Friday, August 19, 2011

Menyimpan Hati


Sebelum kuturunkan kaki dari mobil ini, sejenak kupandangi suasana di pelataran gereja hari itu.  Ramai, meriah, ceria.  Baju-baju berwarna merah dan putih bertebaran di seluruh penjuru gereja.  Ada rasa rindu terbersit.  Sudah lama aku tak bergabung kembali dengan lingkungan ini.  Sudah sekitar 1½ bulan, tak pernah lebih dari sekedar tegur sapa dan obrolan-obrolan kecil di hari Minggu sepulang bergereja. 

Kulihat Mama sedang tertawa-tawa dengan para ibu-ibu lainnya.  Maria berada di sebelahnya, dengan JoC yang (seperti biasa) dikelilingi oleh orang-orang yang terhipnotis oleh ke-kiyut-annya. :p  Papa sedang asyik mojok bersama geng caturnya. 

Kucoba mengikuti ritme suasana.  Banyak sekali lomba-lomba 17-an yang diadakan.  Seperti biasa, aku ikut lomba makan kerupuk, lalu bercanda ria dengan kawan-kawan lainnya.  Lingkungan ini memang seperti keluarga kedua.  Sejak kecil aku tumbuh di lingkungan ini.  Kemampuan bermusikku membuka kesempatan untuk menjadi sangat aktif selama belasan tahun, dan membuka kesempatan untuk mengenal (ataupun dikenal) oleh sebagian besar jemaat. 

Merasa sedikit lelah, aku duduk bersama seorang teman, menonton pertandingan dari bangku saja.  Ntah karena tiba-tiba lagu berubah menjadi mellow, atau memang hatiku yang sedang sendu, aku merasa rindu sekali.  Rindu sekali sama Windo, abangku satu-satunya yang baru saja dipanggil kembali ke pangkuan Bapa pada tanggal 26 Juni 2011 yang baru lalu.  Semua ini begitu akrab, semua begitu hangat, semua begitu ceria, namun ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah keramaian ini.  Ada sosok yang tidak hadir seperti biasanya. 


Teringat kembali pemandangan ketika aku turun dari mobil beberapa jam sebelumnya.  Adegan Mama dan Maria yang duduk di tengah-tengah para jemaat gereja yang sedang bergembira.  Kalimat pertama begitu bertemu penghuni rumah di tempat lain biasanya adalah ‘absen’.  Sejujurnya, bibir ini saat itu hampir saja refleks bertanya, “Windo mana?”  Seketika itu juga rasa rindu itu kembali muncul. 

Tak kuat menahan, kutinggalkan bangku dan berlari ke mobil.  Di sana kulepaskan sesak di dada.  Semua yang tertawa tak tahu bahwa di balik kaca mobil ini ada butiran-butiran air mata yang jatuh.  Seperti halnya jeritan histerisku yang diredam oleh suara musik hingar bingar itu, biarlah kusimpan juga hati ini.  Biarlah kusimpan rindu ini.  Hingga saatnya kita bertemu kembali.    

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...