Monday, November 14, 2011

Meraih Kebahagiaan


Kalimat seperti “Gila, hidup lo enak banget sih….” menjadi sangat biasa di kuping, bahkan di mulut kita, ketika seseorang menemukan sebuah kenikmatan hidup pada hidup orang lain, tidak pada dirinya.  Tadi malam aku baru saja menyelesaikan sebuah perjalanan yang sangat luar biasa.  Sebuah pengalaman yang luar biasa.  Sebuah langkah meraih sebuah keinginan yang terpendam. 

Belum sepenuhnya ‘membagi’ pengalaman, karena belum banyak share foto maupun tulisan di social network, ternyata sudah cukup banyak mengundang komentar dari banyak teman, baik rasa kagum maupun iri.  Komentar-komentar sederhana dan terlalu ‘biasa’, yang beberapa di antaranya tanpa sadar menjadikan seakan-akan kebahagiaan merupakan sebuah ‘hadiah’ dan ‘keberuntungan’.  Apakah benar demikian? 

Sejujurnya, aku tidak banyak melakukan perjalanan wisata sendiri.  Biasanya aku melakukan sebuah perjalanan dikarenakan kegiatan bermusikku.  Saking jarangnya, sampai-sampai perjalananku kemarin ini juga selalu menimbulkan pertanyaan mengenai event musik apa yang aku hadiri kali ini.  Hahaa!  Lucu tapi mengenaskan sebenarnya.  Karena artinya aku jarang merancang sebuah perjalanan murni bersenang-senang. 

Diawali dengan sebuah film dongeng anak-anak “Tangled” (Rapunzel) yang diolah dengan sedemikian indahnya oleh Disney, akhirnya aku mengetahui bahwa ada sebuah event bernama Loy Krathong atau Yeepeng Lanna, yang dalam Bahasa Inggris dapat juga disebut Festival of Lights di Thailand, Chiang MaiKeindahannya sanggup menjadikan event tersebut masuk ke dalam daftar Bucket List-ku.  Sudah cukup air mata ungkapan kagum setiap kali melihat adegan dalam film ketika lagu “I See theLight”.  Sudah cukup dada ini berdebar begitu cepatnya setiap kali googling image dari kegiatan tersebut.  Sudah, sudah tak dapat dipungkiri.  Aku HARUS pergi ke Chiang Mai. 

Didasari keinginan yang sama oleh beberapa teman, maka dilanjutkan dengan berusaha mencari tahu definisi, rangkaian acara, hingga tanggal pasti dari event tersebut, yang sungguh tidak dapat dikatakan mudah.  Tiket yang pada dasarnya tidak murah (high season untuk Thailand) tidak dapat menunggu kepastian kapankah bulan purnama ke-12 itu akan muncul.  Segala resiko kami tempuh.  Ditambah lagi bencana banjir di Bangkok yang membuat kami harus melakukan modifikasi yang (lagi-lagi) tidak murah.  Belum lagi segala penghasilan yang (sangat) tidak sedikit yang harus direlakan.  Belum lagi ada banyak kegiatan yang sebenarnya penting dalam karir.  Repotnya mengoper pekerjaan.  Belum lagi ada komentar miring karena seakan-akan meninggalkan pekerjaan HANYA untuk bersenang-senang.  Mungkin mereka lupa, saya bukan pegawai yang punya cuti.  Saya juga berhak memiliki waktu untuk diri saya sendiri.  Bahkan hingga beberapa jam sebelum keberangkatan, masih saja aku harus menolak (untuk kesekian kesekian kesekian kalinya) mulai dari job wedding (lagi musim kawin!), pelayanan, hingga permintaan jadi juri.  Memang sayang, tapi apa mau dikata.  Hidup memang harus memilih, toh? 

Puas ketika pilihan yang diambil adalah tepat.  Segala pengorbanan dan usaha sangat setimpal dengan apa yang aku dan teman-teman alami selama 8 hari di Chiang Mai.  Mungkin akan sulit membaginya dalam bentuk tulisan atau foto, tapi aku akan coba nanti. 

Berbeda dengan mereka yang akhirnya memutuskan untuk merencanakan sebuah perjalanan serupa, ternyata masih ada komentar yang membuat seakan-akan kebahagiaan dari pengalaman tersebut merupakan sebuah ‘keberuntungan’ alias HADIAH.  Apa mereka tidak tahu bahwa ada usaha dan resiko yang harus diambil ketika memilih untuk melakukan sesuatu yang ‘pro’ terhadap diri sendiri? 

Mungkin mereka tidak tahu bagaimana sulitnya untuk dapat tersenyum dari lubuk hati yang paling dalam, terutama ketika hati masih terluka.  Tidak semudah itu.  Mungkin mereka juga tidak tahu bagaiman aku menangis tersedu-sedu melihat hamparan awan yang begitu indahnya.  Bukannya menikmati keindahan, tapi aku teringat bahwa perjalanan kali ini ada satu orang yang berkurang untuk dibelikan oleh-oleh dalam keluarga kecilku di rumah.  Sebuah pengalaman baru yang sungguh menyakitkan.  Mereka juga pasti tidak tahu ketika aku menangis diam-diam ketika menemukan banyak foto almarhum abangku di kamera poketku.  Mereka juga tidak tahu betapa aku harus menarik nafas dalam berkali-kali setiap ingin menikmati sebuah keindahan.  Mereka juga mungkin lupa betapa susahnya menyeimbangkan pikiran dan hati ketika meditasi dan berdoa.  Harus diakui, memang sulit meraih kebahagiaan ketika hati terluka.  Sulit.  Bukan berarti tidak dapat dilakukan. 

Sungguh setiap orang memiliki tantangannya masing-masing.  Sungguh mengagumkan ketika aku mengetahui pengalaman hidup dari beberapa orang yang sungguh berat, dan mereka terlihat ‘normal’ dan bahagia.  Mulai dari seorang kakak yang ternyata adalah orang tua tunggal dari 3 orang anak, orang-orang yang ‘tidak merasa kekurangan’ padahal secara materi mereka sangat pas-pasan, seorang ibu yang ditinggal suaminya, seorang anak dengan penyakit kanker kronis, sepasang orang tua yang ditinggal mati anaknya, seorang ‘perawan tua’ yang mengisi hidupnya dengan sangat mengagumkan.  Sungguh aku ingin menjadi ‘kaya secara spiritual’ seperti orang-orang itu.  Mereka tidak mengeluh.  Mereka tidak meratap.  Mereka tidak berhenti menjalani kehidupannya.  Entah apa yang dirasakan atau bahkan yang mereka teriakkan dalam doanya, tapi yang jelas aku melihat ketegaran dalam diri mereka. 

Semakin aku menyadari, kebahagiaan itu memang tidak semudah itu didapat.  Tersaji di depan mata pun belum tentu terlihat.  Tersebar dalam setiap partikel udara di sekitar kita pun tidak semudah itu kita hirup.  Tersedia dalam setiap tetes air di sekitar kita, belum tentu dapat kita nikmati kesegarannya.  Butuh usaha untuk menjadi positif.  Butuh konsentrasi untuk lebih berfokus pada berkat.  Butuh keikhlasan untuk mau berfokus pada ‘saat ini’ daripada ‘masa lalu’.  Butuh kepasrahan untuk lebih berpikir untuk masa ‘sekarang’ daripada masa ‘yang akan datang’.  Kebahagiaan adalah buah yang dihasilkan, bukan cuma-cuma. 

“Life is not about waiting for the storm to pass, but it’s about dancing in the rain…..”

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...