Tuesday, October 11, 2011

You Should Had NOT Envy Me

Bagaimana ini.  Akhir-akhir ini menjadi lebih sulit untuk merasakan kebahagiaan yang sepenuhnya.  Ketika merasakan momen-momen bahagia, merasa rindu untuk membagikan rasa ini ke seseorang yang sudah tiada.  Sungguh, aku menantikan kapankah rasa kehilangan ini akan hilang dan berganti menjadi rasa syukur yang sepenuhnya atas segala kenangan dan waktu-waktu yang telah kami jalani bersama.  Berharap suatu saat nanti tak ada rasa ‘kehilangan’ lagi yang mengikutinya. 

Dua minggu ini menjadi minggu yang padat dan cukup berarti bagi dunia ‘keartisan’ gue.  Yahh, seartis-artis-nya, tetep aja di kalangan dunia musik klasik siihh. 

Minggu lalu BMS mendapat kesempatan untuk konser kembali bersama Tubingen Kammerorchester Orchestra dari Jerman.  Kalau tahun 2009 lalu hanya di Jakarta, kali ini Surabaya dan Jakarta.  Berhasil memperoleh beberapa teman baru dari orkes ini.  Setelah merasakan nikmatnya berteman antarnegara, memang gue menjadi semakin getol untuk berakrab-akrab dengan musisi-musisi luar negeri ketika ada kesempatan berkolaborasi dengan mereka.  Terutama ketika perjalanan BMS ke Konstanz kemarin.  Ada satu orang bermain di orchestra yang sama, ada 1 orang mengunjungi kami ke Konstanz selama beberapa hari, ada 1 orang menyempatkan bertemu ketika sedang mengadakan konser di kota sebelah, ada juga yang menyediakan rumahnya untuk tempat singgah ketika gue berencana extend.  Itu dalam satu kali perjalanan loh!  Belum lagi untuk event-event lain.  Memang menyenangkan.  Walaupun tergopoh-gopoh untuk ngomong Inggris, tapi paling tidak gue ‘dipaksa’ untuk itu.  Nulih lebih mudah daripada ngomong, menurut gue. 

Kenapa gue jadi inget Windo (†)?  Karena gue sangat ingat pernyataannya yang menyatakan dia ingin sekali punya teman mancanegara.  Saat itu juga gue terperangah.  “What?!  Is it that hard, having foreigners as our friend?”  Lalu ketika itu juga gue berpikir, bahwa untuk dia itu tidak semudah itu.  Profesinya dan lingkup pergaulannya tidak seperti gue yang ‘mau tidak mau’ harus berhubungan dengan orang banyak bahkan seringkali berkolaborasi dengan musisi-musisi luar negeri.  Saat itu, gue malah jadi sedih, karena abang gue tidak memiliki kesempatan seperti yang gue miliki. 

Itu minggu lalu.  Minggu ini juga menarik.  Gue diundang untuk menyanyikan bagian Solo Soprano dari sebuah Oratorio dari Haydn, yaitu “Die Jahreszeiten”.  Bersama seorang Solo Baritone dan Solo Tenor, diiringi oleh sekitar 60 orang paduan suara dari Surabaya dan 45 instrumen orchestra dari Jogjakarta, kami melantunkan 39 lagu dari Oratorio tersebut di dalam sebuat Auditorium berkapasitas 1000 orang.  Bukankah itu suatu kebanggaan?  Tentu saja. 
Terus terang, karir gue di musik klasik lambat laun memang beranjak naik.  Pekerjaan mengajar gue yang mengharuskan bertemu banyak orang, kegiatan konser gue yang memperbolehkan gue untuk dikenal (agak) banyak orang di kalangan musisi klasik, bahkan memberikan gue kesempatan untuk menjalani banyak Negara di dunia ini, tentu saja selain membahagiakan diri gue sendiri, juga membahagiakan orang tua gue.  Jenis-jenis kegiatan seperti yang gue jalani memang lebih mudah untuk dibanggakan dan dipamerkan dalam obrolan-obrolan antarorang tua.  Ya, toh? 

Beberapa hari setelah Windo meninggal, Maria (istrinya) akhirnya bercerita bahwa menjadi salah satu cita-citanya dalam hidup untuk membuat Mama dan Papa bangga terhadap dia, seperti bangganya mereka terhadap gue.  Saat itu juga gue langsung menangis tersedu-sedu.  Tak peduli bahwa itu di tengah-tengah food court.  Gue sama sekali tidak menyangka bahwa itu menjadi masalah besar bagi dirinya.  Ya Tuhan, aku sedih ketika apa yang aku miliki justru menjadi suatu penegasan akan ‘ketiadaan’ bagi orang lain. 

You know what, Win……you shouldn’t envy me.  It’s nothing.  Really.  Justru mata gue menjadi lebih ‘terbuka’ ketika kematian Windo.  Dia memiliki ‘kehidupan surgawi’ seperti yang diinginkan hampir semua orang.  Percaya atau tidak, satu kelurahan Srengseng menjadi macet total karena padatnya mobil parkir untuk melayat.  Radius parkir mobil bisa ratusan meter, padahal sudah diisi setiap celah dan setiap lapangan yang ada.  Semua orang bersaksi tetang kebaikan hatinya.  Semua orang berkata tidak dapat menemukan hal yang dibenci dari seorang Aswindo.  Dia mungkin tidak terkenal seperti artis, tidak menonjol seperti layaknya juara kelas.  Tapi kebaikan hatinya, ketulusan hatinya, sungguh membekas di hati semua orang. 

Win, you don’t want my life.  This fame, is nothing.  It’s completely mortal.  You don’t know how many people hate me for being frankly and ignorant.  I can’t keep my mouth shout for something I hate.  We both might kind-hearted, but we do things differently.  Ketika gue berkata jujur dan mengkonfrontir orang lain atas sesuatu yang menurut gue tidak benar, elo lebih memilih untuk mengalah dan membiarkan orang lain senang.  Hebatnya, lo melakukan itu dengan tulus.  Sungguh hati yang luar biasa. 

In the end…… I don’t know what to say.  Just having some sad thoughts tonight.  Feeling blessed for these 2 weeks experiences, but it also reminds me of my late brother.  He had dreamt for these things I have in my life, while I didn’t have the chance to tell him that he has MORE than mine.  We’re both lucky, brother.  We’re just……different. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...