Saturday, August 24, 2013

Geographical Life Mapping : 11, 962

Just doing the math and trying to see whether any interesting conclusions could be made.

JAKARTA  :  11, 157 DAYS

OTHER INDONESIAN PARTS  :  607 DAYS
West Java  :  30 days
Cetral Java  :  15 days
East Java  :  38 days
Madura  :  1 day
Lombok  :  8 days
Bali  :  10 days
Belitung  :  4 days
Lampung  :  2 day
South Sumatera  :  4 days
Jambi  :  2 days
West Sumatera  :  2 days
North Sumatera  :  45 days
Aceh  :  3 days
North Sulawesi  :  3 days
East Kalimantan   :  8 days
NTT  :  10 days
Papua  :  18 days

OTHER EASTERN  :  66 DAYS
Japan  :  8 days
Thailand  :  15 days
Malaysia  :  10 days
Macao  :  8 days
Hong Kong  :  10 days
Singapore  :  15 days

WESTERN  :  132 DAYS
USA  :  60 days
Switzerland  :  7 days
Germany  :  17 days
Italy  :  7 days
France  :  6 days
Spain  :  6 days
Bulgaria  :  5 days
Austria  :  10 days
Czech Republic  :  4 days
Hungary  :  2 days
Slovenia  :  5 days
Turkey  :  3 days

Friday, August 02, 2013

8 km

Pagi kembali datang. Kali ini lebih riuh dibanding hari-hari sebelumnya. Suara gelak tawa si kecil berpadu dengan kicau burung gereja di balik jendela. Rupanya hari ini ia merekah lebih awal. Keceriaannya dengan mudahnya menularkan tawa dan senyum di wajah pagiku yang biasanya kurang bersahabat.

Namun kebahagiaan pagi itu harus terhenti ketika aku melihat jam di dinding. Segera aku beralih dan menyambar handuk untuk ke kamar mandi. Tangannya masih menggenggam bola-bola hijau itu ketika dengan dahi berkerut ia bertanya "Bouu, mau ke mana?"
"Bou mau sekolah, Sayang..." jawabku setelah mengambil waktu untuk menarik napas dan melapangkan tenggorokanku yang nyaris tercekak. "Nanti kita main lagi, ya."
"Yahh..." sembari pundaknya berangsur turun, kehilangan semangatnya.
Keceriaan pagi itu memudarlah.

Nanti. Sebuah kata yang berat untuk diucapkan --walaupun telah diucapkan. Sebuah janji sekaligus harapan. Sebuah kata yang menanti menjadi aksi. Sebuah penantian. Yang aku sendiri tak yakin kapan dapat memenuhinya, walaupun betapa kuatnya tekad dalam diri.

Kutinggalkan sepetak tanah itu dengan sebuah pengharapan menanti di dalamnya. Menuju sebuah cita-cita dan impian di luar sana. Hidup memanglah harus memilih. Pilihan-pilihan dengan cita rasanya sendiri, baik manis dan pahit. Sebuah tindakan yang tidak pernah selesai dipelajari, betapapun seringnya kita lakukan dalam setiap persimpangan kehidupan. Tiga sosok yang kukasihi itu pun harus mengalah. Kutahan keinginan mendampingi sepasang langkah berlari dan menuntun dua pasang langkah yang semakin melambat.

Maafkan aku karena berpaling sejenak dari kalian. Terima kasih telah beri aku waktu meraih mimpi, menyiapkan masa depan. Masa depan kita semua. Sabarlah menunggu, hingga waktunya kita menempuh jalan itu bersama-sama.

Setetes demi setes air mataku mengalir, hingga akhirnya berderai tanpa terkendali. Hari ini baru hari ketiga aku kembali menghabiskan waktu sekitar 12-15 jam di luar rumah, setelah 2 tahun penuh melekatkan diri menghadapi gempuran cobaan. Tiga hari dari ratusan hari yang akan mengikutinya. Kekhawatiranku menjadi kenyataan. Rindu datang terlalu dini. Rindu yang terasa begitu menyekik. Tak bisakah kau datang sebentar lagi, ketika langkahku telah berpijak pasti?

8 km.
Sebuah tempat di mana rindu bersemayam.
Sebuah jarak pendek penuh kerinduan.
Sebuah penantian singkat bak tiada akhir.
Sebuah langkah meraih impian.

8 km.
Di sanalah masa laluku berada.
Di sanalah masa depanku berada.
Di sanalah hatiku berada.

8 km, tunggulah aku kembali...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...