Friday, November 25, 2011

Kartu Kredit, Ohhh.......Kartu Kredit


Walaupun sudah ada rencana pembatasan jumlah kartu kredit yang dimiliki oleh seorang nasabah, sepertinya hal ini belum banyak berpengaruh dalam proses kepemilikan kartu kredit sekarang-sekarang ini.  Semua provider kartu kredit masih berlomba-lomba menawarkan pembuatan kartu kredit baru dengan segala kemudahan dan ‘kemasan’ yang menarik.  Berbagai macam bonus untuk setiap pengajuan permohonan kartu kredit diberikan.  Mulai dari hadiah-hadiah langsung semacam boneka dan sejenisnya di mall-mall hingga voucher medical check-up di labolatorium ternama semacam Prodia. 

Ehh, tapi harap dicatat, kemudahan ini biasanya hanya berlaku bagi nasabah yang telah memiliki kartu kredit dari bank lain.  Proses memang akan jauh lebih mudah.  Beda nasib-nya dengan orang-orang seperti saya, yang tidak berkartu kredit dan tidak memiliki satu slip gaji utama untuk membuktikan bahwa saya punya penghasilan.  Maaf, curcol dikit.  Soalnya masih kesel dianggap ‘tidak mampu berhutang’.  Kalau bukan butuh untuk jaminan, saya juga tidak butuh pakai-pakai kartu untuk ‘berhutang’ yah.  Catet!  *pakenadaketus*


Lanjut.  Seminggu belakangan ini bagian marketing kartu kredit Standard Chartered Bank cukup gencar melakukan promosi.  Dengan iming-iming voucher sebesar Rp 150.000 untuk setiap pengajuan permohonan dan Rp 500.000 untuk setiap permohonan yang diterima, mereka mendesak pembuatan kartu kredit secepatnya.  Orang pertama yang berinisial V sempat berkali-kali menelepon Mama ke rumah.  Namun akhirnya Mama ‘menyerah’ pada orang kedua (lupa inisialnya).  Terus terang satu-satunya hal yang menarik memang tawaran voucher-nya itu.  Terlepas dari itu, orang tua saya sudah memiliki terlalu banyak kartu kredit, padahal konsumsinya sebagai pasangan yang sudah pensiun sudah tidak banyak lagi, bahkan lebih sedikit dari saya. 

Yang menarik adalah mengenai kejelasan informasi mengenai voucher tersebut.  Setiap kali ditanya “Voucher apa?”, “Bisa di mana aja?” Jawabannya selalu ambigu, “Bisa di mana aja.”  Ditanya lagi, “Iya, di mana aja itu di mana??” Jawabnya, “Iya, di semua tempat, Bu.”  Saking kesalnya saya dengan percakapan tersebut, saya sampe teriak dari jauh, “IYA, MAS.  BISA DI MANA SAJA ITU DI MANA??  APA DI WARUNG BISA?!?”  Sampai akhirnya keluar pernyataan dari orang tersebut bahwa minimarket semacam Alfa Mart bisa.  Mendengar Alfa Mart jelas lega.  Berarti berlaku untuk benda sehari-hari, dan tidak membuat lebih konsumtif seperti halnya voucher-voucher hadiah pada umumnya. 

Desakan pembuatan secepatnya juga cukup mengganggu.  Ditelepon hari Selasa (kalau tidak salah), Mama menyatakan baru bisa hari Jumat menerima kurir untuk menandatangani aplikasi.  Masih didesak “Memang ibu ke mana?  Keluar kota?  Sebaiknya secepatnya, Bu, karena bla, bla, bla…..”  Mama dengan tenang bilang, “Yah, pokoknya saya baru bisa Jumat!  Kalau tidak mau, ya sudah.   Jangan desak saya.”  Baru akhirnya si sales nurut sama maunya (calon) nasabah. 

Yang mengejutkannya yah hari ini, dong, begitu sang voucher sudah sampai di tangan (tidak ditunjukkan hingga benar-benar tanda tangan calon nasabah sudah diperoleh).  Judul vouchernya saja tertulis besar-besar, “Voucher Blackberry Accessories”.  Ada syarat dan ketentuannya juga loh. 
1.       Voucher ini berlaku hingga 15 Januari 2012.
2.       Hanya berlaku untuk pembelian AKSESORIS BLACKBERRY di outlet-outlet PT SELULAR MEDIA INFOTAMA (“Selular Shop”) dengan menggunakan Kartu Kredit Standard Chartered Bank. 
3.       Voucher ini hanya berlaku jika anda SUDAH MELAKUKAN PEMBELIAN HANDPHONE BLACKBERRY di Selular Shop.
4.       (dan beberapa ketentuan lainnya)

Well, saya berusaha untuk tidak mengeluarkan opini yang provikatif di sini.  Biarlah masing-masing orang menilai berdasarkan fakta yang saya paparkan. 

Namun rasanya saya berhak mempertebal opini saya semakin membenci para sales-sales marketing yang seringkali memberi janji palsu demi mencapai target marketingnya.  Hari demi hari, semakin banyak bertemu ‘penipu-penipu’ semacam ini.  Hati-hati, deh.  Jangan mau percaya hanya pada ‘omongan’.  Harus lihat sendiri bendanya (dan melihat dengan SEKSAMA ya), atau lihat ke situs resmi dari produk tersebut.  Menyebalkan kalau sampai ‘tertipu’ soalnya. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...