Saturday, August 13, 2011

Pelatih Paduan Suara Komersial


Ketika membahas tentang kata ‘komersial’, maka akan selalu bersentuhan dengan kata ‘profit’.  Ketika seseorang atau perusahaan tertentu membuat sebuah komersial, tentu tujuan yang ingin dicapai adalah sebuah konsep yang membekas di otak penerima pesan, yang pada akhirnya akan mendorong mereka untuk membeli ‘produk’ yang mereka tawarkan, sehingga orang atau perusahaan tersebut dapat memperoleh profit atau untung. 

Ketika membahas sebagai kata sifat, maka sebuah perilaku yang dilakukan secara komersial tentunya diikuti dengan perilaku-perilaku yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan bagi individu maupun kelompok yang melakukan penjualan (barang ataupun jasa).  Dalam sebuah penjualan produk, salah satu hal yang paling penting adalah bagaimana cara kita memasarkan produk, alias marketing.  Banyak strategi pemasaran yang biasa dilakukan orang-orang.  Yang jelas, faktanya, strategi pemasaran tersebut lah yang lebih banyak menentukan keberhasilan dari penjualan produk, bahkan melebihi dari KUALITAS produk itu sendiri.  

 Coba, mari kita analisa diri kita masing-masing.  Seberapa jauh kah kita mudah termakan ‘iklan’?  Seberapa mudahnya kita terbuai dengan ‘kemasan’ sebuah produk?  Seberapa mudahnya kah kita percaya akan apa yang sebuah iklan katakan mengenai sebuah produk?  Seberapa mudahnya kah kita terkagum-kagum oleh kelebihan produk yang diekspos oleh penjual (tentu saja hanya kelebihan yang diutarakan)?  Pernahkah kita kritis tentang sebuah pernyataan sederhana yang dikatakan oleh sebuah iklan?  Terlebih dari itu, sadarkah kita bahwa ADA kemungkinan bahwa apa yang disampaikan kepada kita adalah sebuah kebohongan belaka? 

Sudah dapat jawabannya?  Kalau memang kita kurang kritis dan cenderung menelan bulat-bulat atas sebuah ‘iklan’ yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan, maka jangan heran juga jika kita cenderung akan memperoleh suatu produk yang kualitasnya tidak seperti yang diharapkan.  Sudah faktanya, menurut penglihatan saya, bahwa harga TIDAK SELALU berbanding lurus dengan kualitas suatu produk.  Sebuah produk yang lebih mahal tidak bisa dipastikan lebih bagus daripada produk lain yang lebih murah.  Demikian pula sebaliknya.  Bahkan ada juga produk tertentu yang memberikan ‘pencitraan’ yang sebaik mungkin, sehingga berkesan bahwa kualitasnya merupakan kualitas nomor 1, melebihi produk-produk lainnya.  Benar atau tidak, mari dicek secara objektif terhadap produk yang dijualnya. 

Pernah terbayang strategi marketing tersebut diaplikasikan terhadap sebuah produk jasa?  Lebih spesifik lagi, jasa mengajar paduan suara. :) Hari ini saya membuat serangkaian tweet di Twitter (@spidol_ungu) mengenai pelatih paduan suara yang komersial.  Di luar dugaan, ternyata tweet-tweet tersebut menimbulkan banyak sekali respon dari para chorister.  Ternyata banyak sekali ‘korban’ dari pelatih-pelatih komersil tersebut.  Bahkan sebagian mengungkapkan pernyataan-pernyataannya dengan penuh emosi kemarahan. 

Kenapa dapat menimbulkan kemarahan? 
1.        Faktanya, banyak teman-teman perlatih yang berkualitas memiliki harga yang lebih murah dibanding pelatih-pelatih yang lebih komersial.  Ada rasa gemas karena berpandangan orang-orang tersebut lah yang seharusnya mendapatkan reward lebih baik!
2.       Banyaknya pelatih-pelatih ‘beromong besar’ ketika mengajar.  Hey, sadarilah!  Orang-orang yang komersial pasti jago jualan.  Yang jago jualan pasti jagoan ‘branding’ alias pecitraan.  Hasilnya, ketika ngajar juga banyakan ngomong drpd ngulik lagu. 
Harap maklumi ketika kami-kami (yang bukan awam) mengetahui kenyataan yang sebenarnya di luar sana, sebesar apa juga kontribusi orang tersebut dalam dunia permusikan, dan akhirnya menjadi marah. 
3.       Kurang kritisnya para masyarakat awam.  Mudah termakan ‘iklan’ ataupun pecitraan.  Jangan mudah kagum dengan sebuah pernyataan hebat.  Tidak mau bilang supaya anggota tidak percaya dengan pelatih-pelatihnya, namun bersikaplah lebih kritis.  Tentu tidak mudah.  Pernah merasa tergoda dengan agen Multilevel Marketing atau sales-sales produk di sebuah pameran?  Pernah merasa kecewa setelahnya?  Atau pernah merasa kecewa setelah membeli suatu barang akibat iklan?  Belajarlah dari situ. 
4.       Bakat yang tersia-sia daripada para anggota paduan suara juga menjadi hal yang menyedihkan.  Banyak kemampuan yang tersia-sia karena salah pilih pelatih.  Banyak bakat tak tergali karena ketidakmampuan sang pelatih. 

Tidak.  Tidak bisa disalahkan ketika seseorang berprofesi sebagai pelatih paduan suara, dan komersial dengan profesinya tersebut.  Sudah sewajarnya ketika seseorang bekerja adalah demi memperoleh keuntungan bagi dirinya.  Jika tidak, namanya bukan ‘bekerja’ toh?  Tidak bisa disalahkan juga jika ada orang-orang tertentu yang DIKARUNIAI (ingat, ini adalah sebuah kelebihan) dengan kemampuan berjualan yang baik, terutama dalam kemampuan verbal (media komunikasi yang paling persuasif).  Justru saya pribadi menghimbau kepada pelatih-pelatih yang berkualitas untuk sedikit ‘merendahkan diri’ dan menjadi lebih komersial.  Seperti yang kita ketahui, apresiasi musik di Indonesia (terutama musik paduan suara) belumlah mencapai titik yang diharapkan.  Siapa lagi yang bisa meningkatkannya jika bukan kalian sendiri?  Hargailah apa yang kalian miliki, pengalaman yang sudah kalian jalani, segala ilmu yang sudah kalian kejar dengan pengorbanan-pengorbanan yang tidak sedikit, prestasi-prestasi yang sudah kalian raih.  Tidak salah untuk sedikit ‘bersombong’ dan mengeksploitasi kelebihan yang kita punya, dan menuntut reward yang lebih baik.  Tidak bisa hanya menatap iri dengan harga mahal pelatih yang lebih komersil.  Hey, mereka jago jualan, kenapa tidak?  Yang lebih berkualitas juga sudah selayaknya mencari strategi yang lebih jitu.

Jangan.  Jangan lagi ada salah pilih pelatih.  Terlalu banyak kesia-siaan yang terjadi.  Orang-orang yang mencari pelatihlah yang seharusnya mencari informasi yang lebih banyak.  Ketika mau beli handphone saja kita banyak melakukan survey, kenapa ketika memilih pelatih tidak?  Surveylah harga, surveylah kualitas.  Jangan sempit.  Cari alternatif yang luas.  Keluar dari tempurung, lihatlah langit yang luas. 

Bagaimana cara mendeteksi seorang pelatih komersial (yang kurang bermutu)? 
1.       Biasanya harga pelatih komersial memang lebih tinggi.  Tidak takut tidak laku, karena pada dasarnya mereka lebih lihai dalam menjual. 
2.       Seperti yang sudah dinyatakan di atas.  Biasanya beliau lebih banyak ‘berbicara’ daripada ‘melakukan’.  Jika dalam proses latihan porsi ‘berbicara’ melebihi 25% dari total waktu latihan (kecuali untuk kasus-kasus tertentu), sebaiknya perlu ditinjau ulang. 
3.       Biasanya pengetahuan musiknya diperoleh secara autodidak.  Pelatih-pelatih baik biasanya memiliki predikat dalam musik, pernah mengikuti kursus musik (dalam jangka waktu yang cukup yaa, tidak sekedar PERNAH!), atau minimal pernah bergabung dalam sebuah komunitas yang sudah terbukti prestasinya (bukan ketenarannya!).  Tapi hati-hati, ternyata ada orang-orang tertentu yang berani menyatakan dirinya memiliki degree dalam musik, padahal kenyataannya tidak demikian.  *applause atas keberaniannya berbohong*
4.       Rasakan latihannya.  Merasa bermanfaat kah? 
5.       Tidak, pernah membawa sebuah paduan suara ke luar negri bukanlah sebuah ukuran.  Perlu disadari bahwa banyak jenis kompetisi di dunia ini, ada yang berkelas, ada juga yang kurang.  Sadari juga bahwa IKUT SERTA dalam sebuah event di luar negri tidaklah sulit bagi komunitas tertentu, selama ADA UANG. 
6.       Adakah prestasi nyata?  Adakah paduan suara tertentu yang dilatih untuk jangka waktu tertentu dan mengalami pengembangan yang berarti?  Nomaden, bisa dibilang merupakan salah satu ciri-cirinya.
7.     Banyak beredar di paduan suara gereja.  Yeah, sadly, but true.  Mungkin karena akses paduan suara gereja ke dunia luar lebih terbatas dibandingkan para mahasiswa ataupun sekolah. 
8.  Biasanya ada kesenjangan antara pelatih dan anggota paduan suara.  Wajar, karena mereka butuh untuk selalu 'berada di atas' agar para anggota loyal.  Catat, bukan karena kemampuannya.
8.  Hmm, akan ditambahkan kemudian. :)

Jadi, janganlah sekedar menilai kualitas seorang pelatih berdasarkan ‘citra’-nya.  Berdasarkan objektif saya, saat ini di sisi kanan saya banyak pelatih-pelatih ‘murah’ yang berkualitas.  Mereka ‘belum’ terlalu komersil.  Mungkin juga karena idealism mereka terhadap musik, focus mereka yang lebih kepada music daripada bisnis, ataupun karena kebiasaan bertumbuh dalam sebuah komunitas yang tidak komersial. 

Saran saya, ketika ada pelatih yang tidak pandai berjualan, dan memang bagus, jangan jugalah ditawar-tawar sedemikian rupa.  Hargai kemampuan, pengalaman, serta ilmu yang dimiliki.  Ketika di luar sana banyak pelatih bertarif luar biasa (dengan kualitas sedang-sedang saja), kenapa justru yang benar-benar berkualitas kita pelit mengeluarkan uang?  Hargailah mereka.  Hargailah ilmu, pengalaman, dan prestasi mereka.  Orang-orang tersebutlah yang selayaknya kita kembangkan untuk Indonesia mencapai kemampuan dan apresiasi musik yang lebih baik lagi.  Jauh lebih baik lagi. 

1 comment:

  1. @anaknyapaknache1:46 AM

    sumpeh....baru baca artikel ini....membuka mata dan mencerahkan vikiran....tengkiu kak obi..... :)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...