Friday, December 25, 2009

Harmoni Indah....

Ketika hati sudah tertutup, Ketika tak ada lagi saling pengertian, Ketika tak ada lagi yang mau mengalah, Harmoni indah itu hilang… Aku terlalu lelah untuk ini. Tidak malam ini. Spiritku sudah hilang. Maafkan aku. Kali ini… Biarkan aku menutup telingaku. Membuat harmoni yang indah di kepalaku. Dan terlelap dalam imajinasiku.

Be Grateful in Our Imperfections....


Kaki gue terhenti ketika ngelewatin hall kecil milik XXI Plasa Indonesia yang sedang memutar Christmas Concert-nya Andrea Bocelli. Tanpa gue sadari, kedua ujung bibir gue melebar membentuk sebuah senyum bahagia, dan pupil mata gue membesar dan berbinar. How I’m feeling blessed by the orchestra sound, the choir voice, and moreover, the Bocelli’s voice, singing the beautiful Christmas songs. Hati gue rasanya suejuuukk, hihi.

Lebih jauh lagi, gue kembali terkagum melihat sosok Bocelli, salah seorang penyanyi Tenor paling well-known di dunia ini yang telah kehilangan kemampuan melihat-nya sejak ia berusia 12 tahun. Gue denger2 sih memang kemungkinan kebutaannya tersebut sudah diketahui sejak dini, makanya ibu-nya pun meng-encourage dia untuk memanfaatkan waktu yg ada, belajar sebanyak mungkin, sebelum waktunya “tiba”. *glek* Seseorang dengan memiliki “kekurangan” di hal yg cukup primer seperti dia saja bisa mencapai titik itu? Perjuangan yg patut ditiru! Very inspiring!


Setelah itu, kaki gue terpaksa gue langkahkan kembali, krn film-nya udah mau mulai. Film yg berjudul “Lourdes”. Ohh, ntah film apa ituu. Kehabisan tiket, jd nonton film apa pun yg bisa deh. Berharap film yg berbau rohani ini cukup member inspirasi menjelang natal ini. Ternyata film-nya tentang seorang wanita cacat yang hidupnya benar2 tergantung pada orang lain. Dia hanya bisa terduduk di kursi roda tanpa mampu menggerakkannya, krn tangannya pun lumpuh. Ide ceritanya sih lumayan, cuma kemasan film-nya jelek bgt. Alurnya pun lambat luar biasa. Tp ada beberapa kutipan yg menarik dr film itu.

Ketika sorg wanita bertanya kepada pastor, apakah benar mungkin terjadi mujizat di Lourdes situ, dan fisik seseorang menjadi sembuh, sang pastor menjawab, “Our soul have to be healed first, then our body will.” Hmm, bener juga. Pertama2 hati kita harus bisa menerima kekurangan kita, maka semuanya pasti akan terasa lebih “mudah”.
Lalu suatu ketika sang wanita cacat tersebut mengungkapkan kemarahannya, bahwa terkadang ia sering merasa iri terhadap orang lain yg tidak memiliki kekurangan seperti yg dia miliki. Terkadang ia bertanya, “Why me?!” Kenapa bukan orang lain yang mengalaminya? Dia berharap bisa memiliki kehidupan “normal” seperti yang lainnya. Dengan santainya sang pastor menjawab bahwa “There’s no such thing called ‘normal life’. God create lives differs each other. Each one is unique. Nothing is better than the others.” *glek*


Yep, nobody’s perfect. No life is “perfect” or “normal”. Each of us has our own imperfections in life. Don’t get jealous. Don’t whine. Don’t judge urself less-lucky than the others. Don’t give up with the imperfections. Live with it! Fight with it! Then let God do the rest.

Merry Christmas, all… ^_^

Tuesday, December 22, 2009

Freelancer = Cannot Be Trusted ?

Pagi ini lagi2 gue gagal dlm meloloskan aplikasi sebuah kartu kredit. Kecewa? Nggak. Kesel? Lumayan. Gemes? Ho’oh! Bukan krn gagal dapetin kartu kredit! Tp lebih krn merasa “tidak dipercaya” untuk punya kartu kredit. Sbnrnya gue sih tidak pernah dengan sengaja mengisi aplikasi2 tersebut. Memang basically tukang jualan kartu kredit bertebaran di mana tohh. Apalagi via telpon. Haha, ngejar2 gue ngisi aplikasi aja udah kyk ngejar artis, krn selain nelponnya selalu pas jam kerja gue (mana nggak pernah nanya apakah telpon mereka mengganggu aktivitas kita apa nggak!), gue pun udah males2an, krn tau pasti bakal ditolak, hihi. Satu2nya alasan gue masih mau bantu ngasi data2 buat ngisi aplikasi yah semata2 buat ngebantuin si marketing kartu kredit lah. Lumayan kan buat nambah2in point-nya dia. Tp itu juga kalo timingnya pas yaa!

Lagi2 gue berpikir, woow, kasihan sekali kami2 yang tidak punya “slip gaji” yaa? Dianggap unsecure? Dianggap kemampuan finansialnya tidak mencukupi? Wiihh, harga diri, cyynnnn! I think I’m secure enough. Cuma memang gue tidak hanya bekerja pada satu “boss”, hidup dari satu slip gaji, sehingga penghasilan total gue dapat dipantau secara jelas. Hmm, slip gaji yg diharapkan ya? Sementara yg punya slip gaji aja kalo urusan aplikasi2 begini juga suka bohong2in toh. Kalo mau bohong, gue bisa aja bohong. Pura2 aja punya slip gaji (ternyata byk juga yah yg suka begitu). Ehh, nggak bisa ding! Huhh, kalo lagi kyk gini2 nih gue sebel dengan ketidakmampuan gue untuk berbohong! Haha!

Oh well, whatever lah. Memang sih gue agak tergiur sama fasilitas2 yg bisa diperoleh oleh orang2 dengan adanya kartu kredit. Kalo promo2 siihh, hmm….nggak terlalu kyknya. Gw masih cukup conscious untuk mengontrol jiwa konsumtif gue. Jd kyknya promo2 itu gak akan terlalu membutakan gue. Ohh, kecuali promo2 yg berhubungan dengan MOVIE yaa! Hahaaa! Bisa2 khilaf! Pheww, gak punya kartu kredit aja pola nonton gue gila2an! HAhaa! Sooo, no credit card, no problem! Gue masih bisa survive tanpa kartu kredit. I still know how to manage my money tanpa harus “berhutang”. Gw pun belon perlu merasa harus berbohong untuk bisa dapetin kartu2 itu. They think I’m unsecure?? Be my guest. At least I know I'm not. :-)

Saturday, December 12, 2009

AADC's Poem

Aku lari ke hutan, kemudian menyanyiku
Aku lari ke pantai, kemudian teriakku
Sepi... Sepi dan sendiri aku benci.
Aku ingin bingar. Aku mau di pasar.

Bosan aku dengan penat,
dan enyah saja kau, pekat!

Seperti berjelaga jika aku sendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh

Ahh.. ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya?
Biar terderah,
atau... aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

("Tentang Seseorang" from OST of "Ada Apa Dengan Cinta")

Monday, December 07, 2009

Be Strong....


I can hear your voice trembling. I can see your eyes full of sadness. The tears could fall anytime. You could pretend to be strong. But you can’t fool me. I can feel how heavy this is to you. I know this is a difficult situation for you. For him. For them. For Us. You can not blame the “fate”. Everything that happens is caused by something, and, big or small, you’re taking part of it. Reminds me of the “you reap what you sow” law. I thought I’d be able to say “See, I’ve told you”. But I can’t. I wish we were that attached that I can move my feet, open my arms, and give you a hug. Now, all I can do is giving you the encouragement, the ideas, and the prayer that God would help us through this.

Be strong, #### ……..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...