheet
9. Full Orchestration Worship Music Sheet
10. Jazz Music CD
11. Feminine shoes sized 43
12. SK II Skincare Products
13. Be Delicious by DKNY Perfume Spray (the green one) 100 ml
14. A romantic dinner (ehh?)
15. A bottle of Baileys! Hmm! *slurp*
16. Female puppy.
17. A boyfriend (desperately in need!)
18. a PRAY for me

Make me happier! :D

Wednesday, November 04, 2009

Restu Ibu...

Walopun judul Notes ini terdengar seperti tulisan2 di belakang truk antarkota, but, believe me, I’m trying to write something deep here, hehe.

Tadi pagi, seperti biasa, gue mendengarkan Cosmopolitan FM dalam perjalanan menuju tempat kerja. Di Breakfast Club tadi pagi membahas tentang konflik antara orang tua dengan anak. Kasus yang cukup lama dibahas adlh kasus salah seorang cosmoners yang bernama Irna. Ia nekat menikahi seorang pria tanpa persetujuan orang tuanya. Entah apa alasan selengkapnya, tapi keberatan terbesar dari orang tuanya sepertinya karena usia lelaki tersebut yang jauh lebih muda daripada dia, yaitu 9 tahun lebih muda. Orang tuanya pun tidak menghadiri pernikahannya. Hingga beberapa tahun yang lalu, ia pindah ke Singapore bersama suaminya. Ia berusaha mengabari orang tuanya mengenai kepindahannya tersebut, tetapi tidak ada respon. Hingga beberapa saat yang lalu, ia berkunjung ke Jakarta, dan mendatangi rumah orang tuanya. Namun ia mendapati rumahnya kosong tak berpenghuni. Saat itu dia mendapati bahwa seluruh keluarganya telah pindah rumah 3 tahun yang lalu. Lebih dari itu…ternyata ibunya telah meninggal dunia 2 tahun yang lalu, dan ia tidak mendapat kabar mengenai hal tersebut.

Pagi tadi, BFC berusaha menghubungi ayah Irna. Hasil pembicaraan pertama, sang ayah hanya berkata sedikit, “Saya tidak mempunyai anak bernama Irna”. Hasil pembicaraan kedua, sang ayah tidak berkata apapun, namun Irna sendiri yang mengutarakan permintaan maafnya, dan berharap mereka dapat berhubungan baik kembali, seperti halnya sebuah keluarga.

Ohhh, betapa berat yaa menyatukan pandangan antara anak dan orang tua. Banyaaakk banget hal yang bisa menjadi konflik. Ketika mendengar kisah di atas, otak gue langsung muter kerass. Selama ini gue yakinn sekali bahwa gue akan bisa meyakinkan orang tua gue atas pasangan pilihan gue. Entah kenapa, dari dulu gue yakin sekali sepertinya pilihan gue bukanlah lelaki yang diharapkan orang tua gue (Batak-Kristen-Indonesia).
Gue orang yang sangat menghargai perbedaan. Gue bahkan merasa yakin bahwa gue bisa hidup dengan bahagia dalam perbedaan suku, agama, bahkan ras. Perbedaan suku buat gue sama sekali “gak penting”, dan tidak akan menjadi masalah. Dengan catatan, tidak ada orang2 di sekitar yang juga menjadikannya masalah. Selama ini gue yakinnnn seyakin2nya bahwa gue akan bisa menjelaskan pandangan gue itu kepada orang tua gue. Krn toh byk hal yang sebenarnya sangat penting buat orang lain, tp buat kita itu bukanlah hal besar. So, sangat mungkin bahwa hal yang menurut orang lain adalah masalah, buat kita bukanlah masalah.

Gue keras kepala? Mungkin. Selama ini pun di rumah gue dikenal dgn anak yang keras kepala. Buat gue, urusan pasangan hidup, semutlak2nya adlh pilihan gue. Tentu saja dengan juga mempertimbangkan hubungan baik dengan orang tua. Orang tua mnrt gue hanya sejauh memberi pertimbangan. Keputusan akhir tetap di tangan anak. Orang tua gue sih dr dulu juga sudah bilang kalo pilihan pasangan hidup lebih besar di tangan anak. Mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi, apalagi sampai mengorbankan kebahagian kami anak2nya yang masih akan menjalani hidup yang panjang.

Sejak dulu sih mereka sudah bilang begitu. Tapi sepertinya, dr kalimat2 yang mereka sampaikan dalam keseharian, dari harapan2 yang terungkap dari mereka, dari komentar2 spontan yang gue tangkep, gue tetep merasa itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika mendengar kejadian tadi pagi di radio. Gue semakin merasa tugas gue akan berat. Haha, belon tentu juga sihh gue akan dapet yg bukanorang Batak, orang Kristen, bahkan sepertinya bukan orang Indonesia, tapi berdasarkan pengamatan sih 80% kemungkinan gue akan mendapat pasangan di Batak-Kristen-Indonesia itu deh. Hmm, I hope I’m not too stubborn.

Friday, October 23, 2009

Relationship Status "It's Complicated"

Lagi menerka2 mostly alasan orang taro status "It's Complicated" apa ya? (Ayoo, ngacung yang pake status begituu, hehe!).
1. Punya pacar, tp hubungan lagi gantung alias nggak jelas,
2. Udah putus, tp masing sayang alias arep2 balik lagi,
3. Kebalikannya, belon jadi, tapi udah hampir2 kena,
4. Pacar nggak ada, tp adanya HTS,
5. In a relationship, tp relationship yang "bahaya", misalnya : beda suku, beda agama, beda jenis kelamin (ehh, yg ini malah normal ya?), hmm....maksudnya jenis kelaminnya sama, so sulit untuk di-publish (takut dapet penolakan dr lingkungan).
So, kira2 alasan kalian yang mana kalo kalian nulis status begitu? :D

NB : Jgn ditanya urgensi dr topik ini, krn gue sndr nggak tau arahnya ke mana.... *sigh*

Wednesday, September 16, 2009

Encouragement! (thru' my longest status comment ever :p)

Christine 'Obi' Tobing kembali mendengarkan saran dr ortu untuk kerja kantor. Ohh, gmn gak berat kaki ini melangkahh! Againn, need some brainstorming! Ngantor dan bermusik? Mungkinkah??
Yesterday at 12:20am · Comment · Like

Albert Tan
mungkin bi..g jg gitu kq...hahhaha
Yesterday at 12:21am · Delete

Yoseph Christianto
kalo menurut gua mah jangan ngantor deh bi, gimana kalo coba kuliah musik di eropa, toh lu udah ada modal bisa maen alat musik n nyanyi
Yesterday at 12:22am · Delete

Albert Tan
ortu mst didengerin tp ga hrs dilakuin kan bi?hahahaha....
hajar aj bleh..yg pening earn much money and he most important, u happy with ur job right now
Yesterday at 12:25am · Delete

Arni Purba
musti milih bi...ntar terlalu banyak conflict interestnya kaya gue hehehe..bener kata yoseph u already have the skill just go on,,biasa ortu pasti pengen yg terbaik dan stabil dan mungkin gaya hidup yg teratur kali yah klo di kantorna sementara dunia ini hmmm u know deh...:) so follow ur heart aja,..:-)
Yesterday at 12:26am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Bet, gw gak mau bermusik cuma "sekedarnya". Gw enjoy bgt.

Cep, terus kalo udah kuliah musik? Di sini jadi apa?
Yesterday at 12:27am · Delete


Christine 'Obi' Tobing
Dosma! Elo contoh yg yg tepat! Buat lo, adakah hal yg sulit lo raih dlm bermusik shubungan dgn karir lo di bidang lain?
Yesterday at 12:31am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Albert, tenang, keputusan ada di tangan gue kok. Skrg cm cari pertimbangan. Monyett, dr dulu menimbang2 muluuu!
Yesterday at 12:35am · Delete

Arni Purba
hmm yah mungkin bi di satu sisi gue pribadi masih ada sisi idealis dengan karir gue masih punya angan dnegan profesi yg dijalanin, tapi gak ge pungkirin musik juga udah jadi nyawa gue juga:-) saat ini yg sulit adalah gue kurang bisa main alat musik heheh so just be a singer lah yah akhirnya musti setengah sana sini jalaninnya tadinya mo les alat musik tapi ga kesapean mlulu (jadi curhat deh)hihih,padahal kadang pengen fokus juga...
Yesterday at 12:35am · Delete

Yoseph Christianto
bi, "Cep, terus kalo udah kuliah musik? Di sini jadi apa?" --> pertanyaan lu yg ini kayanya gak perlu gua jawab x ya, lu udah melihat beberapa contoh bukan? they suceed as a musician....
don't live anybody else dreams, live your own dreams or u'll regret it
Yesterday at 12:35am · Delete

Arni Purba
klo mo mencoba silahkan aja sih bi, ga ada salahnya supaya mungkin elo ga penasaran??tapi klo emang enggak juga yah go on with ur way now..tinggal kembangin aja lagi pasti soal jadi apanya ada aja koq bi, ur d next generation lah...:-)
Yesterday at 12:40am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Dosma, tp buat lo, yg lbh menghidupi lo akhirnya kantor kan? Kepentingan bermusik jd prioritas kedua? No regret?

Cepp, mslhnya pekerja kantoran yg sukses lebih byk drpd musisi sukses, hehe. Nahh, elo kalo punya kemampuan yg memadai, masi akan kerja kantor gak?
Yesterday at 12:44am · Delete


Ben Agung
ngerti sih, biasa pemikiran org batak kolot kalo bukan kerja kantoran kurang afdol, walo gaji kecil yg penting kerja kantoran, tp setau gw itu cuma kewajiban anak lelaki. So menurut gw bebas aja bi, ikuti kata hatimu spt kata jeung dosma.
Yesterday at 12:44am · Delete

Arni Purba
hmm honestly bi kalau a punya gift ky kamu nyayi dan bermusik i'll choose that way,apalagi klo udah merasakan yg 50:50 hihihi yah klo skrg di tanya yah emang kantor mungkin bkan soal besar/kecil yg kita peroleh tapi klo mo secara materi hanya lebih stabil ada income tiap bulan tapi klopun dirimu ngajar juga bukannya almost the same kan..:-)

... Read MoreSoal musik jadi 2nd choice yah karena emang a sudah menetukan untuk lebih fokus ke kerjaan, nyayinya nya emang ada di persentase g sedikit berkurang dari kantorannya..SO semanyan balik ke PILIHAN aja bi..:-)
Yesterday at 12:49am · Delete


Yoseph Christianto
bi, kalo gua punya kemampuan memadai, gua akan ambil sekolah musik dan jadi musisi, sukses ato ngga urusan belakang, gua sih yakin kalo memang elu melakukan sesuatu yg memang passion lu dan lu very good di bidang itu ya elu akan sukses, bukan berarti akan mulus2 aja tapi kalopun ada masalah lu akan menghadapinya dengan semangat...

menjawab pertanyaan lu, "gua gak akan kerja kantoran kalo punya kemampuan memadai" =)
Yesterday at 12:50am · Delete


Johan Wahyudi
mungkin dah rada gak relevan sih ya jeng...contoh lagi gue dulu mau kuliah...gue ngga ngikutin kata hati gue..eh.. jadinya gue musti pindah jurusan juga akhirnya..2 taun gue buang2 di fakultas gila itu... emang sih bener kata Albert.. omongan ortu musti didenger..tapi pilihan kan ditangan elu.. mantapin hati aja mau yang mana yang elu mau the most..
Yesterday at 12:50am · Delete

Arni Purba
Setujuu cephh..:-)
Yesterday at 12:51am · Delete

Henry 'Hajemon' Latumaerissa
kalo boleh mengquote perkataanya Whoopy Goldberg di Sister Act 2 : kalau yg kamu pikirkan tiap kali kamu bangun, kamu mandi, kamu bekerja, kamu tidur bahkan ga ada yg lain yang bisa kamu pikirkan lg, cuma musik .. itu berarti bahwa musiklah hidupmu .. (well, aga2 meleset dikit, tapi kira2 ky gt lah hehehehe)
Yesterday at 12:52am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Agungg, faktanya, laki perempuan skrg bebannya sama, bow. Gw jg menyiapkan diri gw kalo gw akan hidup sndr selamanya. So, yes, money does talk. :) Anyway, ortu ngomong gt krn mmg ada lowongan yg cukup menggiurkan utk dicoba, jd bkn yg asal2an. Bener kata Dosma, mereka kasian liat idup gw yg kerja rodi tanpa henti.
Yesterday at 12:52am · Delete

Yoseph Christianto
hehehe, lu kerja rodi tanpa henti tapi do u enjoy it? =)

money is important but it doesn't mean money could make you happy, jangan cepat tergiur sama lowongan menggiurkan bi, awalnya mungkin terlihat manis, but deep inside u know what u want

gini loh, elu nantinya akan terus kerja rodi ato ngga kan itu tergantung gimana caranya lu manage keuangan lu, bisa aja misalnya lu kerja kantoran dengan gaji 100jt/bln dan lu tetap kehabisan uang karena lu gak bisa manage keuangan lu
Yesterday at 12:58am · Delete


Johan Wahyudi
nyambung pernyataan di atas...( Yoseph ) kerja rodi atau ngga rodi kan yang ngejalanin elu..kalo elu enjoy kan bukan jadi kerja rodi bukan?

jalan hidup kita kadang ngga bisa kita ngertiin.. tapi kita mesti tetep jalanin bukan?

kalo masalah keliatannya menggiurkan tapi ternyata ngga bisa enjoy ya ... buat gue itu baru bisa dibilang kerja rodi atau romusha...
Yesterday at 1:03am · Delete


Arni Purba
yah ada benernya juga kata yoseph bi, besr kecilnya gai kitapun bukan jaminan kita bahagia,,emang sih uang banyakpasti gamang u segala seuatunya tapi balancing of life adalah tetap Singing dan Music..:-) so go on Girl ..u know the best for you...Gbu
Yesterday at 1:03am · Delete


Christine 'Obi' Tobing
Mas Johann, relevan, kook. Thank you yaahh buat sharingnya. Tp dr 2 thn ituu ada doong peranannya dlm menuju hidup yg lebih baikk? :p
Iya, keputusan tetep di tanganku, kok.

Hen, thx, yahh. Hoho, mmg sjk kuliah pun arahku udah "melenceng" nih, hihi.
... Read More
All, thank u buat sharingnya. Gw mungkin mmg bkn a good decision maker. Selalu jadi berat melangkah ketika ada harapan lain narik2 gw ke arah yg beda. :(
Yesterday at 1:05am · Delete


Johan Wahyudi
proses..bu... proses... justru kita langsung mahir tanpa belajar... itu yang meragukan bukan? heheheh...
Yesterday at 1:06am · Delete

Ben Agung
ya, kalo memang menggiurkan emang ga ada salahnya dicoba, yah utk hormati keputusan org tua kita lah.. nanti kalo emang toh jalan hidup lo ga ke situ pasti elo akan balik lagi ke bidang musik lo. Salah satu memang hrs ada yg dikorbanin. Contohnya kasusnya spt tokoh2 musik yg kita kenal dekat skr ini, hmm siapa ya?!?! &%$_$_$9
Yesterday at 1:10am · Delete
Christine 'Obi' Tobing
Christine 'Obi' Tobing
Have to admit, yes, this is quite tiring. Tp gw selalu bilang ke ortu, gw gak akan selalu begini. Well, I hope it is. :p

Oh, my God...gw mungkin akan mendadak religius. But, I've always wondered, what my ayat sidi (smcm krismanya Katulik) would lead my life to. Gw selalu yakin ayat yg dipilih pdt gw scr khusus dgn doa, pasti akan berguna buat gue, somewhere in my lifetime period. I think this is one of then.

"Karena hikmat lebih berharga daripada permata. Apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya." (Amsal 8 : 11)... Read More

*berkaca2* :(
Yesterday at 1:12am · Delete

Arni Purba
siapa junk???...:-)

yah no worries bi..it's life process dan akan terus demikian ...keep d spirit bi..:-)
Yesterday at 1:12am · Delete


Johan Wahyudi
SIIIIPPPP... tetep semangat...
Yesterday at 1:14am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Iya, sapa, Gung??
Hehe, gak ada tuh dlm kamus, "ngikut buat menghormati". Mereka udah paham kok, mereka akan hormati apapun keputusan gw. So, problemnya ada di akyuuu! :p
Yesterday at 1:15am · Delete

Ben Agung
no comment ah who they are.., you will know soon kalo diinget2 ato mkn elo dah tau kaleee.., hahaha, ya sekses and tetap semangat ye..
Yesterday at 1:20am · Delete

Yoseph Christianto
hihihi, intinya sih u know what u want, u just don't brave enough to do it =)
Yesterday at 1:23am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Semuanyaa, sekali lagi makasih, yaaa! Albert, Ocep, Dosma, Mas Johan, Agung, Henry.

Laen kali kalo aku butuh masukan lagi, jgn kapok2 yaa. Love youu, guyys! Have a nice rest..
Zzz....
Yesterday at 1:25am · Delete


Arni Purba
ini comment terpanjang ga yah bi?...btw ajunk,yoseph dasar pada manusia kalong juga hihhhihi
Yesterday at 1:25am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Emberrr, bkn scr jmlhnya aja, Dos. Masing2 comment-nya penuh2, boow! Hahaha!

Kalong2, bersatulahhh... :p
Yesterday at 1:29am · Delete


Yoseph Christianto
hihihi, ya gimana ya dos, mumpung liburan panjang nih gue, hehehe
Yesterday at 1:29am · Delete

Johan Wahyudi
yuk mareee... hahahahah..
Yesterday at 1:31am · Delete

Arni Purba
idemmm sephhh mumpung liburr juga jadi besok hue diajakin nge yoghurt dimana :-)...sori bi nebeng wallpostnya
Yesterday at 1:31am · Delete

Christine 'Obi' Tobing
Nyettt, udah libur aja looo?? Gw ngajar jem 7 pagi besookk. :(

Hmm, liburan panjang yg bener2 tanpa rencana. Gak rela keluar Jkt. Gak rela keluar duit byk lagii, gak rela juga melewatkan kesempatan menikmati Jkt yg sepii.
Yesterday at 1:32am · Delete


Christine 'Obi' Tobing
Ocep, Dosma, perkenalkan Mas Johan senior gw di choir Atma. Belakangan aktif di Terra Voce. *kyk lagi percakapan langsung aja* Haha!
Yesterday at 1:36am · Delete

Arni Purba
hihiiihihi....salam kenal untuk Mas Johan....so ceph di tunggu ajakannya besokk yah hihihi pisssss
Yesterday at 1:38am · Delete

Choky Martino Halomoan Simatupang
bisa bi malah lebih "hidup" hidupm lo...coba dulu bi
Yesterday at 2:54am · Delete

Johan Wahyudi
hihihi... belum bisa tidur juga nih... salam kenal juga untuk Dosma (Arni Purba).. bener ngga ya ? hehehe
Yesterday at 2:58am · Delete



Above all....thx, guys.

Monday, September 14, 2009

Peluk....

Kupejamkan mata. Kurasakan hangat tubuhmu, menyusup dalam relung2 hatiku. Jantungmu seirama jantungku. Emosimu menguak segala sakit hatiku. Tak ada yang tersembunyi. Kau berbahasa, tanpa kata. Tanpa kata, kau mengobati. Tanpa kata, kubisikkan... "t'rimakasih".

Friday, August 28, 2009

Setangkai (Daun) Mawar....

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Sinarnya yang terang benderang terasa amat menusuk. Semua mahluk yang berada dalam naungannya pun kembali berpeluh. Rasanya seperti ada kemarahan di dalamnya. Sang angin berusaha meredakannya. Ia menghembuskan angin sejuknya. Namun sia2. Angin hangat yang berhembus seakan semakin menambah kegetiran hidup.

Di sebuah taman di tengah kota, tumbuhlah sekumpulan bunga mawar (dan daunnya) yang indah. Bunga berwarna merah itu sungguh menarik hati. Tak ada seorang pun kuasa untuk tak meliriknya. Bbrp org bahkan mencoba untuk mendekatinya, dan terlebih lagi, berusaha memilikinya. Namun mawar itu begitu sulit diraih. Ia tidak ingin sembarang orang dapat menyentuhnya. Duri2 yg tajam melindunginya dari tangan2 jahil. Meskipun demikian, kecantikannya tetap memanggil2 semua orang yang lewat. Sungguh menggoda untuk dimiliki.

Namun lihatlah di bawah sana. Ada setangkai daun yang sudah agak kecoklatan sedang bertahan hidup. Seseorang (atau banyak orang) telah melukai tangkainya. Luka yang kecil lama2 bertambah lebar, dan semakin melebar setiap kali ada yang menyentuhnya dengan cara yang salah. Entah salah siapa. Sentuhan2 itu yang terlalu kasar, atau memang sang daun yang terlalu rapuh.

Ia tahu, keluhan adlh pilihan yang salah. Tapi ia tak dapat mengingkari. Seandainya selama ini ia tidak tinggal di bawah bayang2. Lebih banyak memperoleh kekuatan dari sang matahari. Atau paling tidak, lebih bersahabat dengan matahari. Seandainya ia tidak terlahir sebagai tumbuhan. Tidak mengandalkan lingkungannya utk bertahan hidup. Seandainya ia adlh mahluk yang kuat. Ingin sekali ia memperjuangkan hidupnya. Atau, seandainya ia terlahir sebagai mawar, tentu lebih banyak keindahan hidup yang telah ia alami.

Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Setiap tetes embun telah dinikmatinya. Setiap siraman hujan juga sempat memberinya kesegaran. Setiap pelangi telah menghiasi hari2nya. Namun ntah mengapa dahaga itu tetap ada. Terutama ketika kegetiran angin hangat itu berhembus.

Ingin rasanya ia teriak minta tolong. Tapi kepada siapa? Tak ada yang peduli. Lihat mawar2 baru itu. Usia mereka masih begitu muda. Namun mereka telah menemukan tuannya. Rasa iri tak terelakkan. Kadang dengki pun muncul. Memaki setiap mata yang begitu haus akan keindahan. Kasihan sang daun. Betapa rapuhnya ia. Bahkan tanpa tersentuh, hatinya pun terluka.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi tangkainya terpaut. Satu2nya saluran pengharapan. Semampunya ia menghirup sari2 kehidupan. Ia tahu ia akan bertahan. Walau nafasnya tersenggal, itu takkan sanggup menghempaskannya ke tanah. Paling tidak sebelum waktu yang telah ditetapkan Sang Pencipta baginya. Tapi ia berharap kekeringan ini segera berlalu. Ia berharap di tengah kesederhanaannya ini, akan datang seseorang, merawat dan menjaganya, serta menjadikannya berguna.

Sekali lagi. Lihatlah ia. Daunnya semakin coklat. Kering. Rapuh.
Penuh harap...

Sunday, August 23, 2009

Sesak....

Ada sejuta rasa yang tak terungkapkan. Biarlah kusimpan semua ini, hingga ada tangan yang menengadah, terbuka untuk menerimanya. Hingga waktunya tiba, kan kucoba bertahan, walau semakin lama semuanya semakin menyesakkan dada. Berharap semoga semuanya menuju akhir yang indah. Ya, semoga saja...

Sunday, July 26, 2009

BFF

It's been years, so many years, we spent time together. Still able to remember your childhood laughter. You still have it there, dear.

After all the hardworks, it's so relaxing being near you. Just enjoying every second, every minute, every hour of those extacies.

But there were some missing links through those years. I've always missed you when u're gone. But the pleasure when u're back in my arm, that was amazing.

Now I think it's another time for you to go. Once again, think it's time for me to let go. U now find another love to explore.

Go, dear. No worries. I'll be exactly at the same place. Waiting for you to come back....if you are coming back this time.

But no matter what. I'll always be there when u need me. Our friendship has made it through the years.
Yes, 'coz we're BFF.
Best Friends Forever...

Friday, July 24, 2009

Aku Haus....

Berulang kali kau kembali. Kau katakan kau menyesal. Luka yang telah kau buat. Belum ada obatnya.

Obat yang kau bawa? Tidak! Bukan itu obatnya. Hentikan! Kau sakiti lagi, luka yang masih basah. Perih. Aku tak berdaya.

Kata-kata manismu adalah racun. Belaian sayangmu bagaikan duri-duri tajam. Hembusan harapan yang kau tiupkan justru menghanyutkan impianku.

Engkau di sini. Untuk apa? Lihatlah aku. Cangkirku telah kosong. Tak ada lagi yang dapat kutuangkan. Aku haus. Beri aku air, sayang. Seperti yang kulakukan dulu.

Dengarlah apa kata orang. Aku adalah pelepas dahagamu. Bersamaku kau tegar. Lihatlah, kini kau dapat berjalan tegak. Berdiri tegar menghadapi dunia yang fana.

Kata mereka aku harus tetap ada di sini, sebagai sumber airmu. Ohh, beri aku setetes cinta yang tulus, sayang, maka aku akan kembali segar. Tanpa cinta, aku kosong.
Kering...
Hanya tetes air mata yang kupunya...

Thursday, July 23, 2009

Bicara....

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Beratus2 kata telah keluar dari mulutku. Terkadang datar, namun lebih sering meninggi. Matamu seringkali menatap kosong. Kepalamu seringkali menunduk ketika nada bicaraku mulai meninggi. Selintas ada rasa sesal di hatiku. Haruskah kumenyakitimu.

Aku mulai lelah. Berbicara denganmu rasanya seperti berusaha membelah angin. Sulit.Melelahkan.Tak berguna. Namun aku berusaha melupakan itu semua. Segala cara harus kuupayakan. Akhirnya kuulangi lagi.

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Beratus2 kata telah keluar dari mulutku. Terkadang datar, namun lebih sering meninggi. Matamu seringkali menatap kosong. Kepalamu seringkali menunduk ketika nada bicaraku mulai meninggi. Selintas ada rasa sesal di hatiku. Haruskah kumenyakitimu.

Namun ada desir bahagia di dadaku menyaksikan keberhasilanmu. Sebuah acungan jempol dariku ternyata mampu membuatmu tersipu. Senyummu itu melenyapkan segala keraguanku. Ternyata semua ada gunanya.

Anakku, jangan menyerah. Jangan kau hiraukan kata2 para pencemooh. Semoga tetap hadir orang2 yang mau membantumu mengatasi segala kesulitan. Semoga masa depanmu bahagia.

Wednesday, July 15, 2009

SEWA MURAH! Kios Strategis di Pusat Grosir Penggilingan (PGP)

DISEWAKAN  :   2 buah kios (berdampingan)


ALAMAT          :   Pusat Grosir Penggilingan (PGP)
                              Perkampungan Industri Kecil (PIK)
                              Jl. Penggilingan Raya
                              Cakung, Jakarta Timur 13940


LOKASI            :   Letak kios sangat strategis! 
                              Di barisan depan akses utama memasuki PGP.

HARGA            :   Rp. 3.500.000,- / bulan (untuk 2 kios yang berdampingan)

AVAILABLE    :   Desember 2012

KONTAK          :   0811817959

__________________________________________________

TENTANG PERKAMPUNGAN INDUSTRI KECIL

“Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan merupakan salah satu sentra bisnis andalan terbesar di DKI Jakarta serta sebagai basis pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang perlu terus ditumbuhkembangkan guna menghadapi era pasar bebas yang penuh tantangan. Setelah berubah status dari sewa kontrak menjadi sewa beli, Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung diharapkan mampu mengubah dan meningkatkan
Produk-produk yang dihasilkan di PIK Penggilingan adalah :
1. Industri Kulit
2. Industri Kecil Pakaian Jadi / Konveksi
3. Industri Kerajinan dan Aneka Komoditi”
(Tentang perkampungan industri kecil. Retrieved from http://perkampunganindustrikecil.wordpress.com/about/)

“Sejak pemerintah menerapkan Undang-Undang Nomor 26/2007 tentang Tata Ruang mulai 26 April 2007 lalu, ribuan pengusaha kecil dan industri rumahan (home industry) di wilayah Ibukota terancam gulung tikar.
Sebab, sesuai UU 26/2007 tersebut maka setiap pembangunan tempat usaha harus menyesuaikan izin domisili. Dan jika tidak sesuai dengan peruntukkannya, maka mereka harus membongkar tempat usahanya. Dan apabila ketentuan itu dilanggar, sesuai pasal 37 ayat 7, dijelaskan bahwa pejabat yang memberikan izin dikenakan sanksi pidana denda. Bahkan pemohonnya pun bisa dikenakan pidana tiga tahun dan denda Rp 500 juta sesuai pasal 69.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan merelokasi seluruh industri rumahan atau home industry yang berada di pemukiman penduduk ke Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung Jakarta Timur.
“Kita akan arahkan home industy itu ke PIK Pulogadung. Dan Direktur PIK sudah merencanakan untuk menampung home industry yang ada di pemukiman di wilayah Ibukota agar mereka tetap dapat mengembangkan usahanya,” jelas Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto di Balaikota, Jumat (4/4).”
(Wawan. Industri rumahan akan direlokasi ke PIK Pulogadung. Jakarta : April 2008. Retrieved from http://www.beritajakarta.com/V_Ind/berita_detail.asp?idwil=0&nNewsId=28239)

“’Di sini ini unik. Semuanya home industry. Banyak yang pesan di sini untuk dijual lagi ke mal. Model dan jenis bahannya dipilih sendiri oleh pemesan, nanti kita yang mengerjakan,’ ujar Jalinus.”
(IVV. Meski kurang berkembang, PIK tetap bertahan. Jakarta : April 2004. Retrieved from http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0404/24/metro/987677.htm)

“Selain menghantam industri-industri berskala besar, banjir Jakarta juga menghentikan produksi industri skala kecil atau usaha kecil dan menengah (UKM). Namun untuk Perkampungan Industri Kecil (PIK) Pulogadung berhasil lolos dari amukan banjir.”
(ddn. PIK pulogadung lolos dari banjir. Jakarta : Februari 2007. Retrieved from http://jkt6a.detiksport.com/read/2007/02/07/155236/739414/4/pik-pulogadung-lolos-dari-banjir)

“Selain dikenal dengan terminal, Pulau Gadong juga termayur dengan kawsan industrinya. Salah satunya perkampungan Industri kecil alias PIK yang ditahbiskan sebagai area wisata belanja dan industri. Di sini terdapat sentra industri sepatu dan garmen yang tetap bertahan. Masyarakat berburu sepatu dan tas di PIK karena harganya miring.”
(Firlana, Fransiska. Kontan. 22 Desember 2008. p.16. Jakarta)


PGP DALAM BLOG KONSUMEN

“Minggu, 27 Juli 2008 kemarin, saya bersama tiga karib berbelanja ke PIK-Perkampungan Industri Kecil Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Sebenarnya kami berencana jalan-jalan kesana hari Sabtu tapi karena kesibukan masing-masing maka lawatan kami mundur sehari. Wanto, salah satu teman, yang mengusulkan untuk berbelanja ke PIK ini. Kami mengiyakan apalagi setelah Wanto meyakinkan bahwa harga disana miring daripada di mall bahkan kaki lima Jatinegara sekalipun. Saya yang telah mendengar tentang keberadaan PIK sebelumnya, juga penasaran.
Terletak di kelurahan Penggilingan, kawasan ini dapat kita tempuh dengan mudah karena berada di pinggir jalan Penggilingan-Cakung. Kebetulan kami bermotor berangkat dari rumah kos di kawasan Pasar Ciplak, tak jauh dari jalan Inspeksi Kali Malang-Halim. Setelah melalui simpang tiga Kodim-Jatinegara, kami belok kanan menyusuri Jalan Bekasi Timur Raya-melewati Penjara Cipinang- lurus memasuki Jalan I Gusti Ngurah Rai. Melintasi flyover Klender, Mall Klender (Ramayana), simpang empat Buaran, Rumah Susun Klender, maka kami segera belok kiri melalui flyover Penggilingan. Bisa juga kami melewati bawah flyover namun jalanan agak menyempit karena Metromini 42 dan bajaj ngetem di kelokan itu dan juga mesti melewati lintasan rel.
Satu setengah kilometer dari flyover Penggilingan sampailah di jalan masuk PIK di sebelah kiri jalan. Di kanan-kiri jalan masuk, jajaran toko menggelar beragam produksi PIK. Seratusan meter dari mulut jalan, berdiri bangunan bergaya mall. Papan namanya menyebut PGP: Pusat Grosir Penggilingan. Mungkin akan menjadi mallnya PIK. Belum beroperasi namun sepertinya tak lama lagi akan makin meramaikan kawasan ini dan menaikkan image atawa gengsi PIK.
Jika membawa kendaraan, Anda bisa parkir di salah satu halaman toko lalu berjalan kaki dari satu toko ke toko yang lain, outlet satu ke outlet selanjutnya. Di bagian depan kawasan ini, pajangan sepatu mendominasi toko-toko. Sepertinya memang telah ditata. Luas toko dan outletnya pun terhitung lega. Makin ke dalam, cenderung mengecil. Harga sewanya mungkin lebih mahal dari pada bagian dalam, maklum lebih strategis. Dalam harga, jangan khawatir. Harga toko bagian depan dan dalam tetap bersaing dan masih bisa ditawar. Di Mall Ambasador sepertinya sulit menemukan barang yang bisa ditawar karena telah dibanderol dengan harga pas.”
(Gunarba, Inung. Juli 2008. PIK : Oase belanja ibukota. Retrieved from http://halamansamping.blogspot.com/2008/07/pik-oase-belanja-ibukota.html)

Thursday, July 09, 2009

Aku Sedih, Duduk Sendiri....

Kududuk di sini, berusaha menikmati,
lagi-lagi gagal.

Kuingat keberhasilanku kmrn2,
masih belum puas hatiku.

Kutarik nafas panjang,
sesak itu tetap ada.

Kucoba pejamkan mata,
impian2 indah itu malah seakan2 meledekku.

Kucoba bersyukur,
kecewa itu masih menjadi juaranya.

Kupesan nasi goreng kesukaanku,
tetap tak terobati sakitnya.

Uhh, mesti gimana lagi doong?

Tuesday, June 30, 2009

I Watched These 147 Films Out Of 239.

SUPPOSEDLY if you've seen over 85 films, you have no life. Mark the ones you've seen. There are 239 films on this list. Copy this list, go to your own Facebook account, paste this as a note. Then, put *'s next to the films you've seen, add them up, change the header adding your number, and click post at the bottom. Have fun.

Teen/ Romance:
(*) The Cinderella Story
(*) Another Cinderella Story
(*) Step Up
(*) Step Up 2
(*) High School Musical
(*) High School Musical 2
(*) High School Musical 3
() Hannah Montana Movie
(*) Enchanted
(*) Sydney White
Total: 9

(*) She's the Man
(*) Licensed to Wed
(*) The Break-up
(*) 13 going on 30
(*) 27 Dresses
(*) P.S I Love You
(*) Maid of Honour
(*) What Happens in Vegas
(*) Get Smart
(*) The Princess Brides
Total: 10

( ) Camp Rock
( ) Wild Child
() Ella Enchanted
(*) The Princess Diaries
(*) The Princess Diaries 2: Royal Engagement
(*) 50 First Dates
() The Lizzie McGuire Movie
() Hotel For Dogs
(*) Just Married
() Freaky Friday
Total: 4

() The Hot Chick
(*) Sleepover
(*) Confessions Of a Shopaholic
(*) Twilight
( ) Nancy Drew
(*) The Devil Wears Prada
(*) No Reservations
(*) Perfect Man
(*) Australia
(*) Never Been Kissed
Total: 8

Comedy/Humour:
(*) Yes Man
(*) Bedtime Stories
(*) The Pink Panther
(*) The Pink Panther 2
(*) Marley & Me
() Cheetah Girls
() Cheetah Girls 2
(*) Bratz
() Haunted Mansion
() Paul Blart Mall Cop
Total: 6

(*) The 40-year-old virgin
(*) Night in the Museum
(*) Night in the Museum 2
(*) Evan Almighty
(*) Bruce Almighty
() White Chicks
(*) Neverending Story
(*) Meet the Spartans
(*) Meet the Parents
(*) Meet the Fockers
Total: 8

(*) Scream
() Scream 2
() Scream 3
(*) Scary Movie
() Scary Movie 2
() Scary Movie 3
() Scary Movie 4
(*) American Pie
(*) American Pie 2
(*) American Pie Band Camp
Total: 5

Adventures:
(*) Harry Potter 1: The Sorcerer’s Stone
(*) Harry Potter 2: The Secret Chamber
(*) Harry Potter 3: Prisoner of Azkaban
(*) Harry Potter 4: Goblet of Fire
(*) Harry Potter 5: Order of Phoenix
(*) Lord of the Rings: Fellowship of the Ring
(*) Lord of the Rings: The Two Towers
(*) Lord of the Rings: Return Of the King
() Chronicles Of Narnia: The Lion the Witch and the Wardrobe
(*) Chronicles Of Narnia: Prince Caspian
Total: 9

(*) Indiana Jones and the Raider of the Lost Ark
(*) Indiana Jones and the Temple of Doom
(*) Indiana Jones and the Last Crusade
(*) Indiana Jones and the Crystal Skull
() The Mummy
() The Mummy 2
(*) The Mummy 3
(*) Journey to the Centre of Earth
(*) City of Ember
() Finding Neverland
Total: 7

() Pirates of the Caribbean
(*) Pirates of the Caribbean 2: Dead Man's Chest
(*) Pirates of the Caribbean 3: At World's End
(*) X-Men
(*) X-2
(*) X-3
(*) Spider-Man
(*) Spider-Man 2
(*) Spider Man 3
() King Kong
Total: 8

(*) Hellboy
() Star Wars Ep. I The Phantom Menace
() Star Wars Ep. II Attack of the Clones
() Star Wars Ep. III Revenge of the Sith
() Star Wars Ep. IV A New Hope
() Star Wars Ep. V The Empire Strikes Back
() Star Wars Ep. VI Return of the Jedi
(*) Underdog
() A Series Of Unfortunate Events
(*) Batman: The Dark Knight
Total: 3

Action/ Thriller
(*) The Matrix
(*) The Matrix Reloaded
() The Matrix Revolutions
(*) Terminator
(*) Terminator 2
(*) Terminator 3
(*) Ocean's Eleven
(*) Ocean's Twelve
() Ocean’s Thirteen
(*) Casino Royale 007
Total: 8

(*) Bourne Identity
(*) Bourne Supremecy
(*) Underworld
(*) Butterfly Effect
() Death Note
() Death Note 2
() Death Note 3: L Change the world
(*) Resident Evil 1
(*) Resident Evil 2
() I, Robot
Total: 6

(*) Rush Hour
(*) Rush Hour 2
(*) Rush Hour 3
(*) Mission Impossible 1
(*) Mission Impossible 2
(*) Mission Impossible 3
(*) I Am Legend
(*) Predator I
(*) Predator II
(*) Signs
Total: 10

Horror:
() Saw
() Saw II
(*) Saw III
() Saw IV
() Saw V
(*) The Grinch
() Texas Chainsaw Massacre
() Texas Chainsaw Massacre: The Beginning
(*) The Ring
(*) The Ring 2
Total: 4

() Final Destination
() Final Destination 2
(*) Final Destination 3
() Ghost Ship
() From Hell
() Child's Play
() Seed of Chucky
() Bride of Chucky
() Gothika
(*) Nightmare on Elm Street
Total: 2

(*) The Grudge
() The Grudge 2
() The Haunted Apartment
() Siren
(*) Silent Hill
(*) The Mask
() Son Of The Mask
() Alone
(*) Omen
() House Of Wax
Total: 4

(*) The Eye
(*) The Eye 2
(*) Shutter
() When the Stranger calls
() The Fog
(*) The Orphanage
() The Skulls
(*) Cruel Intentions
(*) Cruel Intentions 2
() House of 1000 Corpses
Total: 6


Cartoons:
(*) Lilo & Stitch
(*) Ice Age
(*) Ice Age 2: The Meltdown
(*) Madagascar
(*) Madagascar 2
(*) Kung Fu Panda
(*) Bolt
(*) Wall-E
(*) Monsters Inc
(*) Shark Tale
Total: 10

(*) Shrek
(*) Shrek 2
(*) Shrek 3
(*) Finding Nemo
(*) ET
() Cars
(*) Ratatouille
(*) Toy Story
(*) Toy Story 2
(*) The Incredibles
Total: 9

Inspirational:
(*) Little Miss Sunshine
(*) I Am Sam
(*) The Day After Tomorrow
(*) Coach Carter
(*) The Last Dance
(*) To Kill A Mockingbird
(*) Conrack
() Midnight Sun
(*) Little Black Book
() Rwanda Genocide
Total: 8

Classics:
(*) Ten Things I Hate About You
(*) Titanic
(*) Romeo & Juliet
() Frankenstein
() A Midsummer Night's Dream
Total: 3

Total films: 147. For a moment there, I thought I had a life.

Oh, Noo! My Unconsciousness are Getting Wild in Dreams!

I'm not a dreamer. Not at all. I rarely have dreams during my sleep. But these late few weeks, I suddenly become a regular dreamer.

The worse thing is... the dream is always something I have unconciously in my mind during the day. Need an example? I'll give u some...

DAY I

Daytime :
I was so angry in the evening. The last thing I discussed is how I hate the term "men & commitment". They're not good related to each other. I (again) said how I much I dont wanna marry them.

Dream :
I got married. Everybody's coming and partying. My big family was dancing and singing all the way. But I found that the happiness was not at the maximum. I also cried when I met my mom. Why? Coz I got married with a WOMAN!


DAY II

Daytime :
I got a naughty SMS from a guy. Not so naughty. Yeah, I admit it. He's my type of guy I'd always wanted since a long time ago. But, in fact, he's married, with children. :(

Dream :
We were having an affair, and getting wild, but only on SMS and eye contact. We exchanged SMS face to face, with his wife on his side. His wife was so jealous of it. Ohh, no....it's getting weird.

DAY III

Daytime :
Talked about how I hate why all the "good" guys are taken.

Dream:
The married guy exsisted once more! Uhh, it was a nice dream, anyway. This time, I can feel him. I can feel his hands all around me, I can feel his body against mine. Absolutely an adultery! Damn it, do I really want him that much?!? Seriouslyy??!? Geez, I never tought I did. Haha!

DAY IV

Daytime:
I'm having a holiday all by myself next Sunday till Thursday to Yogya. Actually I have a friend there who kindly pleased to accompany me. But, still, I'm kinda worried that it's gonna be fun enough and relaxing enough for me.

Dream:
My holiday's a disaster! I went here and there with no purpose. My friend was there, but not helping too much. It became so useless and tiring. Ohh, I hope it's not gonna happen though.


Wow, how smart Freud is. I can find his theory very correlated with all those stories above.

Monday, June 22, 2009

"Intimacy vs Isolation" & "Generativity vs Self-Absorption"

Sore itu lagi2 Rachel berhambur ke pelukku sambil mengucapkan, "Aku sayang Miss Christine". Aduuhhh, lagi2 luluh lantah dibuatnya. Gue langsung merasa gimannnaaa gitu. Yahh, sbnrnya sih gue bisa dengan detail menggambarkan setiap emosi yang gue rasain. Tapi malu ahh. Secara temen2 gue banyak wanita2 yg udah beranak, yang mungkin udah ngerasain hal yang lebih luar biasa lagi.

Perasaan yang serupa sebenernya udah lmyn sering muncul, terutama sehubungan dengan kegiatan mengajar gue. Contoh lain adalah ketika anak2 The Resonanz Children Choir mau melakukan performance, gw membantu mereka fitting baju. Ohh, they were so dependent! Termasuk lagi adalah rasa peduli gw sama anak2 yg gw tahu ada sisi perkembangannya yg tidak sempurna. Gue bisa sayaaaang bgt.

Yang menarik perhatian gue adalah ketika hal tersebut gue kaitkan sm 8 Stages of Human Development-nya Eriksson. Eriksson mengatakan bahwa pada setiap tahapnya manusia akan mengalami sebuah krisis yang harus dipecahkan sebelum akhirnya muncul krisis berikutnya di tahap selanjutnya.

Kebutuhan yg gue ceritakan di atasmenggambarkan krisis di tahap ke-7, yaitu "Generativity vs Self-Absorption", yaitu di mana seseorang memiliki keinginann untuk membimbing perkembangan dari generasi selanjutnya.

Sementaraaa, rasa2nya crisis gue di tahapan sebelumnya, yaitu tahapan ke-6, "Intimacy vs Isolation", sama sekali belon terpecahkann! Hal yg penting dlm tahap ini adlh "love". Tujuan dlm thp ini adlh to lose and find oneself in a another. Absolutely belon terpenuhi! So, kenapa needs of generativity gw juga berlomba2 keluar?? Ckck...

Masa gue harus hamil dan beranak sblm gue punya pasangan? Hihihi! Well, kalo ternyata sampai bbrp tahun ke depan tnyt gue masih sendiri ajaa, gue kyknya mau adopsi anak aja, ahh. Yg penting kehidupan gue udah beres yaa. Ato ada yg mau nyumbang benih? Hihi!

Yg paling bener sih sumbang pasangan lahh, biar tahap perkembangan gue menjadi normal dan sesuai alur nih, haha!

Monday, June 15, 2009

Career Choices

Psychology or music?
If musik, vocal or instrument?
If vocal, become an educator or a performer?
How bout the genre, classical or something more modern, such as pop/jazz?
As a soloist or a group?
To increase my skill, where should I learn? Something formal or informal?
If informal, which one is better, a music school or go straight to the teacher?
Which school?
Who?
When?
............
#@&%x!?

So many choices to make. Well, life is about choices, anyway. Have to learn to be a good decicion maker. Have been a bad one all these times.

Have to learn much from people I know. So young, but so sure about their desire. They know what they want. They know what to do, and they keep in track, and fight for it.

Ok, this is the time.
I'm moving now.

Friday, June 12, 2009

Buat Apa?

Buat apa kau datang sekarang?
Menawarkan kesejukan di tengah kehampaan.
Membawa secercah cahaya di tengah keredupan.
Menawarkan kelegaan di tengah kehausan.
Memberikan kehangatan di tengah dinding-dinding dingin.

Buat apa kau datang sekarang?
Ketika diriku sudah tak lagi menanti.
Ketika segalanya telah cukup untukku.
Ketika segalanya telah menjadi indah,
paling tidak untukku saat ini.

Buat apa kau datang sekarang?
Membuatku kembali merindukan kehangatan itu.
Membawaku kembali ke kenangan-kenangan indah.
Membuat tubuh dan jiwaku kembali rapuh,
bagai merindukan candu yang selama ini dinanti.

Buat apa kau datang sekarang?

Tuesday, May 05, 2009

Jurnal Perjalanan BMS 2009 (Slovenia-Hongaria-Austria) Written by Hendra Agustian

*Jurnal Perjalanan BMS 2009 (Slovenia-Hongaria-Austria)*

Menikmati lezatnya gado-gado pada malam hari bertabur bintang gemintang di pelataran Neue Hofburg (Imperial Palace), Wina, Austria, bukanlah pengalaman menakjubkan yang bisa kita alami setiap hari. Lezat, tak terkira. Apalagi mengetahui bahwa akhirnya, setelah berhari-hari bergulat dengan kerja keras
demi sebuah kesempurnaan artistik, selesailah rangkaian tur konser dan kompetisi Batavia Madrigal Singers di Eropa tahun ini. Tiga program kompetisi, tiga negara, kami – atau paling tidak, aku – belajar banyak hal bagaimana menyatukan visi 35 orang penyanyi dengan isi kepala yang berbeda-beda bukanlah perkara gampang. Ada banyak sekali momen pemacu adrenalin yang kemudian membawaku secara pribadi pada kematangan dan ketercapaian. Inilah sepenggal cerita yang akan menjadi bagian dari ‘buku besar’ perjalananku. Bermula di Jakarta.

*10. mednarodno zborovsko tekmovanje **maribor** 2009 – Apaan tuh?*

Inilah nama kompetisi yang kami ikuti tahun ini: *10th International Choir Competition Maribor 2009*. Kompetisi ini adalah salah satu dari rangkaian kompetisi paling prestisius di Eropa saat ini, yaitu *European Grand Prix for Choral Singing*. Bersama kompetisi Maribor, Slovenia, tersebutlah
juga *Concorso Polifonico Guido d’Arezzo, Arezzo, Italia; Bela Bartok Nemzetkozi Korusverseny, Debrecen, Hongaria; Florilege Vocal de Tours, Tours, Perancis; G. Dimitrov May Choir Competition, Varna, Bulgaria; *dan *Certamen Coral de Tolosa, Negeri Bask, Spanyol.*

Berbeda dengan kompetisi Musica Mundi yang boleh dibilang tak membatasi jumlah dan kualifikasi peserta, kompetisi-kompetisi European Grand Prix terkenal sangat *demanding*. Mereka hanya memilih sekitar 8 hingga 12 peserta saja dari seluruh dunia yang mereka perbolehkan ikut. Untuk kompetisi Maribor Slovenia tahun ini, BMS adalah satu-satunya perwakilan dari negara-negara Asia. Berikut adalah seluruh pesertanya:

1. Coro feminile EOS (female choir), Italia
2. Akademiska Sängföringen (male choir), Finlandia
3. Batavia Madrigal Singers, Indonesia
4. The Mornington Singers, Irlandia
5. Sõla, Latvia
6. Canticum Novum Chamber Choir, Hongaria
7. Victoria Chamber Choir, Hongaria
8. The Academic Choir »Divina armonie«, Romania
9. Komorni zbor AVE, Slovenia
10. Zbor sv. Nikolaja, Slovenia
11. KUP Taldea, Spanyol
12. Falu Kammarkör, Swedia

Melihat profil masing-masing peserta saja, wah! Rasanya sudah membuat keringat dingin. Kebanyakan dari mereka memang sudah sangat *established*sebagai paduan suara (dengan anggota yang solid, nyaris tidak berganti-ganti) selama bertahun-tahun bahkan lebih dari seratus tahun. Mereka sudah merilis banyak CD rekaman yang dijual secara bebas. Dan tentunya, langganan juara di mana-mana dan tur konser keliling dunia.

Jadi, boleh dibayangkan bagaimana *pressure* kami selama mengikuti kompetisi ini. Setiap menit adalah siksaan. Siksaan yang nikmat! Sebab begitulah, kami dituntut untuk mencapai kesemperunaan musikal dan artistik dari latihan ke latihan. Tetapi, sekali kesempurnaan itu tercapai, *reward*-nya tak terkira.
Dan terbayarlah seluruh keluh kesah, kerja keras kami untuk mencapai itu.

Kalian harus merasakan sendiri bagaimana ekstasi kosmik itu terjadi. *Seperti orgasme!* Mungkin lebih dahsyat dari itu. Ah, nikmat sangat lah!


*Who’s Who*

Ini adalah program BMS untuk kompetisi kali ini:

*Konser Pembukaan*
Pontas Purba (1953) Sin Sin Sibatu Manikam
Avip Priatna (1964) & Ivan Yohan (1975) Yamko Rambe Yamko

*Program Wajib*
Iacobus Handl-Gallus (1550-1591) Sancta et immaculata virginitas
Josef Rheinberger (1839-1901) Salve Regina
Lojze Lebič (1934) Vem, da je zopet pomlad

*Program Bebas*
Claudio Monteverdi (1567-1643) A un giro sol de begl’occhi
Eric Whitacre (1970) Hope, faith, life, love...
Ryan Cayabyab (1954) Gloria

*Grand Prix* (jika lolos ke lima besar)
Johannes Brahms (1933-1897) Nachtwache II, Op. 104 Nr. 2
Claude Debussy (1862-1918) Trois Chansons
1. Dieu! Qu’il la fait bon regarder
Morten Lauridsen (1943) Ov’e Lass, il bel viso?
Paul McCartney (1942) & John Lennon (1940-1980) Honey Pie
Avip Priatna (1964) & Bambang Jusana (1970) Janger

Pilihan program BMS menurutku sudah cukup baik. Aku mengatakan ini atas landasan fakta bahwa kami hanya memiliki sekitar 3-4 bulan persiapan. Selain itu, peta kekuatan tim BMS yang berangkat kali ini sebnearnya tidak setangguh tim yang berangkat ke Tolosa (2006), apalagi Tours (2001). Ini adalah para penyanyi yang berangkat:

*Soprano*
1. Fitri, Obi, Heidy, Tina, Deasy, Jeje
2. Agnes, Ines, Devi, Christine, Renna

*Alto*
1. Lia, Dosma, Tanti, Nuniek
2. Joyce, Noni, Veby, Stella

*Tenor*
1. Ipul, Arvin, Ocep, Hendra, Yosef, Anton
2. Adri, Cahyo, Michael

*Bass*
1. Harry, Adit, Aldy
2. Pepi, Harland, Charles, Reyhan

Lebih dari setengahnya adalah anak baru (termasuk yang nulis). Semua penyanyi berasal dari latar belakang yang sama sekali beda! Beda alma mater PSM (Unpar, UI, IPB, ITB, UPH, Unpad, Atamajaya, Brawijaya, Binus, Perbanas, Gunadarma, Maranatha), beda usia (20 hingga 40 tahun), hingga beda profesi (dokter, IT, dosen, koordinator Matematika <-- narsis, hehehe, guru vokal, pegawai bank swasta, kontraktor, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga). Beda agama dan beda suku *mah *udah biasa kali ya. Tapi, lihatlah peta kekuatan tim ini. Hanya satu kalimat buat mereka: Avip akan bekerja lebih keras untuk membuat mereka ‘jadi’.

Dan begitulah, dari hari ke hari, kami benar-benar ditempa, persis seperti besi tuang yang sudah berbentuk namun belum halus pahatannya. Seperti batu permata yang sudah berkilauan pada hakikatnya, tapi masih harus digosok...berkali-kali... dan berkali-kali.


*Ngamen di Jakarta Demi Sepeser Euro*

Perhitungan anggaran menurut manajemen BMS adalah USD 60 000. Sekitar sepertiganya adalah urunan penyanyi dan konduktor, subsidi silang. (Fewwh! Banyak yah?) Sisanya? Patron, sponsor dan donatur. Sekedar mengemis? Tidak juga. Kami ngamen. Dari tempat ke tempat, sekalian uji coba repertoar dan mempertinggi jam terbang manggung tim kompetisi.

Itu penting, sebab seringkali tim kompetisi gagal karena mereka (sebagai tim yang berangkat) jarang memonitor kemajuan tim dengan manggung dan merekam hasil penampilannya. Dari konser-konser prakompetisi inilah kami tahu sejauh apa kami telah mencapai *choral sounding*, *balancing* antarsuara, intonasi, keseragaman dinamika, hingga kekompakan koerografi. Tanpa konser-konser
prakompetisi, entah apalah jadinya ketika kami harus tampil di depan juri nanti.

Dan, tentunya, ada laaah hasilnya. Lumayan, buat nambah-nambah *beliin *pisang Cavendish buat tim di Eropa nanti, atau *beliin *kebab di Slovenia ^-^. Yang jelas, satu konser di gereja Mathias Cinere, satu di GKI Kwitang, satu di Djakarta Theater, satu di *mansion *mewahnya boss PT Djarum, dan satu di
GoetheHaus, telah membantu kami menakar sesiap apa kami untuk kompetisi dan tur konser ini.


*Tantangan Musikal: Gallus vs Brahms, Cayabyab vs The Beatles*

Sebagai penyanyi, anggota BMS dituntut untuk menjadi *versatile* alias serba bisa. Kendatipun mengusung nama Madrigal Singers, kami tidak hanya menyanyikan madrigal. Repertoar kami juga mencakup motet, misa, oratorio, opera, *partsongs* kala Romantik, komposisi kontemporer paling menantang, Broadway *musicals*, lagu-lagu *jazz* dan *blues*, gospel dan Negro spiritual, hingga *folksong* dari berbagai belahan dunia. Oleh sebab itulah, ketika program kompetisi dan tur konser ini diberikan kepada kami, konduktor selalu mengingatkan kami untuk mengetahui lebih dulu konsep vokal yang harus kami capai untuk setiap lagu.

Pada lagu pilihan wajib, *Sancta et immaculata virginitas*, misalnya. Sebelum mengeluarkan bunyi apa pun, kami sudah harus tahu bahwa pada lagu ini, suara harus terdengar ‘selangsing’ mungkin, sederhana, tanpa vibrato sama sekali. Beberapa penyanyi yang kebanyakan makan ular dan mie keriting
agak kesulitan menekan ambisi vibrato mereka, hehehe. Pengalimatan yang sempurna membentuk pola-pola sinusoidal juga merupakan esensi lagu-lagu pada zaman ini. Baru tahu juga, karena Gallus adalah komposer berdarah Jermanik, kami tidak membaca *‘virGInitas’* sebagai *‘virJInitas’*, tapi tetap *
‘virGInitas’*, sesuai dengan pelafalan bahasa Jerman. Begitupun vokal *oe*dibunyikan seperti
*o* dengan umlaut dalam bahasa Jerman.

Hal yang sama berlaku pada repertoar Romantik wajib yang kami pilih, yaitu *Salve Regina*. Meskipun syair berbahasa Latin, tapi karena Rheinberger adalah komposer Jerman, semua sukukata ‘ge’ dan ‘gi’ dibaca seperti tulisannya. Bedanya, pada lagu ini, kontrasnya dinamik khas abad Romantik sangat
dikedepankan.

Terlebih lagi di lagu *Nachtwache II*. Konsep bunyi pada karya-karya Brahms sudah jelas: sangat romantik, tapi tetap mengutamakan karakteristik melodinya yang *songful*; harmoni kaya gradasi di atas fondasi suara bass yang mapan dan bervolume.

Buat aku, tantangan terberat adalah lagu *Gloria*. Lagu ini sangat megah, dengan rentang dinamika dari *ppp* hingga *fff*. Harmoni merapat pada banyak bagian paling indah dalam lagu ini. Ornamen-ornamen *acciacatura* menambah ritmus rancak bernuansa Asia yang, celakanya, cenderung rawan labilitas nada. Terlebih pada bagian tengah, solo tenor (dinyanyikan dengan penuh tanggung jawab oleh Farman Purnama), menabrak progresi melodi bass yang berada di tangga nada mayor dengan melodinya sendiri yang meliuk-liuk di tangga nada minor. Seringkali kami gagal mempertahankan nada dasar tetap di
tempatnya. Tapi begitulah, BMS memilih lagu ini sebagai *highlight* untuk program bebas.

Sistem kompetisi ini demikian menantang karena dari awal setiap peserta harus sudah menyiapkan 15 menit program musik *a cappella* untuk babak Grand Prix. Artinya, masuk atau pun tidak masuk 5 besar (finalis), kami tetap harus melatih repertoar untuk babak ini. Yang tidak masuk 5 besar tentunya akan merasa sedih karena mereka tidak berkesempatan menampilkan lagu-lagu mereka.

Konduktor kami sepertinya cukup *adventuresome* dalam hal memililh repertoar untuk program Grand Prix. Kelima lagu sama sekali berlainan. Brahms yang sangat romantik, dirangkai dengan Debussy (*Dieu! Qu’il la fait bon regarder *) yang manis sekali, khas komposisi Perancis akhir abad 19. Kemudian sebuah komposisi modern karya Lauridsen (*Ov’e Lass, il bel viso?*) yang sangat dramatis dan operatik. Lalu kami harus mengeset vokal kami menjadi *jazzy*pada lagu Beatles (*Honey Pie*). Terakhir, mungkin untuk alasan keberagaman repertoar DAN kemudahan latihan, Avip memilih *Janger* aransemennya sendiri sebagai * finale* program ini. Tentu saja dengan koreografi, seperti biasa.

Tantangan berikutnya adalah bahasa. Keseluruhan program kompetisi yang dibawakan BMS mencakup 9 bahasa berbeda. Dan yang paling sulit adalah bahasa Slovenia! Apatah gerangan caranya membaca *‘Vzcve-‘* dalam satu suku kata? Untungnya, salah satu pasien dr Joyce (alto 2), adalah mantan duta besar yang kebetulan pernah tinggal di Slovenia. Dan didaulatlah beliau untuk mengajari kami lafal bahasa yang menarik tapi sulit itu.

Mantan Dubes sepuh bertubuh tambun itu pake acara bilang begini lagi: *“Pokoknya
harus menang yah. Kalo nggak, nggak usah hubungi aku lagi!”*

Kita-kita cuman cengo aja gitu, sambil bergumam *“Ih! Situ OK?”* Hehehe....
*Well, anyway*, tengkiyu dah ngajarin bahasa aneh itu ya, *Grandpa*... ^-^
Na vr tu je češnja vzcvetela.
Vse žarke je vase ujela.
Vem, da je, vem, prišla pomlad!


*Pelacur Seni Berkostum Seksi... Yee-ha!*

Malam terakhir sebelum keberangkatan BMS ke Eropa, kami dikumpulkan di negeri Daksa tercinta, untuk mengambil kostum konser dan kompetisi. Ada 3 kostum berbeda yang harus kami bawa dalam kabin, satu kostum ungu rancangan Musa Widyatmoko yang kami pakai untuk Konser Prakompetisi *“Sanguinis
choraliensis!”* di GoetheHaus. Satu kostum Bali. Dan satu kostum Dayak yang... aduh... seksi.

Agak-agak risih juga *euy*! Secara gue bukan golongan Adonis yang mendevosikan dirinya untuk *workout* di *gym* lima kali seminggu; yang suka menciumi lekukan bisep dan trisepnya setiap kali berdiri di depan cermin. Tapi, ya sudahlah, demi kemasan penampilan yang menarik, *hajar aja broer!*

Yang mengesankan dari proses pembuatan kostum ini adalah, sang konduktor, Avip Priatna, turun tangan susah payah mencarikan kain Bali dan *velvet*buat kami ke Tanah Abang, mencarikan bulu-bulu (entah ayam atau kalkun) buat hiasan kepala kami. Dengan bantuan Ipul juga, selesailah *Mission Impossible * membuat kostum etnik penuh detail dalam seminggu terakhir. Konsepnya cukup idealistis: *festive, glamour, sexy... low cost.*

Buset dah! Toronto Fashion Week lewat tuh!

Entahlah apa idealisme itu tercapai atau tidak, tapi aku sangat menghargai keterlibatan penuh konduktor dalam hal kecil seperti kostum. Bagaimana pun, kita tidak hanya ingin didengar, tapi juga dilihat.


*Keberangkatan yang Tergesa-Gesa*

Hari terakhir sebelum berangkat pada malam harinya, aku dimarahi di sekolah. Hiks hiks! Tapi, ya udah deh, beberapa orang memang SAMA SEKALI tidak bisa diharapkan dukungannya. Beruntung karena teman-teman dekatku di sekolah bersedia membantu situasiku saat itu. Untuk mereka, biasanya aku menyisihkan beberapa Euro-ku (yang tidak seberapa), untuk kubelikan oleh-oleh.

Pulang dari sekolah, setelah malam sebelumnya baru tidur jam 2 pagi untuk *packing*semua barang yang harus dibawa, dengan tergesa aku langsung berangkat menuju bandara.

Horee! Naik pesawat lagi!

Kegembiraan kanak-kanak seperti itu masih tak tertahankan meledak begitu saja setiap kali aku tebang dengan pesawat. Rasanya seperti kembali ke dalam ruang dan waktu, seperti ketika da Vinci mencoba mesin terbangnya untuk pertama kali.

Dengan penerbangan Emirates EK 357, berangkatlah tim penyanyi Batavia Madrigal Singers sebanyak 35 orang, plus konduktor, plus *project manager*, plus wartawan Kompas, plus dua penggembira ^-^ (Binu Sukaman dan A Hwa) menuju Eropa, lewat Dubai (transit selama 5 jam), mendarat di Wina, kemudian langsung berangkat ke Selatan menuju Maribor. Total, 24 jam perjalanan. Cape? *Hyaeyyallaaaah!*

Untungnya, di pesawat ada sistem ICE (*information, communication, entertainment*) yang cukup bisa membuat kami terhibur di antara waktu tidur kami yang terampas perbedaan zona waktu. Bisa nonton acara TV favorit, film-film dari zaman kakek-nenek hingga BlockBuster terbaru, mendengarkan musik dari segala genre, sampai telpon-telponan antar *seat* penumpang. Emirates OKeh banget deh!

Belum lagi perjalanan daratnya!

Bepergian di Eropa memang paling seru lewat jalan darat. Aku dengan penuh keingintahuan dan keriangan melewati bukit-bukit hijau dengan menara-menara katedral di kejauhan, melintasi perbatasan antarnegara, jembatan-jembatan dengan jurang dan ngarai yang dalam, melalui ladang gandum dan perkebunan kanola yang menguning. Spektakuler! Sepanjang jalan, *theme song* kami adalah:

*“The hills are alive, with the Sound of Music...”*

Kemudian, si kembar Agnes-Ines akan memecah keheningan sakral saat kami mengagumi penciptaan Tuhan itu dengan *theme song* mereka sendiri:

*“Tanah airku Sloveniiiiaaaa, negeri elok amat kuuucintaaa...”*

GRRR! Ketawa lagi. Sampai sakit perut menghadapi tingkah polah mereka yang tak pernah ada matinya.

Akan lekat dalam ingatanku seumur hidup, bahwa seringkali ada yang lebih berharga dalam hidup ketimbang pencapaian pribadi: kebersamaan untuk meraih sebuah tujuan.

Tidak setiap saat aku bisa merasakan hal itu. Dan untuk setiap detik yang terasa mencerahkan itu, aku mengucap syukur.


*Kota Sepi yang Aneh*

Diceritakanlah bahwa Maribor adalah kota terbesar kedua di Slovenia setelah Ljubljana, ibukotanya. Mohon jangan dibandingkan dengan, misalnya, Bandungadalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Terdapat hanya sekitar 2 juta populasi penduduk di keseluruhan Slovenia. Jadi, yang namanya
kotaterbesar kedua di sana lebih tampak seperti Sukabumi, atau, entahlah, mungkin seperti Cipanas, *my lovely hometown*. ^-^

Menurutku, kota ini aneh, karena semuanya tampak begitu muram. Bangunan-bangunannya banyak yang sudah tua dan kurang terawat. Wajah Eropa yang klasik, genit dan gemar bersolek tak tampak di sini. Dalam desau angin musim semi yang sama sekali tidak hangat, aku menemukan kesedihan dan
ketidakpastian pada wajah kota yang menua. Jejak-jejak rejim komunis mengintip di berbagai sudut, dengan tatapan jahat yang seolah ingin bangkit dari tidur panjangnya.

Pemandangan cukup impresif dari arah Sungai Drava yang membelah kota. Kami tinggal di penginapan Lizike Jančar di Titova cesta 24a, selatan sungai. Belakangan kami tahu bahwa hostel ini sebenarnya adalah asrama putri salah satu universitas di sana. Maribor terkenal sebagai kota universitas. Di
dekat penginapan kami juga terdapat sebuah Klinik Psikiatri. Yang stres karena tidak dapat kursi di DPR dan DPRD mungkin boleh berkunjung ke klinik itu.

Hari kedua di Maribor, Jumat 17 April 2009, kami mulai cek panggung. Seluruh rangkaian acara berlangsung di Union Hall, sebuah gedung serbaguna dengan akustik yang sangat baik. Disain interiornya ternyata cukup mengesankan, tidak seperti tampilan luarnya yang biasa saja. Dalam ruangan itu, satu penyanyi saja nadanya tidak tepat, langsung ketahuan. Menurut penonton setia
kami, Mbak Binu, vibrato berlebihan juga terdengar sangat mengganggu dalam ruangan seperti itu. Kami langsung *adjust* suara kami di situ. Tapi, Avip sepertinya tidak cukup puas.


*Diomelin Habis-Habisan di **Maribor***

Adik-adikku, teman-temanku, brondong-brondong dan para abege, terutama, ini adalah pelajaran yang harus kalian kuasai DAN praktikkan ketika kalian ikut kompetisi di luar negeri:

*1. **Stick to the main cause you are here!*
Banyak yang berpikir bahwa ikut kompetisi di luar negeri berarti kesempatan untuk jalan-jalan. *Well,* tidak sepenuhnya salah sih. Tapi aku bisa bilang kalau itu tidak benar. Tujuan kita pergi adalah untuk MENANG di kompetisi, bukan cuma ikut, doremifasolasido, haha hihi, terus pulang, nggak dapat juara sama sekali. Untuk mereka yang otaknya hanya berisi acara jalan-jalan, mendingan berangkat tur sendiri saja deh, atau liburan sama keluarga. Jangan nebeng tim kompetisi. Itu tidak adil. Karena kami pergi untuk kompetisi.

*2. **Time is of the essence!*
Ada waktu buat foto-foto dan jalan-jalan. Ada waktu buat latihan. Sekali kalian melanggar garis demarkasi di antaranya, kalian mencari mati. Apalagi dengan konduktor sekelas Avip Priatna. Apalagi dengan kompetisi setaraf Maribor. Kak Avip tidak pernah tedeng aling-aling menegur nama para pendosa
selama waktu kompetisi, dan tidak berkompromi dengan ketidakdisiplinan. Kalimat beliau yang akan selalu aku ingat adalah “Kemenangan tidak dicapai dengan santai-santai. Semua harus kerja keras. Disiplin!” Dan dengan nada tinggi seperti itu, kami tahu bahwa ia benar-benar serius. Itu terjadi ketika latihan *ngaret* pada hari kedua gara-gara banyak yang kecentilan foto-foto dulu setiap 5 meter sekali dalam perjalanan pulang ke penginapan.

*3. **Nobody is perfect, but music HAS TO be perfect, uncompromisingly!*
Ini terdengar sangat menuntut, atau menakutkan, tapi demikianlah standar yang harus kami capai untuk sebuah kompetisi. *Good enough is never enough. *Tapi, kembali lagi, sekali kesempurnaan itu tercapai, *reward*-nya buat kita juga.

*4. **Once everything is sung and done, you may have your yuletide of joyful ride.*
Aku selalu membayangkan, betapa sebuah perjalanan menempuh ribuan mil akan terasa sangat berarti jika kita telah menampilkan yang terbaik (dan menang) baru kemudian kita menghabiskan sisa waktu dengan bersenang-senang. Dalam peribahasaku, menang dahulu, bersenang-senang kemudian. Tenang aja, ada koq waktunya buat perayaan, asal menang dulu.


*Stres Menjelang Konser Pembukaan*

Maka tersebutlah, sesaat setelah kami diomeli habis-habisan itu, beberapa penyanyi tampak agak stres. Reaksi para pendosa juga beragam. Ada yang ketakutan. Ada yang merasa tidak enak badan. Ada yang tidak terima. Ini biasanya yang jam terbang kompetisinya masih rendah. Kepada mereka biasanya
para senior mencoba menyabarkan. Namanya juga kompetisi, *pressure*-nya memang begitu. Tuntutannya jelas tidak seperti tur konser yang masih mengizinkan penyanyi haha hihi. *“So, either you get used to it... or just go home tomorrow first time in the morning!”* Setegas itu. Sesederhana itu.

Bukan petarung sejati namanya kalau tidak bangkit dan belajar dari kesalahan. Sebagai penampil terakhir dalam konser pembukaan, penampilan kami dinilai cukup mengejutkan (dalam konotasi positif). Katanya *sih*, yang lain lagu-lagu rakyatnya semua bertema dan berwujud klasik. *Hyaeyyalayyaaah!*Namanya juga negara Eropa, yang namanya *folk song*, pastinya berbau klasik. Sementara kita? *Ya owli! *Dengan kostum Dayak yang rada-rada seronok itu berjingkrak-jingkrak garang, teriak-teriak menabuh genderang perang, melengking hingga nada C#3. Dari mana lagi kalau bukan dari Indonesia?


*Hari Pembantaian Massal*

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari pembantaian massal 35 penyanyi BMS dengan cara yang sangat keji. Mereka dibunuh satu persatu hingga otak dan usus mereka terburai....

Woyyy!!! Apaan nih? Koran Lampu Merah?

Ulang!

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari-H kompetisi, di mana setiap peserta harus menampilkan dua program sekaligus (*compulsory & free programs*). Setiap program dibagi ke dalam dua sesi. Waktu antaranya sebisa mungkin kami manfaatkan untuk latihan, memperbaiki kekurangan kami pada setiap lagu, menyempurnakan intonasi dan dinamika, serta mengingatkan semua hal yang sudah diajarkan sang konduktor kepada penyanyi tiga bulan terakhir ini.

Semua peserta ditempatkan dalam ruang-ruang kelas sebuah sekolah (yang sedang libur) di Razlagova ulica. Sebelah-sebelah kami, Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan Victoria Chamber Choir (Hongaria) saling adu vibrato. Yah, maklum, doyan makan ular dan mie keriting, hehehe...

Saat kami tampil untuk program wajib, lagu pertama aku nilai kurang sempurna. *Sancta et immaculata viriginitas, quibus te laudibus, efferam, nescio.* Kalimat-kalimat itu. Ahhh! Sebenarnya bisa lebih berbentuk lagi. Waktu latihan, kami sering lebih bagus dari itu. Untungnya, lagu kedua, Salve Regina, yang menjadi andalan kami, sepertinya cukup mulus. Konon kabarnya, ada penonton yang dibuat sangat terharu dengan keindahan lagu ini, sampai menitikkan air mata. *Salve **regina** mater misericordiae, vita dulcedo et spes nostra salve.* Itu ia ungkapkan setelah menyaksikan babak ini. Begitu terharunya mungkin, sampai beliau berniat mengundang kami kembali ke Eropa tahun depan. *Well, we’ll see lah.* *SINGLISH MODE ON*

Dari dulu, aku selalu percaya bahwa untuk sebuah kompetisi (atau sekedar konser biasa) kamu harus siap 150%. Kenapa? Karena yang 50% akan habis untuk *stage fright* alias demam panggung.

Lagu *Gloria* pada program bebas kami jelas belum sesiap itu, karena entah bagaimana, pada bagian ketika bass bernyanyi sendiri, sempat terdengar disonansi yang tidak pada tempatnya. *Argghh!!!* Gemes rasanya, karena dari telingaku sendiri aku bisa menangkap kalau itu nadanya ada yang salah. *Kenapa nggak langsung nyetem sih?*

Ternyata menurut analisis Harland Hutabarat, yang membantu memperkuat bass 2 di tim konser ini, sangat sulit membuat bass benar-benar menyatu di lagu ini karena nadanya dibuat *staccato* sepanjang bagian itu, dan hanya dalam dinamika piano. Celakanya, *blocking *penyanyi pada keseluruhan program dibuat campur baur. Sebelah kiri-kanan, depan-belakang, tidak boleh suara
yang sama. Ibaratnya, setiap penyanyi memang harus benar-benar mandiri untuk bersama-sama menjaga nada dan nuansa sepanjang lagu tetap pada kesepakatan semula. Stabil dan serempak.

Benar-benar tidak mudah.

Pada lagu Monteverdi dan Whitacre, untungnya kami lebih bisa menjaga kesempurnaan vokal, meskipun tetap saja, aku merasa lagu *Hope, faith, life, love…* sedikit turun di bagian akhir.

Setelah selesai dengan kedua program itu, rasanya aku belum bisa bernafas lega. Masih terasa ada banyak kupu-kupu yang mendesak ingin keluar dari dalam perutku. Aduh! Masuk 5 besar gak ya? Perkiraanku, Victoria Chamber Choir dan Mornington Singers pastilah masuk, melihat profil mereka.

Ternyata aku salah besar.

Dua-duanya tidak masuk. Yang masuk adalah KUP Taldea (Spanyol), Sõla (Latvia), Komorni Zbor AVE (Slovenia), Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan… BataviaMadrigal Singers (Indonesia). Ah, syukurlah.

Berarti kami berkesempatan menyanyikan lagu the Beatles itu.

Esok harinya, kami langsung bekerja keras lagi untuk babak Grand Prix. Avip sempat menegur keras salah seorang sopran karena ketika cek panggung (lagi), matanya belanja ke mana-mana (padahal belum ada penonton juga).

Bolak-balik dari penginapan ke Union Hall ke Dressing Room ke tempat makan membuatku lumayan pegal juga. Tapi, pikirku, mending habis-habisan sekarang daripada menyesal nanti. Sudah bagus kita diberi kesempatan untuk maju ke babak final. Jangan sampai ini semua sia-sia.


*Makan Sayuran Basi? Ewwh!!!*

Dari dulu, aku kurang bisa beramah tamah dengan yang namanya salad. *I mean, I’m fine with salad, but not with that stinky dressing and freaking sour taste. That* was *just hideous!*

Selama aku di Slovenia, rasanya makanan di 3 tempat yang berbeda pada dasarnya sama saja. Diawali dengan ritual salad sayuran berbau dan berasa basi itu, yang pasti langsung aku singkirkan. Kemudian sup (yang aku sebut *maggot soup* karena tampak seperti ulat-ulat kecil berwarna kuning – sebenarnya
cukup enak asal imajinasinya jangan kelewat liar kayak gue aja!). Lalu, biasanya mereka menghidangkan ayam (karena *project manager* kami meminta panitia menyediakan hidangan *‘no pork & no alcohol’*, mengingat cukup banyak di antara kami yang muslim). Biasanya menu ditutup dengan *apple strudel* atau *cake*.

Untuk urusan kuliner, maaf-maaf saja, pecel ayam sama tongseng kambing Benhil masih jauh lebih enak. Lebih maknyus! Sambal botolan cap “Dua Iblis” yang aku bawa menjadi tambahan citarasa pelipur lara di sana. Sayang sekali, kelak, petugas airport di Austria merebut saos botolan itu dari tanganku. *“Serahkan saos itu padaku, Reynaldo!” “Tidak, Maria Elena. Saos ini adalah hidup dan jiwaku.”*

Hallah!


*Ngarakijang di Grand Prix *

Minggu siang, berbusana Roberto Cavalli dan bersepatu Jimmy Choo (Yea, right! Hehehe), dengan nuansa Bali warna-warni (kuning dan pink buat soprano-alto, ungu dan hijau buat tenor-bass), kami berarak-arak tebar-tebar pesona di sepanjang jalan Partizanska cesta. Setelah sepanjang pagi kami
dipingit di hostel demi sebuah kesempatan kedua bernama Grand Prix, dan setelah (aku) hanya menyantap sereal biji-bijian (makanan hamsterku) untuk sarapan pagi, kami menuju Union Hall. Lily, *choir guide* kami yang bergaya rambut gimbal ala rastafarian itu dengan setia memandu kami dari dan ke tempat latihan, restoran, dan gedung konser.

Tentunya tidak setiap hari bule-bule itu melihat pemandangan Oriental di jalan raya mereka, dan tentunya tidak setiap hari pula kami dengan tak tahu dirinya bergerombol di pedestrian sambil bernyanyi-nyanyi Honey Pie. Ketika pandangan orang-orang tertuju pada keanehan yang menarik itu, kami tak lupa
mengumbar senyum, sambil berharap bahwa mereka menangkap imagi tentang keramahan budaya Timur.

Kami melewati jalan yang sama, dan itu berarti melewati godaan yang sama: ES KRIM! Demi melihat mata para penyanyinya kelap-kelip memandang es krim yang tampak sangat lezat itu, konduktor kami langsung wanti-wanti supaya kami menahan diri. *Tidak ada es krim sampai seluruh rangkaian program kompetisi dan tur konser berakhir!* Di sebelah tukang es krim itu, ada juga tukang kebab yang tersenyum sumringah sambil menyapa kami saat kami lalu di depannya. Belakangan aku tahu alasan di balik senyuman si tukang kebab itu: Mbak Mita, *project manager* kami, membeli kebab 3-Euroan sebanyak sekitar 30-an porsi untuk seluruh penyanyi. Mungkin kami dia anggap penglaris jualannya hari itu. Aku ingat, dia bahkan mengucapkan *“Good Luck!”*

Dengan keberuntungan kebab Slovenia, beserta seluruh kemampuan tim, tampillah Batavia Madrigal Singers sebagai peserta undian pertama siang itu. Selalu ada perasaan gugup bercampur khawatir menjadi peserta pertama, karena biasanya juri belum memiliki standar penilaian yang dapat dijadikan bahan referensi mengenai penampilan seperti apa yang layak mendapatkan nilai, misalnya, 91. Tapi, menurut konduktor kami, ada bagusnya juga menjadi penampil pertama, karena itu berarti kami bisa segera menyelesaikan seluruh babak kompetisi ini. Setelah itu, paling tidak kami bisa sedikit bernafas...
(padahal belum bisa lega juga sampai dengan pengumuman pemenang pada malam harinya).

Dengan nyaris tanpa dosa yang berarti, tiga lagu pertama, *Nachtwache II, Dieu! Qu’il la fait bon regarder, *dan *Ov’e lass, il bel viso?* kami tampilkan dengan sebaik-baiknya. Ada bagian di lagu Lauridsen yang sangat memerlukan konsentrasi penuh pada gerakan tangan konduktor, jika tidak ingin
ritmus lagu menjadi berantakan. Aku sempat agak khawatir juga, tapi syukurlah seluruh penyanyi kelihatannya memang sudah cukup bisa menghafalkan lagu ini, sehingga mereka tidak terlalu terpaku pada partitur. Dari jauh-jauh hari, Kak Avip meminta kami menghafal seluruh lagu, supaya kami lebih bisa mengikuti arahan beliau.

Dengan *blocking* yang berbeda, lagu Honey Pie dinyanyikan. Para tenor sudah diperingatkan untuk memperhatikan *release* pada akhir kalimat yang cenderung suka turun. Ya, begitulah, ada tantangan tersendiri menyanyikan lagu-lagu *jazz*, karena alih-alih memperhatikan intonasi, penyanyi lebih sering tergoda pada *style* bernyanyi, berikut bagian-bagian *portamento*dan *glissando* yang bertebaran di sepanjang lagu. Dan dengan rahmat dan berkat merekalah kemudian intonasi lagu suka turun. Sedikit akting di ujung lagu pada bagian ini (kebetulan salah satu penyanyi adalah bintang sinetron juga ^-^ --> bang Harland), membuat lagu ini memberikan nuansa tersendiri di antara program Grand Prix finalis lain yang melenggang dengan repertoar sakral penuh kekhidmatan.

Menutup program kami adalah ‘lagu kebangsaan’ Batavia Madrigal Singers, yaitu *Janger*, aransemen Avip Priatna dan Bambang Jusana. Dikomisi oleh PSM Universitas Parahyangan pada sekitar tahun 2000 di Linz, lagu ini tampaknya masih menjadi pilihan banyak paduan suara lain untuk mengetalasekan akar
budaya Indonesia, khususnya Bali. Mengapa selalu Janger? Karena lagu ini begitu saja memungkinkan banyak variasi koreografi. Dan dengan sendirinya, lagu ini masih memiliki daya tarik audiovisual untuk waktu yang tak terbatas. Di antara seluruh repertoar para finalis Grand Prix, rasanya hanya lagu ini yang secara musikal berbeda sendiri. Unik. Masih menarik.

Kasusnya tentu berbeda seandainya lagu ini ditampilkan di Indonesia, saking sudah terlalu seringnya lagu ini dibawakan oleh paduan suara lokal. Kami, meskipun demikian, tetap membawakan lagu ini dalam nuansa kesalihan para penari Bali yang dengan rendah hati menghibur para penonton. Aku rasa, bagi
mereka, lagu ini masih memiliki *charm. Timeless beauty!*


*3: Terbaik untuk Tahun Ini*

Menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Lima tahun terakhir ini, aku tahu benar betapa menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Kendatipun begitu, para pencari kenikmatan musik ini memang tidak pernah mati gaya mencari cara membunuh waktu. Sambil menunggu hasil pemenang Grand Prix, satu per satu paduan suara memprovokasi anggotanya untuk bernyanyi di Union Hall, di antara wajah-wajah penuh ketegangan para konduktor dan wajah sungguh-enak-dipandang sang *Master of Ceremony*, hehehehe.

Dari sayap sebelah kiri, terdengar lagu *Zum Tanze da geht ein Maedel* dalam versi bahasa Swedia dinyanyikan. Dari belakang, terdengar lagu rakyat Slovenia, atau entah dari mana, mungkin dari negeri Genovia ^-^ juga dinyanyikan penuh kecintaan. Dari Batavia Madrigal Singers... ah, kami terlalu pemalu untuk pamer suara :P, atau mungkin memang sudah pada kecapaian. Entahlah, tapi yang jelas, ketika satu per satu konduktor 12 peserta kompetisi dipanggil ke panggung, konduktor kami tampak agak *tense*. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika aku harus berada di sana.
Wah, pasti langsung mencoba mencari perlindungan. *God, I don’t wanna be famous! *:P

Satu per satu plakat keikutsertaan diumumkan. Menyusul kemudian penghargaan-penghargaan khusus untuk beberapa kategori. Dan, akhirnya, pengumuman untuk kelima finalis Grand Prix.

Ketika nama Sõla dan Zbor sv. Nikolaja meluncur manis dari mulut sang MC, kami langsung tahu bahwa kami masuk tiga besar. Wah! Senangnya. Ekspektasiku sendiri saat itu memang, jujur saja, tidak terlalu tinggi, karena menilai penampilan diri sendiri, aku tahu bahwa BMS bisa tampil lebih baik dari itu. Benar juga. Kami juara 3.

Terbaik untuk tahun ini.

Kami bersyukur bahwa sebagai peserta satu-satunya dari Asia tahun ini, terjauh dan tertampan (*hallah!*), kami berhasil menaklukkan kompetisi ini. Aku bilang menaklukkan karena kompetisi ini benar-benar tidak mudah. Dengan peta kekuatan tim saat ini, inilah yang terbaik yang bisa kami persembahkan untuk dunia paduan suara tanah air. Dengan prestasi ini, kami berharap yang lain juga tergerak untuk meraih pencapaian yang bahkan lebih baik lagi. Akan sangat membanggakan melihat nama paduan suara dari Indonesia sebagai pemenang salah satu kompetisi European Grand Prix, entah yang diselenggarakan di Perancis, Bulgaria, Italia, Hongaria, Spanyol, atau yang di Slovenia ini. *Mari kita gulingkan kekuasaan Filipina sebagai goliath kompetisi Eropa yang berasal dari **Asia**!* *CHE GUEVARA MODE ON*


*Desaku yang Kucinta, Ljutomer Namanya*

Pulang dari Union Hall, tanpa banyak ba-bi-bu, kami langsung berangkat untuk rangkaian Tur Konser kami. Program pertama adalah konser di sebuah desa kecil bernama Ljutomer, sekitar 2 jam dari Maribor. Desa ini tampak bagi kami seperti tanah yang terlupakan di sisi entah-sebelah-mana dunia. Tapi orang-orang yang kami temui di sana, *alamaaak!* ramahnya.

Tersebutlah Komorni zbor Orfej, sebuah paduan suara lokal di sana, sedang memperingati 20 tahun berdirinya komunitas musik itu. Kedatangan kami ke sana mungkin sebenarnya dimaksudkan sebagai sebuah wahana studi banding buat mereka. Aku sempat takjub, di desa sekecil itu, apresiasi para penduduknya terhadap paduan suara sangat kentara. Apalagi begitu konser dimulai, dengan program gabungan antara *Eternal Light* dan *Sanguinis choraliensis!* mereka benar-benar menunjukkan antusiasme mereka pada musik kami.

Setiap kali lagu selesai dibawakan, tepuk tangan meriah mereka juga sepanjang lagu itu. Kami sampai sempat menyebut mereka audiens yang gemar sekali bertepuk tangan. Lama sekali. Seorang MC, mungkin semacam Pak Lurah di sana, membacakan profil kami, dan pengantar di setiap sekuens konser.
Program kami sendiri memang, menurut kodratnya, terbagi ke dalam beberapa kelompok genre: sakral klasik, komposisi kontemporer, lagu pop, jazz, dan folksong.

Dalam ruang gymnasium berakustik indah itu, kami benar-benar merasa bahwa orang-orang ini, dalam kesederhanaan hidup pedesaan ala Eropa timur, sangat menghargai keragaman budaya dalam bentuk paduan suara. Mungkin begitulah, karena musik paduan suara memang lahir dan berakar kuat di Eropa, tampaknya mereka tidak kesusahan mencerna musik kami, kendatipun mereka tidak selalu mengerti bahasanya.

Sangat berkesan.

Ada tapinya lhoo.... Waktu bernyanyi lagu Janger, ada bolpoin salah seorang sopran yang jatuh. Dan kami semua tak sanggup menahan rasa ingin tertawa, sehingga encore yang seharusnya sakral-khidmat itu menjadi agak terlalu ‘riang’.

Habis konser, baru meledaklah tawa kami, berderai tak kunjung henti hingga sekitar 20 menit kemudian.

Pulang konser, kami dijamu di sebuah Rumah Makan “Sederhana”. Yang ini bukan masakan Padang lho yaaa, tapi, memang sebuah rumah makan yang berada dalam setting peternakan yang sederhana dan bersahaja. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut aroma kandang. Sampai tidak enak, mau tutup hidung, takut dianggap kurang sopan. Tidak tutup hidung, aduuh, baunya. Salah seorang pemuda berpenampilan *hick* berkelakar memaklumi kekikukanku. Ini jadinya aku atau dia yang *hick*?

Saat ini, suaraku mulai terasa tidak enak. Stamina vokal terasa sekali turun ketika jarum jam mendekat ke angka 12 tengah malam. Ritual makan seperti biasanya juga berlaku di sini, dengan salad sayuran, sup jamur, ayam-ayam, dan *apple strudel*. Tapi aku tidak terlalu berselera, karena rasa ngantuk
yang tak tertahankan. Ingin rasanya jatuh ke pelukan bantal-bantal berbulu angsa sambil dinyanyikan lagu Wiegenlied.


*Magyarorszag!*

Tur konser berlanjut ke kota lain, negara lain, keesokan harinya. Budapest.

Memasuki kota penuh pesona mistis dari arah Buda (belakang Royal Palace), aku merasakan kesan berbeda dibandingkan ketika aku mengunjungi kota ini bersama AgriaSwara 2 tahun yang lalu. Ternyata Budapest tidak seasing yang aku kira. Dulu aku sempat tersesat jam 10 malam sendirian di salah satu lorong gelap kota ini, mencoba mencari penginapan bernama Marcopolo Hostel. Dulu aku tak bisa emindai peta kota ini ke dalam otakku sampai-sampai mencari stasiun Astoria dan Blaha Lujza ada di mana saja butuh waktu.Padahal dua-duanya tepat lurus saja dari Erszebet hid. Kemampuan spasial-direksionalku yang tidak terlalu bagus sering membuatku tidak bisa langsung mengetahui medan tempat aku berada. Gawat juga kalau aku jadi anak milyuner, bisa-bisa setiap saat jadi korban penculikan.

*“Jose Fernando, suamiku... anak kita Reynaldo diculik lagi!”*

Sesuai jadwal, kami konser di Tivoli Museum tak begitu jauh dari Opera House Budapest. Dengan program konser yang dipilih berdasarkan kesepakatan bersama, atas dasar suka-sama-suka, tampillah kami di sebuah ruangan yang mirip Teater Salihara, Pejaten, dengan akustik yang tidak bagus sama sekali. Aku merasa, banyak lagu gagal kami tampilkan maksimal gara-gara urusan akustik, plus stamina vokal banyak penyanyi, termasuk aku, yang mulai turun. Benar-benar tidak enak bernyanyi saat itu. Sebagai penyanyi di barisan Tenor 1, tersiksa benar rasanya saat suara kamu menjadi parau, sampai nada E saja harus pakai falsetto. Itu pun terdengar kurang bagus. Ah! Rasanya ingin jadi penonton saja.

Bermalam di Metropol Hotel Budapest, para Miss Jinjing dan Miss Shopping mulai tak tahan menyalurkan bakat-bakat terpendam mereka membeli barang-barang bagus dengan harga terbaik. Selama di Slovenia, kami sama sekali tidak diizinkan berbelanja, atau pun jalan-jalan, saking penuhnya jadwal kompetisi. Di Budapest, semuanya membludak begitu saja.

Aku sendiri mencoba untuk tetap waras mengatur *budget*, karena masih ada satu negara lagi yang harus kami datangi. Dengan anggaran terbatas, tentunya aku lebih tahu diri. Tapi, untuk melewatkan kesempatan menjelajahi sudut-sudut kota ini tentunya tak aku lewatkan.

Aku tidak sempat mendatangi beberapa situs menarik di Budapest tahun 2007, maka kali itu aku bertekad akan menyelesaikan eksplorasi kota yang menggembar-gemborkan julukan “City of Senses” ini.

Tapi, lagi-lagi, karena keterbatasan waktu juga, aku tetap saja tidak sempat mengunjungi Basilika Szent Istvan, tidak sempat menyeberangi Danube untuk melihat Máttyás Templom yang sepertinya sudah selesai direstorasi. Teman sekamarku sepertinya malah lebih beruntung karena dia sempat mengunjungi
Gellert Hill. Ketika aku hanya bisa melihat foto-fotonya, aku hanya mengatakan ini pada diriku sendiri. *“I’ll sure be back here some other day.”*

Esok harinya, kami dijadwalkan konser di Istana Ratu Elisabeth di Gödöllö. Seperti ketika tahun 2007 aku konser bersama AgriaSwara di sini, istana ini masih memiliki kecantikan arsitektur Barok yang penuh lekuk sensual, seolah setiap malam ia didandani habis-habisan supaya tetap terlihat... *fabulous*. Dan ruangan itu pun masih tetap sama. Akustiknya yang indah, ornamennya yang cantik, dan orang-orangnya yang antusias.

BMS agak kesulitan mengatur formasi lagu *Immortal Bach (Knut Nystedt)*, karena ruangan tidak terlalu besar. Ini adalah lagu di mana 35 penyanyi dibagi ke dalam 5 kelompok kecil yang bernyanyi mengelilingi penonton, membangun efek bunyi diskordan yang agung, masif, dan menggetarkan. Selalu menyenangkan menyanyikan lagu ini, meskipun kami harus susah payah membangun kontinuitas bunyi yang bisa mencapai 24 *beat* setiap suku kata. 24 ketukan! Yang hamil bisa langsung melahirkan kalau menyanyikan lagu ini. ^-^

Oh ya, pada konser di Gödöllö ini, aku agak kepayahan menahan hasrat ingin pipis dari awal konser ^-^. Segera setelah *encore* selesai, aku langsung mengendap-ngendap keluar untuk kemudian *ngibrit* ke toilet. Pelajaran buat semua: sebelum konser, pastikan kamu ke toilet dulu!


*Eine schöne Erinnerung*

*One sweet memory*. Dan seperti itulah manisnya es krim Zanoni yang AKHIRNYA kami nikmati juga.

Kami berada di Wina, Austria, menutup perjalanan kami yang penuh petualangan musikal di Eropa. Kami berada di kota tempat konduktor kami menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk belajar musik dan *choir conducting*. Di kotaini, beliau dengan antusiasnya menunjukkan pada kami ini dan itu. Gedung
rektorat universitasnya, Istana Belvedere yang menawan, Museum Kembar di Maria-Theresien Platz, Gedung Opera, Stephansdom yang tampak bagai katedral raksasa berjelaga, dan tentu saja, Neue Hofburg yang spektakuler.

Kami konser di salah satu bagian Hofburg, yaitu Völkerkunde Museum, sayap sebelah kanan. Duduk di antara kursi penonton adalah profesor kak Avip sendiri, beserta kolega-koleganya di Wina. Gaung ruangan yang agak berlebihan tidak menyurutkan niat kami untuk mengakhiri tur konser ini dengan penampilan terbaik. Aku bersyukur karena suaraku sudah mulai kembali normal. Dan kami dihadiahi makanan yang sudah lama kami nantikan.

Makanan Indonesia!

Tante Lena, salah satu kolega konduktor kami yang tinggal di sana, menjamu kami dengan gado-gado yang, sebenarnya sudah dimodifikasi, namun tetap lezat. Jarang, saya ulangi, jarang, saya menambah porsi makanan. Tapi kali itu dengan malu-malu aku bilang, *“Tante, gado-gadonya boleh nambah nggak?”*^-^

Di sini, di antara gemerlap lampu kota, aku menemukan diriku bersenda guraudengan impian dan masa depan. Aku senang karena aku masih diberi kesempatanuntuk menikmati saat-saat seperti ini. Saat dirimu merasa lengkap sebagai manusia. Aku rasa aku akan terus melakukan hal ini untuk waktu yang lama ke depan. Musik membuat segalanya menjadi mungkin!

Meskipun kamera yang aku bawa rusak sehingga aku tidak sempat bergabung dengan proyek Narsis para pelacur seni ini, aku tidak sedih sama sekali. Aku akan kembali lagi ke kota ini, suatu hari nanti. Aku akan menonton salah satu (atau siapa tahu, mungkin beberapa) konser Wiener Saengerknaben yang
sejauh ini hanya aku dengarkan dari koleksi CD Boys Choir-ku. Aku akan menonton opera di salah satu gedung opera paling terkenal di dunia ini. Aku akan menghabiskan waktu lebih lama menikmati keindahan kreasi manusia yang tak lekang oleh waktu di Wina. Aku akan berkunjung ke Salzburg, ke kotakelahiran Mozart! Aku akan... wah, banyak deh!

Dan begitulah, seperti sebuah *prelude* singkat, aku menghabiskan 8 hari di Eropa senilai pengalaman seumur hidup. Menghargai sesama teman, menghargai keragaman, menghargai pencapaian, sekecil apa pun.

Semoga menjadi inspirasi ^-^

*Wina, **24 April 2009** *

--
Fibonaccily yours,

Mr Hendra Y Agustian SSi
Primary Years Programme Mathematics Coordinator

Sekolah Victory Plus
International Baccalaureate (IB)
Jl. Kemang Pratama Bekasi
Phone +62 21 8240 3878
Fax +62 21 8242 6326
www.sekolahvictoryplus-bks.sch.id
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...