Friday, December 02, 2011

Profesionalisme dalam Gereja


Tidak mau mengeneralisasi, tidak mau menuduh, tapi yang pasti MASIH ADA kesan kesan kurang baik terhadap jasa yang diberikan secara professional dalam lingkungan agama, dalam hal ini gereja.  Mungkin karena ide ‘pelayanan’ yang ada, bahwa ada kewajiban kita sebagai umat Kristen mengembalikan apa yang kita punya kepada gereja, sebagai ucapan syukur atas berkat yang telah diberikan Tuhan kepada kita.  Mungkin juga karena keterbatasan dana yang biasanya terjadi dalam lembaga keagamaan, sebagai lembaga non profit, sehingga pemilihan jasa lebih banyak berdasarkan harga yang lebih rendah. 

 arus kita sadari bahwa ketika memilih harga termurah, ada resiko juga kualitas yang kita dapatkan tidak akan sebagus jika kita membayar seorang profesional ‘sedikit’ lebih mahal.  Harus kita sadari bahwa seorang profesional tentunya akan memiliki kualitas yang lebih baik dan cenderung untuk bekerja dengan ‘totalitas’ yang lebih.  Hal ini mungkin dikarenakan mereka lebih berpedoman terhadap hak dan kewajiban yang seharusnya. 

Lalu, ketika memilih untuk selalu menggunakan jasa yang sekedar lebih murah (atau mungkin gratis), maka sudah harus siap juga menerima ‘sekedarnya’.  Hal ini berlaku untuk berbagai macam sisi dari sebuah organisasi gereja.  For me, I prefer professional ones.  Gak perlu toleransi.  Ukuran demand-nya juga lebih jelas.  Kita sebagai pihak gereja juga berhak menuntut kualitas.  Berkualitas dari berbagai sisi, kans sebuah untuk menjadi maju akan lebih besar. 

Pasti semua menduga gue akan menggarisbawahi masalah pelatih paduan suara.  Well, it’s only one of many others.  Musik itu salah satu unsur utama ibadah umat Kristiani!  Kalau masih ‘pelit’ juga, mah, keterlaluan.  Di luar sana banyak musisi-musisi berkualitas yang siap kita panggil dan bayar untuk memberi ilmu.  Bersyukur sudah banyak gereja yang mau menyisihkan budget untuk menggunakan jasa pelatih paduan suara professional.  Errh, tapi lagi-lagi, jangan sampe salah pilih yah.  Professional juga kalau terlalu komersil kadang gak sesuai sama kualitasnya, seperti yang sudah pernah gue bahas sebelumnya. 

Selain musik, banyak hal lain yang menurut gue sebaiknya dipercayakan saja kepada para professional.  Misalnya soal kebersihan juga gak ada salahnya pakai jasa perusahaan-perusahaan penyedia staf-staf kebersihan.  Soal keamanan juga, gunakan saja Security professional. 

Sebenarnya agak meprihatinkan bagaimana banyak orang masih mudah diberi janji-janji palsu.  Kalau ‘cuma’ pelatih paduan suara salah pilih, mungkin masih bisa dimaafkan, karena dampaknya masih bisa diperbaiki dan biaya juga masih ‘tidak seberapa’.  Tapi jika kecerobohan tersebut dilakukan untuk hal yang dapat berdampak jangka panjang, misalnya pemilihan arsitek dan pemborong untuk renovasi gereja, tentu beda hal. 

Ada sebuah gereja di Jakarta yang beberapa tahun yang lalu merencanakan untuk merenovasi besar-besaran serta menambah bangunan di kompleks gereja.  Panitia diserahkan kepada 2 pilihan Arsitek di awal perencanaan.  Maaf, mungkin ini subjektif, tapi saya tahu salah satu dari kedua alternatif tersebut (sebut saja E).  Kredibilitas E sebagai seorang arsitek sudah dikenal luas di Indonesia.  Dari segi presentasi, apa yang disajikan E jauh lebih berkualitas dan lebih siap.  E telah melakukan riset mengenai budaya adat (karena ini adalah gereja adat) yang bersangkutan.  Berdasarkan pengalaman, karena E juga merancang dan mengawasi berjalannya pembangunan rumah saya, E sangat berhati-hati dalam melakukan perhitungan, sangat efisien dalam merancang bangunan, jujur, sangat ketat mengontrol pemborong (yang seringkali curang), sangat ketat juga mengontrol mandor (yang sering lalai sehingga menimbulkan keborosan), dan sangat ketat mengawasi kesesuaian detail-detail pembangunan agar sesuai dengan rancangan.  Hal-hal terlalu dalam seperti itu mungkin tidak diketahui oleh Panitia.  Namun tanpa harus tahu pun, menurut laporang pandangan mata dari beberapa orang yang menyaksikan presentasi dari kedua kandidat tersebut, jelas apa yang disajikan E memang lebih baik. 

Jarang dari kita yang membeli HP tanpa persiapan, dalam arti impulsive membeli ketika kebetulan melihat.  Biasanya kita melakukan riset terlebih dahulu, merk mana yang lebih baik, tipe mana yang lebih unggul, apa kekurangannya, apa kelebihannya, lalu di manakah dapat membeli benda tersebut dengan harga lebih murah.  Sudah pergi ke pertokoannya pun biasanya kita akan tetap bolak-balik dari satu toko yang lainnya, demi mencari benda yang paling cocok, sesuai dengan kebutuhan kita. 

Ketika membeli sebuah benda yang harganya mungkin tak lebih dari 5 juta rupiah, dengan jangka waktu pemakaian yang rata-rata tidak lebih dari 5 tahun, kita melakukan riset dan melakukan pertimbangan sedemikian rupa, mengapa harus ceroboh ketika mengambil keputusan untuk hal yang nilainya milyaran rupiah, dan jangka waktunya akan berdampak puluhan tahun ke depan?  Seandainya panitia lebih teliti, tidak akanlah mereka mempercayakan orang tersebut (yang bahkan BUKAN ARSITEK) untuk merancang bangunan kompleks gereja tersebut.  Harga yang diberikan E ketika presentasi memang jatuhnya lebih mahal, tapi perhitungannya sudah cukup tepat, dan jujur.  Bahkan E hanya mendapatkan sedikit sekali untuk dirinya karena sejujurnya bukan keuntungan materi lah yang ingin dia dapatkan dengan membangun gereja ini, tapi ada hal-hal lain berupa kepuasan batin dan kebanggaan pribadi dapat merancang sebuah gereja sebesar itu. 

Ketidakpuasan gue pada tahap awal tersebut tidak mereda, tapi malah justru semakin menjadi, terutama ketika mengikuti proses pembangunan tersebut.  Di awal rancangan, belum apa-apa sang ‘arsitek’ sudah meminta tambahan biaya untuk pembuatan maket (untuk E, harga yang diberikan sudah mencakup SEMUA), tambahan ini, tambahan itu.  Oh, sebelumnya……ketika E kalah, E diminta untuk ‘meminjamkan’ rancangannya.  WHAT?!?  Gue denger itu aja ketawa miris.  Jadi sebenarnya pihak gereja suka rancangan siapa, E atau yang satu lagi?  Kalau memang suka E, seharusnya mereka memakai E dong, bukannya memenangkan yang satu lagi (karena menjanjikan harga lebih murah) namun kemudian menggunakan rancangan E!  Aneh.  Aneh.  Jelas E tidak mau meminjamkan. 

Sekian tahun gue tidak berusaha cari tahu mengenai pembangunan kompleks gereja tersebut.  Hingga saat ini biaya pembangunan sudah melenceng sekitar 2 milyar dari perencanaan.  Banyak orang juga mengeluh soal pemborosan ketika proses pembangunan.  Banyak orang juga mengeluh tentang efisiensi rancangan bangunan.  Sungguh sedih.  Saya memilih untuk menutup kuping saja (tapi teteup ngedumel dalam hati yaaa LOL). 

Kembali ke masalah profesionalisme dalam gereja.  Janganlah menganggap ‘harga mahal’ itu merupakan sebuah hal yang kurang ideal.  Jangan hanya mengharapkan (karena dalam lingkup pelayanan) semua orang memberikan secara ‘cuma-cuma’.  Sebagai lembaga keagamaan yang bertugas memberikan layanan kepada ribuan orang, tidak sepantasnya organisasi sebesar itu masih mengandalkan prinsip “Kalau bisa gratis, kenapa mesti bayar?”  Ohh, please dooooooooon’t!!!

Indonesia negara yang semakin berkembang.  Terlihat dari profesi masyarakatnya yang juga semakin beragam dan spesifik.  Profesi yang spesifik itu harganya mahal, bung!  Janganlah kita anggap hanya pekerjaan kantoran saja yang namanya ‘kerja’.  Hargai pekerja professional dengan memberikan imbalan yang sepadan.  Jasa-jasa tersebut bisa saja diberikan secara cuma-cuma, tapi kemudian profesi mereka akan mati, karena tidak bisa dijadikan pegangan hidup.  

Sebagai pembeli jasa, jika selalu mau yang ‘gratisan’, yah berarti pihak pembeli tidak memiliki pilihan dan tidak berhak menuntut macam-macam.  Wong, namanya juga dikasih.  Begitu juga ketika membeli jasa kualitas C, dan seterusnya.  Jika memang gereja mau berkembang, sebaiknya bukan memilih kualitas jasa yang lebih rendah, melainkan meningkatkan kemampuan untuk membeli jasa kualitas A.  It’s not easy, but it’s necessary.  

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...