Tuesday, December 16, 2008

Hati2 Penipuan dengan Modal Marga!!

Saya tergerak untuk berbagi pengalaman, terutama kepada saudara2 saya yang berasal dari suku Batak. Saya nggak rela kalau semakin banyak korban dari jenis penipuan ini. Kejadian ini saya alami bbrp waktu yg lalu. Dlm waktu singkat saya sudah menemukan bbrp pengalaman serupa dengan modus operandi yang serupa. Ada yang sudah kena, ada yg gagal kena, ada yang sedikiiitt lagi kena. Ada modusnya berbeda, ada yg mirip, ada yang sama persiss!

Bbrp hari yg lalu orang tua saya menerima telepon dari seorang pria yang mengaku seorang "kerabat". Ia memperkenalkan diri dengan menyebutkan beberapa saudaranya yg kemungkinan adalah saudara dari kami juga. Walaupun orang tua saya belum mendapati secara jelas status "persaudaraan" dengannya, namun orang tua saya tetap menanggapinya dengan baik, melihat betapa merasa akrabnya dia dengan mereka.

Ternyata lelaki itu mencari br. Tobing yg berumur 30-an di rumah kami, dengan tujuan ingin memperkenalkannya dengan salah satu kerabatnya dgn tujuan perjodohan. Laki2 yg ingin diperkenalkan itu seorang Dokter berumur 37 tahun, lama bekerja di Papua, pernah sekolah di Singapore. Mencari br. Tobing krn ompung borunya (nenek) juga br. Tobing. Dia juga menyarankan nantinya utk mengundang lelaki tsb ke rumah sebagai tahap lanjutan, spy saya dan "Dokter" tidak canggung. Nama laki2 itu Dr. Eduard Simanjuntak. Maaf kalau ada kesamaan nama. Salahin mereka yg menyalahgunakan nama itu, hehe.

Singkat cerita, walaupun sebelumnya sempat sedikit adu argumen dengan Mama, akhirnya saya berhasil ngobrol selama sekitar 15 menit dengan sang "Dokter" tersebut. Yg saya protes bukan "perkenalan"-nya. Yahh, memperluas networking dgn dikenalin oleh orang lain sih menurut saya nggak salah sama sekali. Tak ada yg tak mungkin tohh? Tapi yang menjadi masalah adalah karena orang tua saya sbnrnya belum tahu jelas siapa orang yg memperkenalkan tersebut. Mau tahu analisa yg saya dapatkan dari pembicaraan 15 menit tersebut? Ada bbrp point yg menarik perhatian saya.

* Dlm 30 detik pertama, cara bebicara sudah terdengar tidak sinkron dengan status pendidikannya. Tdnya saya berharap akan berbicara dgn manusia intelek (bukan berarti harus resmi, dll), tp pokoknya gaya komunikasinya nggak intelek banget deh. Jauh dari kesan orang telah mengenyam pendidikan tinggi, apalagi kedokteran.
* Sangat terlihat bahwa sepanjang pembicaraan dia sama sekali tidak berusaha mengenal saya lebih jauh, seperti layaknya orang yg memang berniat berkenalan. Sepanjang pembicaraan dia lebih fokus utk menciptakan image yg sempurna di mata saya (bahkan terlalu sempurna).
* Dia berusaha ciptakan image sbg Dokter sukses yang banyak pengalaman : lulus kedokteran Unpad, lalu PTT di Bali, lalu ambil Spesialis Bedah Syaraf di Singapore (5 thn), lalu kerja 8 thn di Irian, dan setelah ini dia akan mulai berkerja di RSCM. Hehe, coba itung deh. Kira2 mungkin nggak, secara umurnya 37?
* Dia berusaha ciptakan image sbg orang "berkecukupan" : bapak mantan orang Pajak, dan sudah beli rumah di Jkt. Pdhl kmrn ke Jakarta katanya cm buat perkenalan dgn org RSCM, tempat dia bekerja nantinya. Katanya belum pernah ke Jkt, tp kok ya cepat sekali dapet rumah? Sampe saya tanya ke dia, lewat siapa bisa nemu rumahnya? Agak heran, memang gampang apa beli rumah? Wong buat jalan2 aja Jkt kyknya lumayan ribet deh buat pendatang luar.
* Dia berusaha ciptakan image sbg "sebatang kara" : orang tua sudah meninggal keduanya, hanya punya 1 orang Kakak di Singapore. Sudah saya duga, nantinya status sebatang kara ini akan dipergunakan utk dapat memohon pertolongan di masa yg akan datang (dan ternyata memang benar!).
* Orang tua katanya dulunya di Pekanbaru. Memang menurut saya ini aman. Jika dia sebut di Jakarta atau Medan, pasti terjadi pembahasan lebih lanjut, mengingat dapat dipastikan saya pasti memiliki banyak kerabat di kedua tempat tersebut.
* Jika orang tua sudah di Pekanbaru, kemungkinan dia lahir tidak lagi di Sumut. Biasanya orang Batak kan merantau ketika masih lajang, bukannya setelah memiliki anak baru pindah kota. Yahh, bukannya ngak mungkin. Mungkin saja terjadi, misalnya krn urusan pekerjaan. Tp kan lebih banyak merantau ketika belum berkeluarga. Oke, berarti lahir tidak di Sumut, lalu kul di Bdg, PTT di Bali, sekolah ke S'pore, kerja di Papua, lalu kenapa logat Batak-nya masih kental sekali yaa?
* Mencari wanita 30-an sangatlah wajar, mengingat wanita (Batak) berusia 30-an scr emosional lebih mudah diombang-ambing urusan percintaan, apalagi kalau bukan dampak dorongan sosial yg menuntut utk segera berkeluarga. Tp walaupun saya bukan target pasarnya (alias belum 30), tp tetep masih di-"jajal" juga loh. Ckck...
* Tdnya saya berharap respon yg lebih dr dia ketika saya katakan bahwa kakak ipar saya juga br. Simanjuntak. Ehh, tau2nya responnya nggak excited sama sekali. Belakangan baru saya mengerti kenapa, hehe.
* Setiap kali digali lebih dalam, dia cenderung menghindar, dengan alasan "Sabar, masih panjang waktu kita. Besok2 lah kita ngobrol2 lagi." Hehe, kesannya aku ngebet banget kali ya. Pdhl yg ditanya juga nggak nyentuh urusan hati.

Akhirnya pembicaraan diakhiri dengan janji untuk menelepon lagi di keesokan harinya, ketika dia dalam perjalanan ke Jakata (katanya saat itu dia masih berada di Papua).

Keesokan paginya dia menelepon saya jam 8 pagi. Dia sukses membangunkan saya dari tidur. Saat yg tepat kalau mau melakukan penipuan. Otak belum loading dengan sukses . Tapi untung akal sehat masih dapat berjalan dengan baik. Saat itu ia menelpon karena keberangkatannya terancam gagal karena urusan BANK. Hmm, begitu dengar satu kata itu, saya sudah langsung yakin 99% bahwa ia berniat jahat.

Sejak kata itu disebut, saya sudah tidak mendengarkan penjelasannya dengan seksama lagi. Tapi kalau tidak salah, dia mengalami kesulitan membawa uangnya ke Jakarta. Di Papua katanya hanya ada bank BRI, sementara di Jkt BRI hanya menerima penarikan tunai sebanyak 5 jt per hari. Jumlah tersebut menurutnya sangat kurang, apalagi dia berniat menyicil mobil (hihi, detik terakhir masih aja sempet2nya naikin image). Katanya orang bank menyarankan untuk membawa seluruh uangnya dalam bentuk tunai, which is sangat tidak mungkin dan beresiko tinggi. So, katanya menurut orang bank satu2nya cara adalah dengan meminta tolong orang di Jkt untuk membukakan sebuah rekening baru, sehingga uang dapat dipindah secara transfer.

Nahh, minta tolonglah dia kepada saya untuk dibukakan rekening. Kalau tidak, dia menanyakan kepada saya apakah saya memiliki rekening yang kosong. Ketika saya sarankan untuk minta tolong kepada saudaranya yg lain, dia jawab bahwa kakaknya di Singapore, dan paling cepat 2 minggu baru bisa ngurus. Ketika saya sarankan utk meminta tolong saudaranya yg di Jkt, kembali dia menjawab dengan memelas bahwa dia tidak punya siapa2. Emang yg kmrn nelpon ke rumah siapa dong? Tp yah saya sudah malas bahas lebih jauh. Saya langsung tolak mentah2 dan jangan pernah meminta tolong urusan beginian ke saya.

So, akhir kata...saya mau bilang apa ya? Salah juga kalau menyarankan utk tidak membantu orang lain. Tp yg pasti, lebih berhati2 lah. Jangan lupakan logika. Jangan langsung lupa diri begitu mendegar "marga" ataupun hal2 subjektif lainnya. Jangan sampai perasaan kita disalahgunakan. Jangan pernah hilang kewaspadaan. Jangan langsung membuka pintu dan hati selebar2nya tanpa mempertimbangkan resiko yg mungkin terjadi.

Hidup memang semakin sulit. Segala cara dilakukan utk memperoleh uang. Sudah banyak penipuan yang diawali dengan mengaku "saudara". Secaraa, orang Batak...semuanya juga saudara, hehe. Yahh, lebih hati2 deh ya. Temen ada yg udah kena tipu 8 jt, plus perseteruan keluarga, krn dianggap salah satu keluarga (yg namanya disebut oleh si penelpon) ikut bersekongkol. Ada juga teman yg kena tipu 15 jt krn membantu "saudara"-nya.

Ada yg mau bantu menjerat? Agak gemes juga nih. ^_^

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...