Saturday, June 01, 2013

6 Cara Menghindari Penyebaran Identitas Pribadi

Akhir-akhir ini telemarketing sedang berkembang pesat. Dalam satu hari tak terhitung jumlah telepon dan SMS dari orang tak dikenal kepada kita. Telepon-telepon tersebut dapat mengatasnamakan berbagai macam jenis perusahaan, mulai dari berbagai produk kartu kredit, bank, asuransi, hingga pusat-pusat kebugaran.

Hal yang lebih menarik lagi, serbuan telepon dan SMS tersebut tidak lagi hanya berupa kontak 'random', melainkan kontak yang jelas-jelas ditujukan kepada kita pribadi (nama lengkap dll). Lebih dari itu, telepon tersebut seringkali menggunakan klarifikasi keanggotaan pada produk tertentu, seperti "Selamat siang, Ibu 'Anu'. Menurut data kami, Ibu merupakan pengguna aktif Kartu Kredit 'Anu'..." dan percakapan selanjutnya yang ternyata tidak ada hubungannya dengan Kartu Kredit 'Anu'.


Selain mengganggu kenyamanan dan membuang-buang waktu, penyebaran identitas pribadi kita semakin lama semakin meresahkan. Bisa dibayangkan jika data tersebut jatuh ke tangan yang salah, akan sangat mudah digunakan untuk tindakan kriminal yang tentu dapat merugikan lebih dari sekedar kenyamanan dan waktu.

Terlebih dari itu, ketidaknyamanan, kesia-siaan waktu, serta resiko kriminalitas yang kita terima tersebut ternyata membawa keuntungan bagi pihak tertentu. Seorang teman pernah bekerja pada seorang agen properti di sebuah apartemen di lingkungan Sudirman. Alih-alih dipekerjakan untuk mengurusi apartemen yang disewa harian, beliau ternyata lebih disibukkan dengan urusan memasukkan ribuan data ke dalam komputer setiap harinya untuk kemudian diserahkan kepada sang agen tersebut. Yak, ternyata menjadi "penjual-beli data" adalah pekerjaan sampingan (atau jangan-jangan malah pekerjaan utama?) sang agen properti tersebut.

Berikut adalah beberapa tindakan yang mungkin dapat menghindari identitas kita menjadi salah satu di antara data-data yang diperjualbelikan tersebut.

1. Hindari menjawab pertanyaan seputar identitas pada penelpon tak dikenal. -- Yakinkan bahwa selayaknya orang yang menelpon kita mengetahui kepada siapa dia melakukan panggilan, bukan sebaliknya. Jadi, pertanyaan sejenis "Ini siapa?" adalah menjadi hak dari orang yang dihubungi.

2. Hindari memberi identitas ketika MENERIMA telpon atas nama perusahaan (bukan kita yang melakukan panggilan). -- Seringkali kita menerima telepon dari perusahaan langganan kita (kartu kredit, asuransi, dll). Namun pastikan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan klarifikasi data ketika bukan kita yang melakukan panggilan. Kita tidak pernah tahu pasti kebenaran identitas penelpon.

3. Pastikan keakuratan nomor telepon Customer Service yang dituju. -- Yang ini saya belum tahu kebenarannya, tetapi ada berita yang mengatakan bahwa ada customer service "gadungan" dari sebuah bank besar yang menggunakan akhiran -8888, sementara yang resmi adalah -888. Tapi jika memang ada, maka tentu harus diwaspadai.

4. Jaga kerahasiaan identitas dalam aplikasi kartu kredit baru. -- Hal ini berarti termasuk menutup amplop aplikasi untuk menghindari penyalahgunaan data oleh kurir, juga hindari pengisian data oleh sales melalui telepon. Jadikan identitas menjadi hubungan yang ekslusif antara diri kita dan kertas aplikasi. Jangan biarkan sampai ada kartu kredit lain beredar dengan menggunakan data kita, seperti pengalaman seorang kerabat dekat. Bank 'anu' selalu mengingatkan mengenai pelunasan salah satu kartu kreditnya (menurut catatan pihak bank 'anu' ia memiliki 2 KK dari bank tersebut), sementara beliau tidak merasa memiliki (apalagi menggunakan).

5. Waspadai permintaan data ketika transaksi dengan kartu kredit. -- Sudah beberapa kali mengalami permintaan pemberian data berupa nama, alamat, nomor telpon ketika melakukan transaksi di merchant tertentu. Entah apa hubungannya, tapi menurut saya ketika transaksi berhasil, urusan berikutnya hanyalah antara kita dan bank. Merchant telah menggesek kartu kita, dan tidak seharusnya memperoleh hak lebih dari itu. Bahkan ada merchant tertentu ketika melakukan transaksi besar, mereka melakukan panggilan kepada bank yang bersangkutan, sehingga membutuhkan klarifikasi termasuk nama gadis ibu kandung (baca: data pribadi yang paling krucial). Apapun alasannya, tidak boleh ada orang ketiga dalam proses transaksi. Ketika mereka butuh keamanan dalam transaksi, pastikan juga keamanan transaksi bagi kita pribadi.

6. Waspadai lowongan pekerjaan palsu. -- Mendeteksinya mudah, yaitu kombinasi antara perusahaan besar dan alamat email gratis. Misalnya diberitahukan bahwa PT Pertamina membuka lowongan pekerjaan, di mana lamaran dan CV dapat dikirim ke pertamina@gmail.com.

-------

Dengan melakukan 6 hal di atas, tentu saja belum menjadi jaminan bahwa tidak ada lagi SMS-SMS tak dikenal berisi nama Anda. Semua tergantung juga dari tindakan kita di masa lalu. Banyak juga hal-hal lain yang tidak dapat kita kontrol di luar sana, misalnya sales-sales yang mungkin saling bertransaksi untuk memperoleh data calon-calon klien-nya.

Yang pasti, identitas pribadi sudah selayaknya kita perlakukan selayaknya harta berharga. Kita berhak secara asertif bersikap protektif terhadapnya. Tidak perlu merasa tidak enak untuk menolak permberian data pribadi kita terhadap orang-orang tak dikenal.

Lebih dari itu, menurut saya kita berhak meminta pertanggungjawaban dari orang-orang tak kita kenal tetapi memiliki akses terhadap data-data pribadi kita. Misalnya dengan menjawab telepon penawaran (yang bertubi-tubi itu) dengan jawaban, "Anda siapa? Saya tidak ada hubungan dengan produk Anda. Dari mana Anda memperoleh data saya?" Berdasarkan pengalaman, hal tersebut mujarab menghentikan penawaran tersebut, bahkan sebelum penawaran dimulai.

Selamat mencoba!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...