Monday, February 08, 2010

Filipi 2 : 4

Ini bukanlah ayat utama dari kotbah hari ini. Ini hanya salah satu ayat referensi yang di-highlight oleh amang pendeta. Tp kebetulan ayat ini yg benar2 menarik perhatian gue di kebaktian tadi sore. Bener2 ayat yang bikin gue jadi terdakwa bersalah. :(

“dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."

For so long I just live my life only for myself. Gejala yang sudah terlihat sejak kecil. My brother used to love to share things with me, but I’m the opposite. Then he also stopped doing so. Well, I’m the one who’s responsible for the “cold” situation here. Gue juga bisa dibilang tidak peduli sama urusan orang lain, walaupun sebenarnya karena gue menghargai hak mereka atas privasi. So, gue tidak akan mencampuri sesuatu yang bukan urusan gue, seperti halnya gue tidak ingin urusan gue diganggu oleh orang lain. Gue juga bukan orang yang royal dalam memberi sesuatu. Gue tidak akan memberikan sesuatu secara cuma-cuma kecuali untuk alasan yang sangat jelas. Membantu orang pun gue pertimbangkan matang2, apakah situasi orang tersebut benar2 harus dibantu, atau memang harus dibiarkan sebagai bahan pembelajaran. Seperti halnya ,gue juga sebisa mungkin tidak akan meminta bantuan. Ketika gue harus meminta bantuan, maka gue merasa sangat bersalah. Intinya, indivualis bgt lah.

I still don’t think that “indivuality” is a sin. Because somehow I did that because I respect others so much. I would do my best not to cross the line. Tapi gue sadar, lama kelamaan gue menjadi orang yang super cuek sama orang lain. Gue seringkali menjadi orang yang “tidak pedulian”. Gue memiliki sedikit keinginan untuk membahagiakan secara “cuma-cuma”. Alih-alih bersifat individualis karena merasa ingin menghargai orang lain, gue malah melupakan hal-hal simple yang sebenarnya dapat membuat orang lain merasa dihargai. So, friends, family, everybody, I think I need to say sorry here. Maaf kalo gue sering gak peduli urusan ulang tahun, maaf gue sering melupakan nama, maaf gue sangat tidak suka berbasa-basi, maaf gue jarang memberikan hadiah, maaf gue sering tidak membalas SMS, maaf gue jarang memberi kabar (padahal gue yakin sedikit informasi saja akan sangat dihargai), maaf gue jarang menegur duluan, maaf gue jarang memberikan “kehangatan”, maaf gue seringkali melewatkan hari bahagia maupun hari duka teman2 gue, maaf buat segala kecuekan gue.

Lately Tuhan mempertemukan gue dengan seseorang. Had to admit, me and him more or less are alike. Well, mungkin dia kadarnya sedikit lebih parah. Dia pun mengakui kalau ternyata sudah banyak orang yang complain mengenai hal itu. Including me. Hasilnya, gue seringkali merasa tidak dihargai. Gue merasa kebutuhan gue tidak diperhatikan. Gue merasa tidak dimengerti. Well, mungkin juga karena memang gue bukanlah orang yang “special” bagi dia, but I think we don’t need to be that “special” to be appreciated, rite? We’re all special in the eyes of God (and humanism!). So, we’re all have the same rights for being appreciated. *talking to the mirror* :p

Ohh, God….I’m sorry. I think I’ve made so many people have felt terrible for the things I’ve done. Maaf kalau ternyata banyak orang merasakan apa yang gue rasakan ini, “hanya” karena gue merasa tidak butuh untuk melakukan hal-hal itu.

Mungkin memang ini maksud Tuhan mempertemukan gue dengan dia. Okay, I’ll learn. Bukan belajar untuk kepo dan melanggar batas privasi orang, tapi belajar untuk lebih memberi kepada orang lain. Belajar melayani orang lain. Belajar menghargai secara tulus, tanpa berharap sebaliknya. Jangan hanya berharap untuk dimengerti, tapi belajar juga lebih peka dengan kebutuhan orang lain.

I sure I’m not the only one here. I think we all have to learn to be that way. Segaimanapun mandirinya kita, sebagaimanapun mapannya perekonomian kita, sebagaimanapun pandainya kita, sebagaimanapun cantik atau tampannya kita, sebagaimanapun berbakatnya kita, sebagaimanapun terkenalnya kita, kita tetap berhubungan dengan manusia lain. Manusia yang semuanya adalah mahluk unik dan berharga. :-) Baik dalam urusan pekerjaan, pertemanan, apalagi berumah tangga, gue rasa kita semua pernah melihat contoh ketika ada salah seorang saja individu yang hanya memperhatikannya sendiri, tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. I’m seeing it now, from a distance, and it hurts me so, because the other one actually deserves something better than that. So do I. So do you. Let's make some differences. Let's give our l-o-v-e for "free.". :-)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...