Monday, May 21, 2012

#Bulgamerica Day 13 : Friends Forever

Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore, tapi tugas kami masih belumlah selesai. Lagu itu terlalu membingungkan untuk kami pelajari. Kaset audio itu kami putar berulang-ulang, dengan harapan akan terdengar melodi-melodi yang jelas di telinga, yang dapat kami nyanyikan ulang. Sia-sia. Suara-suara di lagu acapella itu terdengar begitu membingungkan dan saling terjalin dengan rumitnya.


Siapalah kami, 4 orang siswi kelas 2 SMP yang mendapat tugas dari guru musik kami untuk membuat sebuah persembahan lagu sebagai materi ulangan praktek. Tak seorang pun dari kami dapat memainkan alat musik dengan mahir sehingga dapat mengiringi lagu kami. Maka muncullah ide gila untuk bernyanyi secara acapella, alias tanpa iringan, dan aku pilihlah lagu “Selamat Ulang Tahun” dari album KKEB Andre Hehanusa. Kupikir tadinya mudah, tapi ternyata tidak!


Ketika sudah hampir menyerah setelah mendengarkan dengan serius dan seksama, bahkan hingga telinga kami tempelkan ke speaker radio, akhirnya kami menjauh dan merebahkan diri di tempat tidur. 4 anak remaja dengan seragam SMP yang lelah belajar bersama, padahal hanya ingin belajar sebuah lagu. Ketika dalam suasana rileks tersebutlah tiba-tiba melodi-melodi itu terdengar jelas di telingaku. Satu-demi-satu. Harmoni yang tadinya terdengar sangat rumit tiba-tiba terurai dengan mudahnya. Aku dapat mendengarkan sebuah dentuman Bass yang berbunyi “Dum, dum, dum....” dan 2 buah suara pararel dengan nada yang berbeda dengan berbunyi “Shoop, shoop..... Doo wap, doo wap.....” mengiringi sebuah melodi utama. Seketika itu bangkit dari tempat tidur dan duduk tegak, kemudian mendiktekan bunyi-bunyian tersebut satu per satu kepada ketiga temanku. Bersyukur karena tak ada dari mereka yang buta nada, sehingga tidak muncul kesulitan-kesulitan tambahan.


Tak sia-sia. Guru musikku memberi kami nilai yang sangat baik, bahkan memberikan nilai spesial untukku pribadi (beliau menyesal bahwa tidak bisa memberikan nilai lebih karena dibatasi oleh aturan nilai maksimal). Merasa sangat kaget saat itu. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya tidak perlu sekaget itu. Karena apa yang kami lakukan kalau dipikir-pikir memang sangatlah tidak mudah! Empat orang siswi kelas 2 SMP, menyanyikan sebuah lagu acapella dengan pecah 4 suara secara modern (bukan pecah pararel ala Batak aja, hehe....). Sejak saat itu, aku, Alma, Widya, dan A-Phe sering menyanyikan lagu itu ketika waktu istirahat atau waktu senggang lainnya.
______________________________

Sungguh memori yang tak terlupakan. Masih teringat jelas sosok A-Phe yang menyanyikan bass “Dum, Dum, Dum....” dengan fasihnya, dan kami berempat pun bernyanyi dengan bangganya. Saat ini, sosok yang sama sedang duduk di hadapanku. Aku, dia, dan 3 orang temanku yang lainnya menghabiskan waktu bersama di Time Square, New York Masih dengan gaya bicara yang sama, masih dengan cara tertawa yang sama, hanya saja saat ini ia lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris dibandingkan Bahasa Indonesia. Gayanya yang penuh semangat, tertawanya yang lebar dan lepas, rambutnya yang selalu tanggung dan disibakkan ke salah satu pundaknya, tak ada yang berubah. Gaya berpakaiannya yang tidak feminin tapi tetap bersahaja pun tidak berubah dari mantan pemain basket putri andalan sekolah kami ini. Belum lagi gaya berbicaranya yang sangat cerdas dan menyenangkan. Still admiring as she used to. Then I realized, wow, I’ve known her for so long.

Sudah hampir 20 tahun lalu kejadian di kamar itu terjadi. Sudah hampir 25 tahun kami saling kenal. Hanya 2 kali kami bertemu sejak ia meninggalkan Indonesia selepas bangku SMA. Siapa menduga, bahwa kami saat ini menghabiskan waktu sehari penuh di sebuah tempat yang begitu terkenal di dunia? Siapa sangka 2 teman masa kecil yang tinggal terpisahkan waktu 13 jam ini dapat kembali bersenda gurau bersama? Siapa yang tahu bahwa 25 tahun sejak pertama bertemu, 2 orang masih dapat berteman dengan begitu akrabnya?

25 tahun. Waktu yang cukup lama untuk membawa seseorang jauh menuju perjalanan hidupnya masing-masing. Setiap langkah yang diambil akan menentukan arah perjalanan berikutnya yang akan ditempuh. Terbayang berapa banyak langkah yang dijalani seseorang dalam 25 tahun hidupnya? Terbayang berapa seberapa jauh jarak yang terjadi antara dua orang setelah sekian langkah yang dijalaninya?

Seberapapun jauhnya jarak terpisah, seberapapun lamanya waktu memisahkan, bagaimanapun berbedanya status kewarganegaraan, bahasa, pendidikan, ataupun status sosial, Persahabatan adalah Abadi. Inilah kami, membicarakan hal yang berbeda, berada di tempat yang berbeda, dengan kondisi yang jauh berbeda dengan 25 tahun yang lalu, masih dengan gaya yang sama. Seakan-akan kami hanya terpisah 2 bulan. Seakan-akan kami baru saja kenal setahun yang lalu. Melupakan ribuan langkah perbedaan yang terjadi, dan memutuskan untuk mempertahankan persahabatan ini.

Sampai bertemu lagi, Kawan. Seberapa pun jauh langkah di antara kita, akan selalu ada waktu di mana titik itu mempertemukan kita. Goodbye for now...



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...