Thursday, October 27, 2011

Kereta Kehidupan

Malam itu.  Bunyi roda besi beradu dengan rel kereta memecah kesunyian malam.  Terkadang hening memecah sunyi.  Sang kereta berhenti menunggu penumpang yang ingin turut serta. Begitu pun di bangku-bangku ini.  Terkadang terdengar pekik tawa.  Tak jarang hanya suara dalam diri berbicara.  Merayu tenang agar bersemayam dalam hati. 

Kuarahkan pandangan ke kanan.  Tiga orang teman dari Batavia Madrigal Singers (BMS) besertaku.  Tidak ada hal baru.  Bersama teman-teman ini kami telah menjalani kota-kota di Indonesia, bahkan di dunia.  Kecuali nuansa kesedihan yang telah memberi warna yang berbeda dalam perjalanan ini.  Sebuah perjalanan melepas kepergian seorang teman. 

Kuarahkan pandangan ke kiri.  Pekat malam memenuhi pandangan.  Ntah apa yang ada di luar sana.  Apakah laut, ataukah darat.  Apakah sepi, ataukah semarak.  Apakah keindahan, ataukah kehampaan.  Tak ada seorang pun di kereta ini yang tahu.  Yang ada hanya percaya.  Bahwa kereta ini membawa kita ke suatu tempat.  Tempat yang telah ditentukan. 

Pandanglah ke depan, kawan.  Percaya.  Berserah.  Kunci hadapi ketidakpastian  kehidupan.  Melawan takdir akan sangat melelahkan.  Tak usah tanya kenapa.  Tak usah tanya kapan.  Tak usah tanya bagaimana.  Toh, semua nantinya akan berakhir di satu tujuan.   

Nikmati saja perjalanan ini.  Selama kereta kita masih berjalan. 
Kereta-kereta lain itu, berjalan lebih dulu.  Tiba sebelum kita capai titik akhir. 
Perpisahan dan duka.  Perpisahan dan rindu.  Hati-hati yang terluka.  
Manusia yang ingin selalu bersama.  Dengan mereka yang kita kasihi. 

Jangan kau sesali, kawan.  Jangan kau tanya kenapa. 
Suatu saat nanti.  Luka ini akan sembuh. 
Suatu saat nanti.  Rindu ini akan sirna. 
Suatu saat nanti.  Kita akan tiba di sana. 
Ya, suatu saat nanti….

Hingga waktunya tiba, biarlah kuucapkan selamat tinggal. 
Saat-saat indah yang tak mungkin terulang. 
Biarlah segala kenangan ini tersimpan manis.
Menjadi sebuah harta berharga, bukan luka.

Rest in peace, Adri….


(Kenangan lain juga menyertai ketika menulis ini.   
RIP, my only brother, Aswindo (26 Juni 2011). ) 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...