Monday, August 27, 2012

Senyum Sekarang atau Nanti?

Hari yang menyenangkan.  Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang bukan biasanya.  Sepanjang siang hingga sore bertemu dengan banyak teman lama semasa sekolah dan beberapa kenalan baru, sementara malam hingga pagi hari dihabiskan bersama beberapa kenalan dari sebuah kegiatan sosial di jaringan Twitter.  Seperti halnya siang dan malam, kedua jenis manusia tersebut pun berbeda sekali.  


Dari 17 orang teman lama yang hadir, sudah bisa terlihat gambaran standard atas definisi 'sukses' yang dipahami oleh (sebagian besar?) orang.  Rata-rata mereka berkeluarga di usia relatif muda (sebelum masuk ke usia-usia mengkhawatirkan), semua berpendidikan minimal S1, dan banyak yang sudah S2, itu pun banyak yang mengenyam pendidikannya di luar Indonesia.  Selain itu, tidak hanya para prianya, para wanitanya pun banyak yang sudah menduduki posisi yang baik dalam pekerjaannya.  

Kemudian, setelah sebagian besar telah pulang, akhirnya melanjutkan bersama 2 dari mereka, dan dipertemukan dengan 2 orang teman lainnya yang dikenalnya selama bersekolah di benua Eropa dan juga 2 orang lainnya yang dikenal selama bekerja di benua lainnya lagi.  Kelima benua mendapat kesempatan masuk dalam topik pembicaraan kami sore itu, baik dalam hubungannya dengan pekerjaan, liburan, ataupun pembahasan secara umum.  Bidang-bidang pekerjaan mereka yang sangat spesifik dan mendunia tak habis-habisnya menimbulkan decak kagum dalam hati gue (yang memang jarang bergaul dengan para pebisnis bidang lain selain seni).  

Selepas dari kumpulan orang-orang 'sukses' tersebut, gue melanjutkan hari libur gue dengan memenuhi undangan main dari salah seorang teman dan meluncur ke rumahnya yang terletak tepat di sebuah jalan utama di kawasan Jakarta Selatan.  Segala yang kutemui malam itu adalah kebalikan 360 derajat dari apa yang kutemui siangnya.  Bertemu dengan orang-orang yang tidak berada dalam kriteria 'sukses' seperti yang kebanyakan orang anut tersebut.  Mereka bukanlah orang yang sukses dalam bidang pendidikan, sebagian malah tidak menyelesaikan S1-nya, lebih banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kemanusiaan (tentunya tidak 'basah' sama sekali), dan cenderung sangat dekat dengan alam (bukan dengan teknologi), terutama dengan bumi Indonesia.  

Akhirnya, semua akan kembali pada pemahaman bahwa "Hidup adalah pilihan."  Setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita kepada arah yang kita tuju.  Setiap kata yang kita rangkai akan menghasilkan sebuah cerita kehidupan yang berbeda.  Semua pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.  

Sebagai manusia, tak berani aku mengatakan si A lebih sukses dari si B, ataupun sebaliknya. Tak dapat dipungkiri, pencapaian yang diperoleh si A tersebut memang tidak semua orang dapat meraihnya.  Kehidupan nyaman yang diperolehnya dengan kerja keras memang sangat menggiurkan.  Tapi, aku tak berani memungkiri, betapa terpesonanya diri ini terhadap bagaimana si B memperlakukan hidupnya.  Tawa yang lepas, menjalani hari tanpa rasa khawatir yang berlebihan, pertemanan tanpa syarat, sangat rileks dan ringan, seakan-akan siap ke mana pun hidup akan membawanya berjalan.  Terkadang mereka 'diledek' sebagai orang paling kaya di dunia.  Bingung?  Yah, tentu saja karena segala kesempatan yang berkaitan dengan uang dan karir selalu dilewatkan begitu saja.  Bertingkah seakan-akan tak butuh uang.    

Ketika banyak orang mengejar status (baik pekerjaan, pendidikan, maupun status sosial lainnya), mereka bahkan tidak mengindahkannya.  Ketika  banyak orang memilih pekerjaan yang lebih menghasilkan uang banyak, mereka memilih pekerjaan yang lebih membawa kenikmatan bagi jiwa mereka.  Ketika banyak orang berpergian ke tempat-tempat mewah dan terkenal, mereka justru pergi ke tempat-tempat pelosok dan bertemu dengan masyarakat marjinal.  Ketika manusia di bumi ini semakin tidak peduli satu sama lain, mereka justru mendekatkan hati mereka ke pada sesamanya.  

Tak tahulah bagaimana kondisi pemenuhan kebutuhan mereka sebenarnya, baik si A maupun si B.  Tak tahu juga konflik-konflik personal yang terjadi dalam diri mereka sebenarnya.  Terlepas dari itu, aku juga tak tahu mana yang lebih baik, "Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian", ataukah "Living life to the fullest."  Namun, mengingat segala ketidakpastian hidup yang mungkin terjadi, hanya berharap bahwa pilihan mereka tidak salah.  Biarlah hati mereka tak berpaling darinya.  Biarlah semesta mengamininya.  Semoga mereka yang rela bersusah-susah di masa sekarang masih akan memiliki kesempatan untuk tersenyum nantinya, dan senyum-senyum dari mereka yang sedang menikmatinya sekarang tidak akan pudar di akhir kehidupan mereka nantinya.  

Ya, semoga masih ada cukup senyum di dunia ini bagi setiap orang yang berkelana di dalamnya.  

___________________________
* Walaupun tulisan ini seakan-akan membandingkan Tipe Kepribadian A dan B seperti yang dikatakan Goldsmith, tapi sebenarnya tidak juga, yah.  

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...