Friday, September 14, 2012

Kiriman Senyum

Malam itu aku kembali menyetir sendirian.  Kali ini tidak terlalu malam, paling hanya sekitar jam 9-an.  Jalan tol yang sangat panjang itu seakan-akan mengantarkan pikiranku juga jauh entah ke mana.  Tubuh yang lelah dan hal-hal yang tak henti-hentinya membebani kepala ini seakan-akan sedang mengalami masa-masa kejayaannya.  Menyetir tak terburu-buru, kubiarkan saja pikiranku melayang bersama mereka.  Hasilnya, terkadang memang malah makin mumet, sih.  Hehe...

Mencapai gerbang tol Kebon Jeruk, segera kubelokkan stir dan meluncurkan mobilku menuju pintu keluar tersebut.  Bunyi dan angin yang menerpa dari luar ketika kubuka kaca seakan-akan menyambut pikiranku kembali mendarat di 'dunia'.  Terlebih dari itu, tiba-tiba terdengar sapaan riang dan kencang. "Ehh, halo!  Tumben jam segini udah pulang."  "Hah?!?  Sapose ni?" pikirku.  Menduga suara itu berasal dari si pemilik tangan yang baru saja memberikan kembalian dan karcis tol tersebut, segera kususuri mukanya.  Duduklah di dalam ruangan kecil itu, seorang pria yang kutaksir usianya sekitar 35-an, dengan garis muka yang tegas, dan tersenyum lebar -- bahkan lebar sekali -- seakan-akan tak menangkap ekspresi takjub yang tersirat di mukaku.  "Ehh, iya nih...."  Hanya itu yang sanggup keluar dari bibirku di tengah situasi yang 'super awkward' itu. :p


Segera kuinjak pedal kopling dan menancap gas meninggalkan TKP.  Sudah beberapa menit berlalu, tapi senyum ini tak lepas-lepas dari bibirku.  Masih merasa lucu dengan sapaan yang luar biasa akrab akrab dari orang yang tak kukenal tadi.  Sungguh mengherankan, bertingkah seakan-akan sangat mengenalku, sementara tidak demikian di pihakku.  Pernah melihat mukanya pun aku rasa tidak.  Dibilang tidak mengenal sama sekali, tetapi dia ternyata cukup mengenali diriku, bahkan kebiasaan-kebiasaanku melewati ruas jalan ini.  Sungguh mengejutkan.  Kejutan yang menyenangkan, kalo boleh jujur.  Tanpa kusadari, ada desiran hangat mengalir di hati.  Berterima kasih pada Tuhan atas berkat sederhana yang ternyata menjadikan hariku berakhir dengan senyum.  :-)

Kejadian tersebut ternyata bukanlah menjadi puncak, tapi justru menjadi awal dari kejadian-kejadian berikutnya.  Sapaan paling dahsyat yang pernah beliau lontarkan adalah "Ehh, halo!  Mampir, Neng!"  (?!?...)  Segera pikiran gue memvisualisasikan adegan tersebut.  Sumpah mati gue gak bisa berhenti ketawa membayangkan gue menepikan mobil, kemudian benar-benar 'mampir' di gerbang tol tersebut dan menghabiskan waktu bercengkrama dan beramah-tamah di sebuah kotak yang besarnya tak lebih dari 1,5 x 0,5 meter tersebut.  X))

Kembali kiriman berkat dari Tuhan kuterima, dan hariku lagi-lagi diakhiri dengan tawa... :')

Reaksiku pun semakin lama semakin terbiasa dengan ajakan mampir tersebut.  Yang awalnya hanya berupa tawa canggung dan segera melipir, kemudian menjadi senyum hangat, bahkan ucapan terima kasih atas undangannya tersebut.  Lebih dari itu, terkadang gue dengan sengaja melewati gerbang tengah (yang seingatku sering menjadi singgasananya) dan berharap hariku kembali diakhiri oleh sebuah senyum.  Senyum yang dihasilkan oleh seorang asing.  Yeah, siapa yang dapat menduga kejutan-kejutan semacam itu?  Siapa tahu juga suatu hari nanti kamu menemukan saya dengan beliau sedang asik berbagi tawa di tepi jalan itu, dan giliran saya mengirimkan senyum bagi beliau?  Yah, siapa tahu....

2 comments:

  1. senyum itu menular lho! spread the smile!

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...