Monday, March 23, 2009

Aborsi, Gpp Gak, Seehh??

Baru2 ini ada sebuah berita yg cukup disorot mengenai terbukanya tabir *halah!* sebuah klinik aborsi illegal. Di situ dibilang kalau pemasukan klinik itu mencapai 50 jt rupiah. Angka yg tidak mengejutkan, mengingat biaya aborsi yg kalo gak salah berkisar antara 2jt-5jt, tergantung usia si janin. Ditambah lagi banyaknya demand dari wanita2 yg membutuhkan jasa aborsi tsb.

Melihat hal tsb, ada 2 hal yg terlintas di kepala gw. Satu sisi, gw ingin tahu hal2 apa yg membuat para dokter bertahan utk tidak melakukan aborsi illegal tsb. Secaraa menggiurkan benerrr. Menurut gue, pasarnya jg masi banyaak. Liat aja klinik2 aborsi di you-know-where, kyknya laris2 ajah. Masih sanggup melawan godaan dan menjunjung etika kedokteran?

Hal lain lg adlh keraguan spt yg muncul pd judul tulisan ini. Gw bertanya2, hanya seberapa banyak orangkah yg menganggap aborsi (di luar alasan medis) itu hal yg tidak manusiawi? Ataukah sudah menjadi hal yg biasa dan wajar dilakukan? Tingginya permintaan akan aborsi semakin membuat gue bertanya2. Bhkn dr teman2 gw sendiri, ada bbrp org yg sudah melakukannya, dan kemudian menjalani kesehariannya tanpa ada perubahan yg berarti. Dalam arti, mereka tetap melanjutkan perilaku2 yg beresiko akan membawa mereka utk kembali melakukan aborsi. Bahkan ada yg sudah melakukan aborsi lebih dr sekali.

So, what do u think? Gpp ato pp?

Tuesday, March 17, 2009

Siapa yang Benar? Orangtua atau Anak?

Hr Minggu kemaren sang pendeta di tempat gue pelayanan sempat membahas tentang kebiasaan orang Batak di kampung yang disebut "ma-meme" (ntah gimana nulisnya). Itu adalah kebiasan di mana orang tua akan mengunyahkan makanan terlebih dahulu baru kemudian diberikan kepada anaknya. Dengan maksud bergurau, si pendeta berpendapat bahwa air liur dari orang tua itulah yang "menjinakkan" anak2 mereka. That's why menurutnya anak2 di kampung lebih "jinak".

How I hate that word! Jinak? Tame? Liat aja deh definisinya di kamus!

Is that really something parents want their child to be? Well, mungkin ini pendapat gue saat ini, ketika posisi gue masih menjadi posisi anak, belon pernah merasakan menjadi orang tua yang sesungguhnya.
But don't u think it's unfair? Apakah seorang anak harus sepenuhnya tunduk kepada orang tua? Apakah anak tidak berhak menyatakan pendapatnya, ato bahkan merasa keberatan atas pelakuan orang tuanya? Apakah anak juga harus mengikuti kehendak orang tua ketika mengambil keputusan?

Jangan berpikir gue berkata begini karena jeritan gue terhadap orang tua gue semata-mata. Karena berdasarkan pengalaman, some people pernah langsung men-judge orang tua gue secara negatif ketika gue menulis sebuah perbedan pendapat antara gue dan orang tua. 1. Belon tentu karena berbeda pandangan, lantas orang tua gue langsung menjadi buruk. 2. Gue bicara ttg orang tua secara umum.
Terutama soal "menjinakkan anak" ini, gue bicara ttg orang tua secara umum.

Banyak orang tua pengen punya kontrol terhadap anak yang sangat kuat. Pandangan bahwa anak harus tunduk terhadap orang tua (spt binatang pada tuannya?) seringkali melibas habis hak anak untuk berpendapat dan mengekspresikan isi pikiran dan hatinya. Bahkan mereka tidak tahu persis kapan itu harus disudahi. Tidak pernah ada kata "cukup dewasa" kali yaa dlm pandangan orang tua terhadap anak? Walaupun berdasarkan banyak pihak, usia 18 telah ditetapkan sebagai usia dewasa, di mana seseorang telah memiliki hak sepenuhnya atas dirinya sendiri, tapi coba kita lihat pada prakteknya. Apakah demikian?? Kenyataannya masih banyak orang yang walupun sudah cukup dewasa (bahkan telah sangat dewasa), dalam mengambil keputusan untuk dirinya dan masa depannya saja masih dimiliki oleh orang tuanya. Persetujuan orang tua adalah mutlak! Well, gak mau bilang bahwa pertimbangan orang tua pasti salah, tapi gak sedikit juga sekedar perbedaan cara pandang jadi masalah. Banyak hal yang masih penting buat orang tua, tp buat anak tidak, dan lain sebagainya.

TETAPI!

Sekali-sekali bisa juga lihat dari sisi sebaliknya. Walopun setiap manusia memang punya hak atas dirinya sendiri, tapi bukan berarti harus liar seliar-liarnya, doong? Bukan berarti gak mau terima masukan. Kadangkala pertimbangan orang yang lebih memakan asam-garam kehidupan ada benarnya juga. Memang keputusan tetap di tangan kita. Tapi ketika keputusan yang kita ambil mengarah ke arah yang salah, kenapa juga kita nggak buka mata, telinga, dan hati lebih lebar kepada pandangan orang-orang sekitar kita? Terlebih jika hal tersebut sudah jelas-jelas berbahaya dan bisa membawa dampak yang panjang bagi kita di masa depan kita nantinya.

Gue punya seorang teman yang baru-baru ini menghilang dari rumahnya. Gue kurang tahu pasti apa penyebabnya. Yang pasti karena perbedaan pendapat kali yee. Anak merasa dirinya telah dewasa dan tidak mau dibatasi, sementara orang tuanya merasa ingin mengontrol anaknya karena mereka merasa anaknya sudah tidak sesuai dengan jalan yang seharusnya.

Well, if u read this, my friend, I think u should think about it. Kita bukan manusia sempurnya, cara pandang kita bisa saja salah. Jangankan orang tua lo. Kami temen2 lo aja lately merasa khawatir sama elo. Kami sama sekali nggak ngelarang elo buat having fun and enjoy your life. Tapi kita2 juga akan jadi jahat ketika kita tahu elo sedang menyia-nyiakan hidup lo, dan kami membiarkannya. Life's hard, babe! We should fight for it! Menurut lo, apakah bisa elo berjuang nantinya kalo modal lo dan senjata buat bertarung pun nggak punya? Mau kerja apa kalo kuliah pun nggak tamat2? Mau netek terus sama orang tua? BASI!! Mungkin orang tua lo kaya untuk saat ini, tapi sampe kapan?? Mau cari suami kaya?? Hmm, pria kaya juga pasti akan memilih yang terbaik buat jadi istrinya, darling. Paling mentok jadi temen tidurnya doang. Marah dibilang begitu? Well, kemungkinan utk kejadian begitu mah besar kalee. So, respect urself better, girl. Jangan sampe elo cuma dipandang sebagai seonggok daging, but a human being instead.

Come home. Respect urself. Tell could tell ur parents to stay out of ur life as long u're in a good control of it. U can not tell them to do so if u're suck in doing it. Be responsible. Grow up. Life's hard. U should fight for it. Don't sleep to long. Wake up, it's time, before it's too late.

We love u, girl...
We care.
That's why we dare to do such things.

Is It Too Much For a Friendship?

Have u ever feel dissapointed? In a relationship? Do u realize that friendships also take big part of our journey in life?

Just curious what other people think of a friendship, what defines it. How do u differ the not friend, friend, best friend? What do u expect of such a relationship? Any hopes? Any sacrifice needed? Any rules? Any ethics? Any commitment? Any special behavior? Anything for granted?

Gue gak tau. Knp "gue merasa" (meaning : berdasarkan persepsi gue, artinya bisa aja salah) seringkali kecewa utk urusan satu ini. Mulai dari pertemanan sejak kecil.
1. Kecewa ketika mulai hitung2an jumlah kunjungan ke rumah masing2. I've visited her house for many times, but she (until now actually) never done that.
2. Kecewa ketika seorang sahabat menelantarkan gue ketika habis JJS (Jalan-Jalan Sore), pdhl wkt itu gw mau ikut karena dia menjanjikan abangnya akan mengantarkan gw pulang. Fakta? She even didnt ask for it!
3. Kecewa ketika seorg sahabat memilih utk lebih dekat dgn org lain selain gw. Pdhl dia bisa kenal org tersebut jg karena gue.
4. Kecewa ketika 2 org sahabat yg gw kira benar2 peduli sm gue, mengingat frekuensi komunikasi yg amat sangat intensif, ternyata sama sekali tidak peduli sama gue. Ketika mereka memulai sebuah hubungan asmara (elah, intinya jadian, kalo kata anak ABG), di hari berikutnya mereka menghilang dlm sekejab! No contacts, AT ALL! Komunikasi berikutnya? Di hari putusnya mereka, which is sekitar setahun berikutnya. Haha, naif sekali kaw, Obii. Apa yg bisa kau harapkan dr ssorg yg cm butuh sorg perantara instead of sorg teman. Hhh, so deceiving. They seemed care so much.
5. Kecewa ketika mendapati org2 yg gw butuhkan utk berada di samping gue ternyata tidak merasakan hal yg serupa.
6. Kecewa ketika sorg teman yg (lagi2) menurut gw cukup dekat, mengingat frekuensi kami menghabiskan waktu bersama yg cukup tinggi, bahkan tidak mau meng-approve testimonial gue (jaman frensteran dulu), ntah krn alasan apa. Pdhl apa yg gw tulis sama sekali bukanlah hal yang buruk. Adakah alasan ttt untuk menutupi suatu kedekatan pertemanan?
7. Kecewa ketika sorg teman yg menurut gw adlh termasuk org yg paling dekat dgn gw, sekitar 2 thn terakhir seolah2 membatasi diri utk menghabiskan waktu bersama gw. Ketika sedang dekat2nya, setiap hari dijalani bersama. Di waktu luang, kami (dan teman2 lainnya) melipir bersama. Skrg perbedaannya sangat signifikan. Tidak pernah lagi ada kata "Yuk" keluar dr mulutnya. Setiap rencana yg dibuat sudah tidak pernah melibatkan gue di dalamnya. Pdhl kalau kondisi masih sama, semuanya pasti akan kami lakukan bersama2. Skrg? Seakan2 gw tidak kenal dgn semua teman2nya. Kenyataannya, they used to be the ones I was spending my free-time most.
8. Kecewa ketika diberi harapan palsu. Ssorg yg berkali2 sempat membuat gue merasa dibutuhkan dan cukup spesial. Ketika gw sudah menyatakan kesediaan atas permintaannya, ternyata dia menghilang. Ternyata gue sudah tidak dibutuhkan. Sudah ada org lain utk memenuhi kebutuhannya, yg mungkin sbnrnya org utama yg diharapkannya. Ohh, ternyata gw cuma pemeran pengganti tooh...
9. Kecewa ketika gue mendapati bahwa gue sama sekali bukan hal penting dlm kehidupan ssorg yg (teteeup) menurut gue sempat cukup dekat dgn gue. Menurut gue pertemanan kami cukup unik, dimulai sejak 10 mnt awal perkenalan yg belum apa2 sudah berkonflik dan nyaris memutuskan hubungan pertemanan yg bahkan belum juga dimulai. Kejadian2 ajaib lainnya seolah2 terus2an menyertai hubungan pertemanan kami. Bahkan kami juga mengalami fase putus-sambung akibat perselisihan. Untuk diketahui, dia adlh org yg suka mengekspresikan hati, pikiran, ide, refleksi, dll. dlm bentuk tulisan. Namun lagi2 gue kecewa karena dari ratusan halaman yg dituangkannya dr kehidupannya, tak sedikitpun aku berada di dalamnya. Setiap apa yg sudah kami alami, terkadang berharap itu memberi sedikit saja dampak dlm kesehariannya. Setiap perbedaan pendapat yg terjadi, terkadang berharap itu memberi sedikit saja refleksi dlm dirinya. Setiap kebaikan yg kulakukan, terkadang berharap itu memberi sedikit kebahagiaan dalam dirinya. Ataupun sebaliknya akan kejahatan yg kulakukan. Namun ternyata gw salah. Bahkan utk org sedetail dia, kehadiran gw ternyata masih belum terdeteksi. Maybe I think too much of myself.

Lelah.
Lelah berharap.
Lelah kecewa ketika harapan2 gue tak terpenuhi.
Persetan dengan segala kebutuhan2 sentimentil itu!

Saat ini gw sudah cukup bahagia dgn org2 yg selalu bersedia menghabiskan waktu luangnya bersama gue. Walopun jarang sekali berbicara soal hati (yg biasanya gue jadikan alat ukur penting dlm mendefinisikan teman dekat), tp saat ini gw cukup merasa senang dgn adanya hal2 sepele seperti misalnya SMS2 atau telpon2 singkat, "Di mna bi", "Bi ditunggu di.....", "Ngapain lu cong", "Ehh, apalagii pulang jam segini?", etc. So simple, but at least aku tahu aku ada. Guys, thank u for all the fun, all the laughs, trimakasih juga utk segala ketololan yg sudah kita lakukan bersama, hehe.

Selain itu, gw jg cukup bahagia krn di luar sana gw tahu ada org yg peduli sm gue. Dengannya gw belajar memahami arti baru sebuah persahabatan. Tak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu bersama. Tak perlu ada komitmen apa2. Tak perlu ada special occassions. Tak perlu ada kewajiban2 tertentu. Banyak hal yg tdnya gue anggap penting, sama sekali gak penting baginya. So, jgn pernah berharap mendapatkan hal2 tengil kyk gitu terhadap dia. Tp gw tahu dia peduli. Gue tahu dia bersedia meluangkan hati dan pikiran ketika gue butuhkan. Gue juga tahu gue juga memiliki arti penting dlm perjalanan hidupnya. Thanks for everything, Sis...

Di sini jg gue ingin meminta maaf jika gue juga bukanlah sorg sahabat yg baik. Dengan segala keegoisan gue, kecuekan gue, gue yakin gw jg bukan org yg pandai membuat org lain merasa berharga. So, forgive me for not being a good BFF type. Sori gue karena gak pernah inget ulang tahun, gue bukan pemberi yang baik, dan segala kekurangan gue yang mungkin kurang bikin betah, haha.
javascript:void(0)
Well, di bawah ini gue akan tag org2 yg pernah atau masih menjadi org2 yg penting dalam keseharian gue. Masih dipertimbangkan apakah gue akan men-tag org2 yg pernah membuat gue kecewa itu atau tidak. But afterall, u're all precious to me, guys. Love u!

Happy Friendship Day!
(entah kapan pun itu) :p
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...