Sunday, February 21, 2010

Dear, Pop....



(Was posted in Facebook Notes section on Sunday, February 21, 2010 at 11:39am)

Have you ever imagined the idea of having an autistic-daddy? I watched the movie “Dear John” last night at Blitzmegaplex. Selain Channing Tatum yang luarrrr biasa menggugah selera (!!!) sampe bikin duduk gue gelisah (LoL), alur yang menceritakan hubungan dia dengan ayahnya bener2 bikin gue nangisss habis2an. Gilaa, keluar bioskop kok ya mata bengkak2? Hahaa! Dua orang temen di sebelah kanan gue sibuk update status, dan di kiri gue sibuk memantau berapa liter aer mata keluar. Huhh! Kenapa siihhh, gak bisa liat orang seneng ajaahh. :p

"Dear John" tells the story of John Tyree (Channing Tatum), a young soldier home on leave, and Savannah Curtis (Amanda Seyfried), the idealistic college student he falls in love with during her spring vacation. Over the next seven tumultuous years, the couple is separated by John’s increasingly dangerous deployments. While meeting only sporadically, they stay in touch by sending a continuous stream of love letters overseas--correspondence that eventually triggers fateful consequences. (Retrieved from http://www.themovieinsider.com/m3979/dear-john/ on 21/02/2010)

Overall film-nya biasa banget. I’ll put just 3 stars out of 5. Alurnya ketebak, penokohan juga kurang oke, ngebangun emosinya juga kurang, jadi banyak bagian2 jadinya seperti terlalu berlebihan dan bikin kita mikir, “Lahh? Harus gitu yaa?” Hahaa, soalnya ceritanya mereka butuh itu buat ngebangun cerita ke belakangnya. Yahh, kasi dehh.

Sebenarnya inti ceritanya adalah tentang si John Tyree dengan Savannah. Salah satu hal yang menambah kedekatan mereka adalah kemampuan Savannah untuk mengerti ayah John. Selama bertahun-tahun hubungan John dan ayahnya semakin memburuk dan dingin. Gak sampai bertengkar sih. Tp dinginnya suasana di antara mereka cukup bikin nyesek juga. John ngerasa ayahnya tidak mengerti dia. Kondisi yang sungguh membuat keduanya tidak bahagia. John nggak sadar kalo kondisi ayahnya yang demikian terjadi karena memang ada alasannya, hingga Savannah berhasil membaca situasi. Menurut Savannah, ayahnya menderita semacam autism ringan.

Adegan yang paliiingg paliinggg bikin gue piluuuu adalah ketika sang ayah mau berangkat bersama John dan Savannah ke rumah orang tua Savannah. Oh ya, hubungan John dan ayahnya ceritanya sudah lebih menghangat nih. Tapi tetep, semua hal-hal rutin dan terpola memang sudah gak bisa berubah. Seperti menu makanan, penempatan benda2 di rumah, dll. Sebagai penderita autisme, ia sangat nyaman dengan segala pengulangan pola dan ketaraturan. Sedikit perubahan saja bisa memhasilkan ketidaknyamanan buat dia. John awalnya sempat kaget bahwa ayahnya mau brangkat. Ayahnya sudah lama sekali tidak pernah pergi dari rumah. Kini dia mau pergi ke tmpt 'baru'? Well, tapi di tengah jalan, sang ayah mulai gelisah dan panic, sampai2 dia mau loncat dari mobil. Hiks, ternyata dia gak sanggup. Akhirnya di tengah jalan mereka berhenti dan akhirnya mengantarkannya kembali ke rumah. Savannah bilang. “Well, John, at least he tried.” Gue langsung berdesis, “Yes…”

Beruntunglah mereka yang memiliki image ayah yang ideal di mata mereka. Tapi bagi mereka yang tidak, tentu rasanya banyak penolakan, banyak kebencian, banyak ketidakpuasan atas situasi itu. Tidak ideal bukan berarti ayah-ayah itu tidak sayang sama anak2nya. Ayah John terlihat bahwa dia sebenarnya sangat menyayangi John. Tapi mungkin yah memang dia tidak punya kemampuan untuk ungkapin itu. Terkadang kita memang sulit membaca hal yang tidak terlihat itu. Ooh, but it was so touching seeing him trying. . Then we know the he (they) loves us., but, yes, daddies has their weaknesses. It’s like hearing them saying, “You know I love you, child. Forgive me for not being a perfect father...”

(whispering softly) “Dear, Pop...I love you!”

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...