Thursday, August 25, 2011

40F Menjadi Saksi


Ada rasa was-was, excited, serta penasaran amat sangat ketika menyusuri lorong di antara bangku-bangku pesawat.  Seperti apakah kira-kira teman sebangkuku?  Ketika berjalan-jalan dalam rombongan teman saja hal tersebut menjadi hal yang menarik.  Apalagi kali ini aku berpergian sendirian, plus durasi penerbangan yang tidak sebentar.  Penerbangan Zurich – Dubai akan memakan waktu sekitar 6 jam.  Jadi, apakah tua atau muda?  Apakah perempuan atau lelaki?  Apakah culun atau trendy?  Uughh, very excited! 

Kulirik lagi boarding pass di tangan.  Nomor bangku menunjukkan angka 40F.  1… 2… 5… 10… 20… 25… 26, 27, 28…. “Wih, ternyata agak jauh yaa ke belakang,” pikirku.  34, 35…. Semakin dekat.  “Loh, ujung pesawat sudah kelihatan.  Tinggal sekitar 5 bangku lagi ke belakang.  Hey, apa?!  Apa iya bangkuku paling belakang?  Coba kuhitung dulu.”  36, 37, 38, 39,…. 40!  Memang 1 bangku kosong di belakang itulah bangkuku!  Tak heran, memang aku check-in sangat cepat karena langsung berangkat dari Basel.  Posisiku tertahan orang-orang yang sedang berusaha memasukkan tas ke kabin.  Dari kejauhan aku berusaha meneropong teman sebangkuku.  Ahh, tak berhasil.  Terlalu banyak kepala di depanku.  Seiring dengan langkah kakiku ke bangku, akhirnya terlihat juga sedikit demi sedikit.  Rambut pendek, coklat.  “Okay, so it’s a guy.”  Ada kacamata gunung tersangkut di kepala.  “Nice, it’s a young man, and not a nerd one.”  …..dan tibalah aku di depan bangkuku.  “NICE!   A handsome young man!”  Agak sedikit begok akibat terlalu excited, terselamatkan oleh sepatah kata yang diucapkannya dengan nada yang sangat ramah, “Hello…”  Ohh, aku ingin menikahinyaaa!  :”> 


Menit demi menit berlalu.  Tak ada lagi kata.  Tak lebih dari sekedar senyuman dan lirikan.  Dia menulis.  Maafkan ke-kepo-anku.  Sangat penasaran dengan pekerjaannya.  Penampilannya bukan seperti pekerja kantoran.  Tapi keseriusannya menulis dan membaca buku itu berkesan serius dan professional sekali.  Seksi! 

Untung tidak terlalu lama kami dalam kesunyian.  Terima kasih atas layar monitor TV yang rusak, yang membuat kami kembali berinteraksi.  Terima kasih juga kepada semesta yang telah menciptakan perbedaan waktu, sehingga bisa timbul sebuah pertanyaan yang kemudian membukakan sebuah percakapan panjang bagi kami. 

Sempat berharap bahwa dia akan pergi ke Indonesia.  Petualang seperti dia pasti akan sangat tertarik ke Indonesia.  Tapi ternyata tidak.  Dia akan terbang ke Kathmandu, Nepal.  Ternyata dia adalah adventurer profesional!  Dia dibayar untuk mendaki gunung, surfing ketika musim panas, dan skiing ketika musim dingin.  Kali ini dia membawa rombongan untuk mendaki Pegunungan Himalaya.  “Wow….”  hanya itu yang keluar dari bibirku.  Padahal hatiku menjerit-jerit.  “Kyaaaaa!!!!  Pria-pria bertestosteron ini seksi sekaliiiii!!!”  Estrogen-ku pun meletup-letup kegirangan. 

Bertukar pikiran tentang profesi.  Dia pun tertarik dengan pilihan profesiku yang termasuk tidak umum.  Apalagi ketika aku bercerita tentang Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau.  Apalagi ketika dia mengetahui bahwa ada salju di Indonesia, yaitu di sebuah puncak gunung Jayawijaya yang tingginya sekitar 5000 meter, jauh lebih tinggi dari puncak tertinggi yang dimiliki Switzerland!  Dia kagum bagaimana negaranya dikenal dengan pegunungannya, namun ternyata apa yang dimilikinya masih kalah apa yang dimiliki oleh Indonesia! 

Walaupun aku bisa melihat ketertarikannya untuk datang ke Indonesia, tapi tak ada sedikit pun keluar dari mulutku undangan untuk dia mengontak ketika datang ke sini.  Tiba di Dubai, kami bersama-sama di airport bus, lalu sempat ngobrol sedikit di depan imigrasi, lalu kami mengucap selamat tinggal. 

Then?  Nothing!  What do you expect?? A romantic story as in a movie??  I wish it was!

Later on, I found myself sitting in front of my computer, browsing through Facebook, with combinations of keywords….. “Michel”, “Switzerland”, “Luzern”  *sigh*

3 comments:

  1. Gua yang bacanya koq agak2 geregetan gimana gitu yah Bi?

    ReplyDelete
  2. Bwahahaaa! Geregetan pegimane maksudnyaa? Mestinya bisa terjadi lebih? Gitu maksud lo, hehh? *kesel lagi*

    ReplyDelete
  3. harusnya lebih donk, astaga, kenapa ngga diprospek??? *gigit jari

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...