Saturday, February 18, 2012

The Beauty Sensation.

Kufokuskan pandangan ke buku "Eat, Pray, Love" yang tengah kubaca.  Sengaja kubeli buku itu di Airport Jakarta sebelum memulai perjalanan waktu itu.  Buku yang menggugah bagaimana cara kita menikmati hidup yang terkadang membawa kepahitan.  Buku yang menginspirasi bagaimana menikmati setiap hal yang kita lakukan, bahkan ketika melakukan nothing, alias tidak melakukan apa-apa.  

Bukankah perasaan itu yang ingin kita munculkan dalam setiap perjalanan wisata yang kita lakukan?  Menikmati setiap momen, ketika bangun dan menikmati pemandangan yang berbeda, menghirup udara yang baru, menyaksikan kebiasaan-kebiasaan yang tidak kita temukan sehari-hari, menemukan hal-hal 'baru' dengan masa lalu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.  Kesempatan berharga di mana kualitas setiap perilaku menjadi lebih bermakna, duduk di sebuah cafe kecil di pojok jalan dan memandang orang lalu-lalang, meminum segelas coklat hangat setelah menikmati dinginnya angin musim gugur, menikmati sepotong sandwich di bawah  pohon, dan..... Ahh, maaf, jadi ngelantur.  Intinya, buku itu sangat 'seirama' dengan laid-back-mood-ku selama perjalanan.  

Hari itu aku menghabiskan hari menelusuri 1 line kereta dari Basel hingga Interlaken.  Yep, gue sedang berkelana di Switzerland, salah satu kota yang sangat ingin gue kunjungi sejak dulu.  Kalau tidak salah harga tiket kereta tersebut CHF 55, dan karena gue punya (dibelikan tepatnya) Swiss Half Price Card (yg cm berlaku 5 hari), akhirnya gue hanya perlu bayar CHF 27.5, untuk seharian, terserah mau naik-turun di mana saja, asal masih dalam satu rute.  

Memutuskan untuk langsung ke tujuan utama, yaitu Interlaken.  Sepulang dari sana baru aku akan transit-transit.  Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa perjalanan dalam kereta dapat menjadi sangat menarik.  Mulai dari masuk, menelusuri lorong-lorong, sambil ekor mata menyelidik 'penghuni' dari 4 bangku yang saling berhadapan tersebut, dan akhirnya memilih teman duduk.  Dalam satu perjalanan saja rasanya bisa macam-macam, apalagi jika perjalanannya cukup panjang seperti yang aku lakukan waktu itu.  Durasinya sekitar 2 jam one way.  Mulai dari curi-curi pandang ketika duduk berhadapan dengan pria ganteng, merasa was-was ketika 2 bangku kosong dan hanya berhadapan dengan seorang pria berkulit hitam yang naik kereta hanya menggunakan semacam kartu 'jaminan sosial', hingga pada akhirnya duduk seorang perempuan setengah baya dengan pakaian formal kantoran dan membuka bukunya.  

Ntah kenapa duduk dengan orang yang membaca sungguh membuat hati nyaman.  Mungkin karena kebiasaan membaca biasanya melekat pada orang yang terpelajar, dalam arti bukan berandalan atau sejenisnya.  Lalu kembali duduk di sebelahku seorang ibu-ibu dengan pakaian 'desa'.  Ia pun duduk di sebelah perempuan setengah baya itu dan juga membuka bukunya.  Jadilah kami bertiga menghabiskan menit-menit dalam kereta dengan membaca sambil sesekali memandang keluar jendela.  

Hingga suatu saat.....

Seperti yang kulakukan setiap beberapa menit, kuangkat kepalaku dari buku dan mengalihkan pandanganku ke jendela untuk menikmati alam Switzerland yang memang kaya dengan pegunugan dan bukit sehingga menghasilkan landscape yang sangat menarik.  

Begitu pun saat itu.  Nafasku tertahan sejenak.  Hatiku berdebar-debar seperti anak remaja yang dihadapkan pada pujaan hatinya.  Pupil mataku mengecil dan menghasilkan binar bahagia, seperti juga halnya bibirku yang tanpa sadar melukiskan sebuah senyum di wajah.  

That's when the magical moment begins....

5 detik berikutnya kutemukan kami bertiga menutup buku kami perlahan dan menikmati rasa dalam hati masing-masing ketika dihadapkan dengan pemandangan yang begitu indahnya.  Tidak lebih dari 5 menit kami diberi kesempatan menyaksikan keindahan tersebut.  5 menit yang begitu singkat, sehingga tak ada seorang pun dari kami (mungkin juga seluruh isi kereta?) mengalihkan pandangan dari jendela.  Bahkan for the first time in my life aku bahkan gak mau 'membuang waktu' untuk merogoh ke dalam tas ranselku dan mencari kamera poket-ku.  Aku tidak rela 15 detik terbuang begitu saja.  Belum lagi aku tidak tahu hingga berapa lama kereta ini menyusuri daerah ini.  

Sungguh pemandangan yang memikat.  Wilayah berbukit sekejab digantikan oleh sebuah danau besar yang terletak di antara pegunungan.  Begitu hangat, begitu sederhana.  Sebuah permaisuri cantik yang ditemani oleh sahabat-sahabat kecilnya, rumah-rumah kecil di tepian.  Tanpa batas, tanpa jarak.  Dikelilingi oleh Pegunungan Alpen yang berdiri dengan kokohnya, seakan-akan melindungi sang putri dari terpaan sinar matahari yang begitu menyengat.  Menjadikan airnya terasa begitu teduh dan tenang.  Kilau matahari yang jatuh di permukaannya justru menimbulkan kilau perak yang belum pernah aku lihat sebelumnya.  God almighty!  

Ketika pemandangan itu hilang dari mata kami, sejenak kami meletakkan kepala di bangku dan menghela nafas.  Kami sejenak berhenti dari kegiatan membaca ataupun yang lainnya, sekedar untuk menikmati sisa-sisa rasa manis di pelupuk mata kami.  

Hingga si wanita tua berdiri dan bersiap-siap untuk turun.  Whatt?!? Somebody lives here?  Here, in this such a beautiful place?  Tak kuasa menahan rasa, akhirnya kutanyakan padanya, 
"Do you live here, Ma'am?"
"Yes, I do..."  (smile)
"Wow, you have such a beautiful place to live in."  
"Yes, it is.  Thank you...."  (smile)
.........
"......and enjoy your new book."
"Errr, my book?"
"Yes, the 'Eat, Pray, Love'.  I saw your book you left when you went to the toilet.  I like that book.  You should enjoy it.  It has so many beautiful things in it."
"Yes!  I'm sure I will!"  (big grin)

A very short conversation!  Still, she amazed me.  How come?  How come an everyday-thing still do the same sensation as it into me?  Which one's special?  Is it the Nature that was 'too' beautiful, or it's her who's able to see the beauty standing behind everything?  

Whatever it is, I enjoyed the moment.......very much.  When people admires beauty, and being grateful for it.  Life's being such a precious thing that's too pure to contaminated by negative things.  When time's too short not to be enjoyed.  

Those minutes.  
Those magical moments.  
Those sensations.  
Will forever remain in my heart.  
May those beauties lie within more and more people.  
.....as it was in me.  

-Interlaken, Sept 2010-


Notes : 
Aku sertakan beberapa foto pemandangan yang menhipnotis itu.  As I said, I didn't let my eyes of the view, so I don't have any single picture of it.  So, I tried to Google it, just to make anyone who reads this understand what I'm saying.  All those pictures were also taken by people in Interlaken on the Basel - Interlaken train.  
Ohh, except the two last.  I took the picture by myself in Interlaken.  That was my favorite view and felt very switzerlandish :p

_____________________________________________





_____________________________________________

How can you resist those beauty?
All you need is just sit back and enjoy your life. :)

I've dreamed of this view.
A milkcow, standing in a big green field, with alpens' snow at the back. :')


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...