Wednesday, November 04, 2009

Restu Ibu...

Walopun judul Notes ini terdengar seperti tulisan2 di belakang truk antarkota, but, believe me, I’m trying to write something deep here, hehe.

Tadi pagi, seperti biasa, gue mendengarkan Cosmopolitan FM dalam perjalanan menuju tempat kerja. Di Breakfast Club tadi pagi membahas tentang konflik antara orang tua dengan anak. Kasus yang cukup lama dibahas adlh kasus salah seorang cosmoners yang bernama Irna. Ia nekat menikahi seorang pria tanpa persetujuan orang tuanya. Entah apa alasan selengkapnya, tapi keberatan terbesar dari orang tuanya sepertinya karena usia lelaki tersebut yang jauh lebih muda daripada dia, yaitu 9 tahun lebih muda. Orang tuanya pun tidak menghadiri pernikahannya. Hingga beberapa tahun yang lalu, ia pindah ke Singapore bersama suaminya. Ia berusaha mengabari orang tuanya mengenai kepindahannya tersebut, tetapi tidak ada respon. Hingga beberapa saat yang lalu, ia berkunjung ke Jakarta, dan mendatangi rumah orang tuanya. Namun ia mendapati rumahnya kosong tak berpenghuni. Saat itu dia mendapati bahwa seluruh keluarganya telah pindah rumah 3 tahun yang lalu. Lebih dari itu…ternyata ibunya telah meninggal dunia 2 tahun yang lalu, dan ia tidak mendapat kabar mengenai hal tersebut.

Pagi tadi, BFC berusaha menghubungi ayah Irna. Hasil pembicaraan pertama, sang ayah hanya berkata sedikit, “Saya tidak mempunyai anak bernama Irna”. Hasil pembicaraan kedua, sang ayah tidak berkata apapun, namun Irna sendiri yang mengutarakan permintaan maafnya, dan berharap mereka dapat berhubungan baik kembali, seperti halnya sebuah keluarga.

Ohhh, betapa berat yaa menyatukan pandangan antara anak dan orang tua. Banyaaakk banget hal yang bisa menjadi konflik. Ketika mendengar kisah di atas, otak gue langsung muter kerass. Selama ini gue yakinn sekali bahwa gue akan bisa meyakinkan orang tua gue atas pasangan pilihan gue. Entah kenapa, dari dulu gue yakin sekali sepertinya pilihan gue bukanlah lelaki yang diharapkan orang tua gue (Batak-Kristen-Indonesia).
Gue orang yang sangat menghargai perbedaan. Gue bahkan merasa yakin bahwa gue bisa hidup dengan bahagia dalam perbedaan suku, agama, bahkan ras. Perbedaan suku buat gue sama sekali “gak penting”, dan tidak akan menjadi masalah. Dengan catatan, tidak ada orang2 di sekitar yang juga menjadikannya masalah. Selama ini gue yakinnnn seyakin2nya bahwa gue akan bisa menjelaskan pandangan gue itu kepada orang tua gue. Krn toh byk hal yang sebenarnya sangat penting buat orang lain, tp buat kita itu bukanlah hal besar. So, sangat mungkin bahwa hal yang menurut orang lain adalah masalah, buat kita bukanlah masalah.

Gue keras kepala? Mungkin. Selama ini pun di rumah gue dikenal dgn anak yang keras kepala. Buat gue, urusan pasangan hidup, semutlak2nya adlh pilihan gue. Tentu saja dengan juga mempertimbangkan hubungan baik dengan orang tua. Orang tua mnrt gue hanya sejauh memberi pertimbangan. Keputusan akhir tetap di tangan anak. Orang tua gue sih dr dulu juga sudah bilang kalo pilihan pasangan hidup lebih besar di tangan anak. Mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka yang mungkin tinggal beberapa tahun lagi, apalagi sampai mengorbankan kebahagian kami anak2nya yang masih akan menjalani hidup yang panjang.

Sejak dulu sih mereka sudah bilang begitu. Tapi sepertinya, dr kalimat2 yang mereka sampaikan dalam keseharian, dari harapan2 yang terungkap dari mereka, dari komentar2 spontan yang gue tangkep, gue tetep merasa itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika mendengar kejadian tadi pagi di radio. Gue semakin merasa tugas gue akan berat. Haha, belon tentu juga sihh gue akan dapet yg bukanorang Batak, orang Kristen, bahkan sepertinya bukan orang Indonesia, tapi berdasarkan pengamatan sih 80% kemungkinan gue akan mendapat pasangan di Batak-Kristen-Indonesia itu deh. Hmm, I hope I’m not too stubborn.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...