Thursday, February 16, 2012

Wanita-Wanita 'Unik' di Long Neck Village


Mulut gue terpekik seketika begitu mendengar bahwa lokasi "Long Neck" hill-tribe ternyata sangat terjangkau dari Chiang Mai!  Sungguh bonus yang luar biasa!  Sama sekali tidak menyangka bahwa suku yang selama ini hanya bisa gue lihat di National Geographic itu ternyata sedang berada di dekat gue!  Gue tidak tahu bahwa Mae Hong Son itu berada di sisi Utara kota Chiang Mai yang saat itu sedang meriah mengadakan "Loy Krathongalias "Festival of Lights".  Gue bahkan tidak 'ngeh' kalo mereka berada Thailand!  Betapa bodohnya.  



Mengapa menarik? - Jika boleh dibalik, justru gue ingin bertanya, mengapa harus tidak tertarik?  Mereka memiliki tradisi yang sungguh langka, terutama kaum perempuannya.  Sejak umur 4-5 tahun, setiap perempuan suku tersebut diwajibkan menggunakan brass rings atau gelang-gelang yang terbuat dari perunggu di leher mereka.  Minimal sepanjang hidup seorang perempuan mereka harus melakukan 3 kali pemasangan, yaitu pada masa kanak-kanak, masa remaja, dan ketika dewasa.  Jumlah lingkaran yang dipasang semakin lama semakin tinggi seiring dengan bertambahnya usia mereka.  Banyaknya lingkaran-lingkaran logam yang dipasang tersebut akhirnya mengebabkan leher mereka terlihat panjang.  Oleh karena itulah mereka sering disebut dengan suku "Long Neck".  
Jadi, sungguh mengherankan mengapa dari 12 orang peserta Tour bersama kami hari itu tertarik melihat gajah tetapi tidak tertarik mengunjungi Long Neck Village itu dan bertemu dengan manusia-manusia yang memahami nilai-nilai yang berbeda dengan kita.  Akhirnya gue dan ketiga teman gue bergegas turun dari mobil untuk memanfaatkan 45 menit yang diberikan kepada kami sementara peserta Tour lainnya memilih untuk menonton pertunjukan Harimau (errr...).  


Terkungkung - Memasuki perkampungan kami disambut oleh banyak sekali kios-kios souvenir dengan penjualnya yang 'berkostum' lengkap.  Setelah menelusuri hingga ke belakang, gue pribadi menilai bahwa ini bukanlah 'village' yang sesungguhnya.  Ini pasti hanya semacam 'sentra bisnis' bagi suku ini yang dikelola oleh orang-orang tertentu.  
Sedikitnya ada 4 jenis suku dengan keunikan tradisi yang berbeda berada di wilayah tersebut, yaitu (ini deskripsi berdasarkan tampilan fisik yah) : yang 'berleher panjang' (menggunakan cincin-cincin besi di leher), yang 'bertelinga besar' (menggunakan anting berbentuk lingkaran yang besar, yang kalau di Jakarta mungkin agak serupa dengan anak-anak Punk di lampu merah dengan lubang telinga raksasa :p), yang 'bergigi hitam' (karena mengunyah sirih), dan yang bertopi.  


Para penduduk asli ini ternyata merupakan pengungsi dari Birma ketika Myanmar sedang berkonflik.  Oleh pemerintah mereka diijinkan tinggal di Thailand, namun tidak menjadi warga negara Thailand.  Jadilah mereka dan keturunannya 'terjebak' di sana, tanpa kewarganegaraan.  Tanpa kewarganegaraan artinya mereka tidak diijinkan bekerja di kota, tidak berhak memperoleh pendidikan, bahkan tidak diijinkan 'berkeliaran' di kota.  
Karena tidak diijinkan bekerja di kota, maka sehari-hari mereka tetap hidup dari alam.  Bertani, bertanam, baru kemudian membuat kerajinan.  Hasil-hasil pertanian dan kerajinan tersebut kemudian dibawa ke kota oleh kepala suku, atau mungkin orang-orang tertentu yang bersedia 'membantu' mendistribusikan jualan mereka tersebut.  


'Human Zoo' - Kenapa kata 'membantu' di atas gue beri tanda kutip?  Sejujurnya gue tidak bisa membedakan mana orang-orang yang sesungguhnya membantu mereka, mana yang memanfaatkan mereka bagi keuntungan pribadi.  Tidak dapat dipungkiri, keberadaan mereka di sana membawa keuntungan bagi sebagian orang.  Sangat potensial untuk dijadikan peluang bisnis.  Misalnya saja souvenir-souvenir yang dijual, kebanyakan merupakan titipan dari para 'businessman' yang keuntungan bagi mereka tidak seberapa.  Jika kita memang ingin secara langsung menambah penghasilan mereka, sebaiknya membeli hasil kerajinan tangan mereka yang berupa kain, pakaian tradisional, dan sejenisnya.  Keuntungan yang masuk ke kantong mereka akan lebih besar.  Sangat tidak rugi, kain-kain buatan tangan tersebut kualitasnya baguuusss.  Warnanya yang beragam juga menarik.  Plus harganya sangat murah, yang jika dikurskan hanya sekitar 100 ribu rupiah.  
Contoh lainnya adalah kondisi mereka yang tertutup dari beradaban, yang sangat mungkin disengaja demi keaslian budaya, sehingga tetap menarik untuk dikunjungi oleh orang luar.  Jelas pemerintah dan pekerja-pekerja lain di bidang pariwisata (tour and travel, tour guide, pembuat souvenir, dll.) dapat menjadikannya sebagai mata pencaharian.  
Sebagian orang menganggap wisata ke "Long Neck Village" ini merupakan semacam Human Zoo.  Hmm, tidak salah jika dianggap demikian.  Dari awal gue sudah sangat berhati-hati dalam bersikap.  Jangan sampai memperlakukan mereka sebagai 'objek tontonan'.  Tidak mengambil foto sembarangan seperti mereka tidak bernyawa.  Cara yang kami lakukan adalah masing-masing sebisa mungkin tidak membeli dari pedagang yang sama, sehingga kami bisa ngobrol dan berfoto dengan lebih banyak orang.  Jika tidak membeli, kalau kami sih merasa tidak enak untuk maen foto.  Seberapapun tidak berpengetahuannya mereka, tetap saja mereka memiliki perasaan.  Maka gue sangat menjaga ketika ngobrol sebaiknya lebih menunjukkan sikap 'tertarik pada tradisi yang unik', bukan 'tertarik karena kalian aneh'.  


Prihatin - Ada rasa prihatin terhadap para wanita Long Neck.  Seumur hidup 'dipenjara' seperti itu rasanya pasti sungguh tidak enak.  Saat itu gue sempat mencoba ring 'dummies' yang disediakan untuk keperluan foto.  Itu saja beraattt, dan leher gue sudah tidak cukup.  Sungguh tidak enak.  Well, they've been using it for almost their whole life sih yaa, jadi mungkin mereka sudah lupa nikmatnya tanpa ring.  
Pada awalnya penggunaan ring tersebut karena diyakini memiliki bermacam-macam fungsi.  Mulai dari melindungi dari serangan harimau, ada juga yang berpendapat agar membuat para wanitanya tidak menarik demi kelangsungan suku.  Tapi yang para perempuan itu yakini, bahwa semakin panjang leher mereka, maka semakin menariklah mereka, sehingga bisa mendapatkan suami yang baik juga.  Bahkan hingga terkonsep di kepala bahwa mereka merasa butuh akan 'kalung' logam tersebut, sehingga pencopotan 'kalung' menjadi salah satu bentuk 'hukuman', misalnya ketika terjadi perselingkuhan dalam rumah tangga.  

Faktanya, leher panjang hanyalah merupakan ilusi mata.  Fakta yang terjadi adalah logam yang berat dan menekan pundak tersebut lama-kelamaan akan mendorong pundak dan tulang belikat hingga turun dan terlihat seperti menjadi bagian dari leher (bisa dilihat bentuk pundaknya pada foto).  Lebih dari itu, tertekannya tulang pundak dapat juga mengakibatkan tulang iga yang turun dan menekan organ di dalam tubuh.  Hal tersebut dapat menyebabkan kelumpuhan.  Leher yang selalu disangga pun membuat leher menjadi lemah, sehingga setelah logam-logam tersebut dicopot, sang perempuan terpaksa harus selalu terbaring di tempat tidur, tanpa daya.  
Namun ada juga perempuan yang berhasil melepaskan diri, baik melepaskan fisik dari kalung logam, maupun melepaskan pikirannya dari kekangan, dan tidak mengalami cedera fisik apapun.  Kisahnya bisa dibaca di sini.  

Highlights  - Sangat menarik dan merasa senang dapat bertemu langsung dengan mereka.  Kunjungan singkat itu merupakan salah satu highlight perjalanan kami ke Chiang Mai.  Walaupun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa mata hati ini melihat hal yang berbeda.  Gue dapat merasakan ketidakbahagiaan yang mereka alami.  Boleh dikatakan satu-satunya orang yang murah senyum di sana adalah si ibu tua bergigi hitam (ada di foto).  Bahkan anak-anak pun tidak banyak bicara.  
Tidak heran hal itu terjadi.  Dieksploitasi terhadap dunia luar menambah pengetahuan mereka, bahwa ternyata tidak banyak orang yang seperti mereka.  Bisa kalian bayangkan, setiap hari ratusan orang 'normal' berdatangan silih berganti untuk 'menonton' mereka?  Datang, melihat, berbicara antarmereka dalam bahasa yang tidak dimengerti, kemudian menjadi objek foto.  Hal tersebut terjadi sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang tahun, tanpa waktu yang terbatas, karena memang tidak banyak pilihan yang bisa mereka lakukan dalam hidupnya.  Lebih baik tidak tahu ada pilihan, daripada tahu ada pilihan tapi sangat sulit meraihnya.  
Sedikit terhibur dengan warna-warna cerah dari kain-kain yang mereka buat.  Buat gue, warna-warna cerah yang seakan-akan menggambarkan keceriaan tersebut dapat sedikit mengimbangi warna sendu yang terpancar dari wajah mereka.  

2 comments:

  1. noted and put the village as a must-visited place...

    tp secara budaya, kenapa ya mereka memakai gelang-gelang perunggu itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Must-visited it is, Cil!

      Spt yg gue tulis di situ, alasan utama pakai gelang-gelang itu gak jelas. Ada yg bilang awalnya buat ngelindungin leher dari serangan binatang, atau yg bilang sengaja biar wanita2nya terlihat gak menarik, tapi yg di konsep kepala mereka adlh kalo semakin panjang itu semakin baik. Hmm...

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...