Monday, April 19, 2010

It's a Blessing for Being Healthy...

Have you ever looked up and seen the stars on purpose? Have you ever realized how mighty He is when we see His marvelous works? Well, I have, but not that often. Pemandangan yang terlalu “biasa” untuk disyukuri. Kadang kita lupa mengucap syukur untuk hal-hal yang sudah “biasa” kita miliki. Contoh paling sederhana adalah ketika kita bangun di pagi hari. Sudah terlalu biasa, bukan? Kita lupa bahwa setiap hari baru yang boleh kita jalani saja sudah merupakan berkat yang luar biasa.

Kotbah tadi sore mengingatkan kami untuk selalu mengucap syukur dalam segala hal. Untuk sebuah kondisi, setiap orang memiliki pilihan respon yang berbeda2. Amang pendeta memberi sebuah contoh, bagaimana respon negative yang diberikan seseorang tidaklah lebih membawa hasil yang positif terhadap sesuatu. Dibandingkan respon marah2 dan mengeluh, sebenarnya ada banyak hal yang bisa disyukuri.

Pertanyaan yang cukup membuat gue refleksi, adakah hal yang bisa disyukuri ketika kita sakit? Adakah hal yang bisa disyukuri ketika menjadi seorang pengangguran? Adakah hal yang dapat kita syukur ketika kita sulit bertemu dengan jodoh kita? Dll.

Gue melihat ke sekeliling. So many people. Kami semua pasti memiliki tantangan masing2. Ada banyak pemuda yang masih duduk di bangku kuliah, yang mungkin sedang menghadapi masa2 kuliah yang cukup berat. Ada sarjana2 muda yang mungkin sedang berjuang menemukan pekerjaan. Ada banyak perantau yang sedang berjuang bagi dirinya dan mungkin bagi keluarganya di kampong. Ada para pekerja yang mungkin sedang sibuk membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Ada para pria dan wanita single yang mungkin sedang bertanya2 mengapa sulit sekali menemukan pasangan hidup. Ada para orang tua yang mungkin sedang khawatir dengan pendidikan anak2nya. Ada orang tua yang sedang mendoakan anaknya lekas menikah, ataupun memiliki keturunan. Ataupun sebaliknya, ada anak2 yang sedang menghadapi kendala untuk dapat membahagiakan orang tuanya. Ada pasangan yang sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ada juga orang2 tertentu yang sedang berjuang melawan penyakit, baik ringan maupun berat.

Selain beragam tantangan itu, gue juga percaya kami semua juga memiliki kebahagiaan yang beragam. Kebahagiaan-kebahagiaan yang dapat kami syukuri dalam hidup ini. Hal-hal biasa yang sebenarnya luar biasa, jika kita menjadi seseorang yang suka mengucap syukur (asal jgn jadi cepat berpuas diri yaa). I don’t know what they have in mind. But I did have so many things in mind. Gak usah jauh2. Pengalaman gue hari ini aja sudah cukup bikin gue tersedu2 (hahaa, rajin amat nangis yaakk).

Pagi tadi gue bangun dengan dua symptom penyakit yang cukup mengkhawatirkan. Sangat mengkhawatirkan tepatnya. Jangka panjang. Sbnrnya merka tidak baru muncul hari ini. Tp keduanya menjadi lebih parah pada waktu yang bersamaan. Mood gue pun berubah. My depressive mode was on. I felt wanna cry, but I didn’t even know why.

Secara fisik, gue drop. Rasanya pengen istirahat aja, gak kuat ke mana2. Tp gw sangat kebingungan krn gue harus pelayanan di ibadah sore, yaitu sbg pianis ibadah dan conduct choir pemuda. Utk jadi pianis ibadah, gue coba cari ganti, tp gak nemu. Tp pasangan maen (sang organis) bersedia main sendiri kalopun gue bener2 gak kuat berangkat. So, one thing was done. Tapi utk urusan choir pemuda ini, gue gak tega bgt. Kmrn2 gw udah bolos2 krn bentrok sm kegiatan lain. Masa udah mau pelayanan pun gue gak bantu. Kalo nyanyinya jelek gw ngerasa bertanggung jawab bgt. Akhirnya brangkatlah gw utk latihan sm mereka sblm ibadah. Dibela2in walopun fisik lg lemah, dibela2in brangkat duluan gak bareng org rumah (pdhl bisa cuma 1 mobil kalo brangkat barengan). Begitu udah mau sampe, gw di-SMS. Choir batal nyanyi. Kecewa? Ya. Tapi ya sudahlah, udah kepalang tanggung. Beberapa teman bertanya, kenapa nggak pulang aja. Ntah kenapa gue ngerasa gak pingin pulang. Gue pengen bergereja. Gue sangat yakin ketidaksengajaan ini pasti salah satu cara Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada gue.

Ketika term kesehatan sedang sangat mengkhawatirkan gue, ternyata yang khotbah adlh salah seorang pendeta favorit gue, yang memang sedang banyak melayani di rumah sakit. Gue mengenal beliau salah satunya sebagai pelayan yang tidak pernah lelah berkunjung dan mendoakan orang-orang sakit. He did it again this evening. He didn’t have to go anywhere. He just stood there and be His instrument. He’s already been a blessing for me. I’m sure for everybody else.

Gue nggak tau mau share apa sbnrnya di sini. Ada 2 hal sbnrnya. Satu, isi khotbahnya sendiri, kedua bahwa betapa Tuhan tahu exactly what I need. He gave me exactly what I need when I didn’t ask for it. Amazing, eh? Soo, whatever it is, I just felt so blessed that I need to share. It’s the least I can do, right? Find your blessings. Share your blessings. Be blessed! Happy Sunday, friends…

Las taende hon ma...

1. Bila kulihat bintang gemerlapan dan bunyi guruh riuh kudengar,
ya Tuhanku, tak putus aku heran melihat ciptaanMu yang besar.
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”

2. Ya Tuhanku, pabila kurenungkan pemberianMu dalam Penebus,
‘ku tertegun: bagiku dicurahkan oleh PutraMu darahNya kudus.
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”
Maka jiwaku pun memujiMu: “Sungguh besar Kau, Allahku!”

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...