Saturday, March 20, 2010

Memberi di Saat Paceklik? Susaahh!

Jadi orang miskin emang gak enak. Jangankan miskin materi. Miskin hati aja nggak enak banget. Miskin jiwa, miskin spirit, miskin semangat. Hasilnya? Dahsyat! Menjalani hari tanpa rasa semangat. Rutinitas.

I admit, belakangan ini situasi ini cukup melingkupi hari-hari gue. Tidak sedih. Tidak negative. Hanya 0. Flat. Datar. No spirit. Alasannya? Simpel sih. Belakangan ini rasanya “tiba-tiba” segala aspek kehidupan menjadi mengkhawatirkan. Mulai dari love life (ini always bukan? *lebay*), relationship (ada sorg teman yg memutuskan utk memutuskan tali pertemanan dengan gue), work life (ada masalah dgn salah satu instansi tempat gue mengajar), financial life (itung-itungan rencana gue ke depan ternyata butuh budget besar, and where am I now??), dan terutama health life (saat ini ada sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan gue). Lengkap!

“Christine ‘Obi’ Tobing found it’s hard to stand in front of so many people time after time, giving my heart, mind, and all capability to teach. It’s so hard filling their “cup” while mine is actually “empty”. Whishing for a sincere heart to be able to give more of me.” Itu adalah status FB gue minggu lalu. Gue tulis karena waktu itu gue telah menjalani minggu yang cukup sulit. Gue harus terus mengajar pagi, sore, malam, weekdays, even weekends. Bertemu dengan banyak sekali orang. Saat itu gue pun harus diakui bahwa cukup sulit menjadi seorang guru. Kita dituntut untuk terus “memberi”. Bukan hanya bertanggung jawab atas pengetahuan yang kita berikan, tapi juga semangat, motivasi, serta perhatian penuh untuk mau membenarkan apa kita temukan masih salah. Terlebih lagi, bahkan kita pun harus membuat mereka enjoy dengan situasi itu! Gue rasa kita semua setuju kalau gue bilang dibutuhkan hati yang besar untuk melakukan semua itu. (Actually bisa aja sih. Tapi gue pribadi sangat kagum ketika melihat pengajar2 yang sungguh2 melakukan itu dari hatinya. Admire them so much!)

Ketika ada yang bertanya, “Obi, how could you fill the people’s cup, when u feel so empty inside?” Ternyata dia butuh saran krn ternyata dia pun mengalami hal yang sama. It took me some while buat mikir jawabannya. Coz actually I didn’t do it on a conscious purpose. Sebelum memulai rasanya gue mau teriakk, “Oh Good, help me! I can’t do it!!! I have nothing to give. :(“ Tapi kenapa gue memutuskan utk tetap mengajar di masa-masa “paceklik” itu? Well, sebagian aktifitas mengajar gue memang adalah kerja prof. So, kita tau lahh konsekuensinya kalo gue nggak ngajar. Tapi selain itu, gue sadar sekali bahwa mereka mengharapkan “sesuatu” dari gue. Kemajuan mereka banyak sekali dipengaruhi oleh gue. Belon lagi kalo mengingat pengorbanan mereka untuk datang latihan. Bikin kita nggak boleh egois. It’s not all about us (teachers). Akhirnya, hal-hal itulah yang tetap membuat gue menginjakkan kaki di tempat mengajar, baik itu yang memang pekerjaan maupun yang berupa pelayanan (agama).

But surprisingly, it ended this way : they’re the ones who fill my cup! The joy of teaching. Ngeliat mereka “dapet” sesuatu cukup bikin kita bahagia. Ntah itu berupa kemajuan secara teknik bernyanyi, pendalaman materi, atau bahkan hanya sekedar rasa sukacita ketika mengikuti latihan. Kaki yang berat ketika melangkah masuk berubah menjadi langkah ringan ketika meninggalkan tempat-tempat itu. Belum lagi ketika terungkap kalimat-kalimat rasa syukur karena memiliki gue sebagai pelatih dalam doa-doa penutup latihan. Huff, what could be more beautiful than that?

Ketika gue menjawab pertanyaan teman gue itu, suddenly gue merasa diingatkan dengan hukum “memberi”. Ternyata memang semuanya harus kita yang mulai. Memberi dulu dehh, nanti juga semuanya akan dilimpahkan sama kita. (Thanks again, Ran, for asking.)

Hari Minggu yang lalu (14/3/2010) ntah kenapa kaki gue melangkah lagi ke gereja sore. Padahal gue udah gereja pagi. Mungin karena gue ngerasa kurang puas dengan kotbah ibadah pagi itu kali yaa. Kok gue berasanya kurang “dapet” sesuatu. Tapi tetep ajaa, hampir nggak pernah gue bergereja dua kali kalo bukan karena memang ada jadwal pelayanan. Hohoo, finally I knew why. Ternyata salah satu point yang diangkat oleh amang pendeta itu adlh tentang “memberi”. What a co-incidence! God’s-incidence! Di situ dia ngingetin lagi bahwa jangan menunggu untuk memberi. Memberi tidak hanya ketika kita dalam kondisi berkecukupan. Melayani tidak hanya ketika kita sedang bahagia. Memberilah tanpa rasa pamrih. Jangan hanya berharap diberi, tapi mulailah memberi. Jangan berharap dimengerti jika kita tidak mau mengerti orang lain. Jangan berharap dihargai ketika kita pun tidak menghargai orang lain.

I was totally speeches. I cried. Yes, I cried so hard. I realized sometimes it’s soo hard to do it. But I just whisphered softly, “Yes God, give me a sincere heart to give more of me…”

(Was published in Facebook Notes section on Saturday, March 20, 2010 at 3:37pm)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=378395049274

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...