Monday, July 02, 2012

Hari Pernikahan

Angin bertiup sepoi-sepoi, ditingkahi dengan dedaunan yang berayun perlahan mengikuti iramanya.  Udara dipenuhi dengan semerbak harum bunga memenuhi setiap udara yang kuhirup.  Rumput-rumput yang setengah basah itu pun berharmoni dengan kesejukan yang kurasakan dalam dada ini.  


Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore.  Para pekerja telah selesai mengerjakan tugasnya.  Seluruh taman telah kembali tenang, setelah berjam-jam riuh dengan keramaian.  Kini ia telah siap menyambut tamu-tamu yang akan segera berdatangan.  


Lihatlah lorong berbunga itu.  Siap menjadi menghantarkan dua insan yang akan mengikat janji.  Bangku-bangku yang siap menemani orang-orang yang akan menjadi saksi akan bersatunya dua manusia.  Udara, pohon, dan semesta yang siap merestui dan menyatukan mereka menjadi satu hingga akhir hayatnya.  


Matahari semakin mengarah ke Barat, diiringin concerto dari string quartet.  Angin seakan-akan menari-nari lincah bersama loncatan-loncatan nada dari Springs Four Seasons karya Vivaldi itu.  Orang-orang mulai berdatangan.  Suara tawa dan canda mulai memenuhi suasana sekitar kapel kecil itu.  Suasana terus belanjut hingga Canon in D dari Pachelbel mulai dimainkan dan semua orang berdiri menyambut sang mempelai pria yang diikuti dengan Bridal Chorus dari Wagner yang mengiringi mempelai wanita yang didampingi sang ayah, menatap mata sang mempelai pria dari kejauhan yang memancarkan berjuta emosi.  Sembari di belakang sana matahari semakin mendekati tempat persembunyiannya.  


Upacara pemberkatan berjalan dengan syahdu dan penuh rasa kekeluargaan.  Sesekali gelak tawa terdengar dari bangku jemaat karena gurauan yang dilontarkan oleh bapak pendeta maupun kedua pengantin.  Begitu santai namun bersahaja.  Menghantarkan mereka berdua menuju sebuah fase baru dalam kehidupannya.  


Upacara pemberkatan selesai ketika langit telah berwarna keabu-abuan.  Tanpa disadari, taman di tepi danau tersebut telah menjadi tempat yang sangat romantis yang dipenuhi lampu.  

Tak jauh dari tempat ibadah, telah terdapat ratusan buah bangku yang disusun menyusuri meja-meja panjang.  Sebuah band pengiring telah siap di panggung kecil terbuka di salah satu sudut.  Di tengah-tengah sana sebuah pelataran kayu tak permanen telah siap menyambut kaki-kaki yang hendak menari menyambut hari bahagia ini.  Ya, pesta sederhana ini akan segera dimulai.  Tak lebih dari 1000 orang hadir di tempat ini.  Aku rasa hanya terdiri dari 30% keluarga dekat mempelai, 15% teman lama di sekolah, 15% teman lama di bangku kuliah, 30% rekan-rekan sejawat, dan 10% kerabat lainnya.  Apa yang tidak lebih menyenangkan dari merayakan dan berbagi hari bahagiamu bersama orang-orang terdkeat (saja)?


Suara piring beradu dengan sendok-garpu, suara gelas berdenting, serita suara gelak-tawa dan canda dari orang-orang yang kucinta ini menjadi musik yang begitu indah di sepanjang malam ini.  Kedua mempelai terus berkeliling di sekitar meja dan lantai dansa.  Semua orang menantikan kedatangan mereka ke dalam kerumunan untuk sekedar berbagi tawa ataupun berfoto bersama.  Sang fotografer dan video kamera terus mencari momen yang layak diabadikan dari hari istimewa ini.  Jamuan makan yang lebih mirip dengan pesta kebun ini menjadi sangat hangat dan casual.  Acara demi acara mengalun dengan lancar dan mulus.  Mulai dari grand entrance, wedding cake, wedding toast, bahkan sampai testimoni dan video dari mempelai dan kerabat terdekatnya.  Begitu pula pembagian door prize dan juga first dance yang begitu memukau yang diikuti oleh para tamu yang akhirnya memenuhi lantai dansa.  


Malam semakin pekat.  Angin semakin kencang dan dinging.  Gelembung-gelembung udara yang sekian lama menghiasi udara pun telah menghilang.  Sebagian besar tamu juga telah kembali ke peristirahatannya.  Para pemain band dan pramusaji tengah membereskan sisa-sisa pesta.  Namun ternyata keriaan malam belumlah selesai.  Malam terlalu indah untuk disia-siakan.  Terang bulan purnama memantulkan warna keperakan di air danau yang tenang, seakan-akan memanggil jiwa muda kami untuk bergegas ke tepiannya.      


Bersama dengan beberapa botol champagne dan beberapa lembar selimut kami pun menghabiskan malam di tepi danau.  Gelak tawa mengiringi permainan Uno di tengah temaram 2 buah lampu kecil dan speaker musik yang kami bawa.  Terpikir untuk melakukan hal yang sudah lama ingin kulakukan, skinny dipping.  Hanya 10 orang-orang terbaikku menjadi saksi (dan mungkin akan menjadi pelaku).  Hmm, let's close the night with a grand one, shall we?! :-)

2 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...