Friday, August 28, 2009

Setangkai (Daun) Mawar....

Siang itu matahari bersinar dengan teriknya. Sinarnya yang terang benderang terasa amat menusuk. Semua mahluk yang berada dalam naungannya pun kembali berpeluh. Rasanya seperti ada kemarahan di dalamnya. Sang angin berusaha meredakannya. Ia menghembuskan angin sejuknya. Namun sia2. Angin hangat yang berhembus seakan semakin menambah kegetiran hidup.

Di sebuah taman di tengah kota, tumbuhlah sekumpulan bunga mawar (dan daunnya) yang indah. Bunga berwarna merah itu sungguh menarik hati. Tak ada seorang pun kuasa untuk tak meliriknya. Bbrp org bahkan mencoba untuk mendekatinya, dan terlebih lagi, berusaha memilikinya. Namun mawar itu begitu sulit diraih. Ia tidak ingin sembarang orang dapat menyentuhnya. Duri2 yg tajam melindunginya dari tangan2 jahil. Meskipun demikian, kecantikannya tetap memanggil2 semua orang yang lewat. Sungguh menggoda untuk dimiliki.

Namun lihatlah di bawah sana. Ada setangkai daun yang sudah agak kecoklatan sedang bertahan hidup. Seseorang (atau banyak orang) telah melukai tangkainya. Luka yang kecil lama2 bertambah lebar, dan semakin melebar setiap kali ada yang menyentuhnya dengan cara yang salah. Entah salah siapa. Sentuhan2 itu yang terlalu kasar, atau memang sang daun yang terlalu rapuh.

Ia tahu, keluhan adlh pilihan yang salah. Tapi ia tak dapat mengingkari. Seandainya selama ini ia tidak tinggal di bawah bayang2. Lebih banyak memperoleh kekuatan dari sang matahari. Atau paling tidak, lebih bersahabat dengan matahari. Seandainya ia tidak terlahir sebagai tumbuhan. Tidak mengandalkan lingkungannya utk bertahan hidup. Seandainya ia adlh mahluk yang kuat. Ingin sekali ia memperjuangkan hidupnya. Atau, seandainya ia terlahir sebagai mawar, tentu lebih banyak keindahan hidup yang telah ia alami.

Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Setiap tetes embun telah dinikmatinya. Setiap siraman hujan juga sempat memberinya kesegaran. Setiap pelangi telah menghiasi hari2nya. Namun ntah mengapa dahaga itu tetap ada. Terutama ketika kegetiran angin hangat itu berhembus.

Ingin rasanya ia teriak minta tolong. Tapi kepada siapa? Tak ada yang peduli. Lihat mawar2 baru itu. Usia mereka masih begitu muda. Namun mereka telah menemukan tuannya. Rasa iri tak terelakkan. Kadang dengki pun muncul. Memaki setiap mata yang begitu haus akan keindahan. Kasihan sang daun. Betapa rapuhnya ia. Bahkan tanpa tersentuh, hatinya pun terluka.

Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi tangkainya terpaut. Satu2nya saluran pengharapan. Semampunya ia menghirup sari2 kehidupan. Ia tahu ia akan bertahan. Walau nafasnya tersenggal, itu takkan sanggup menghempaskannya ke tanah. Paling tidak sebelum waktu yang telah ditetapkan Sang Pencipta baginya. Tapi ia berharap kekeringan ini segera berlalu. Ia berharap di tengah kesederhanaannya ini, akan datang seseorang, merawat dan menjaganya, serta menjadikannya berguna.

Sekali lagi. Lihatlah ia. Daunnya semakin coklat. Kering. Rapuh.
Penuh harap...

Sunday, August 23, 2009

Sesak....

Ada sejuta rasa yang tak terungkapkan. Biarlah kusimpan semua ini, hingga ada tangan yang menengadah, terbuka untuk menerimanya. Hingga waktunya tiba, kan kucoba bertahan, walau semakin lama semuanya semakin menyesakkan dada. Berharap semoga semuanya menuju akhir yang indah. Ya, semoga saja...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...