Sunday, September 11, 2016

Higher Power


Lagi-lagi kegiatan kami menyewakan kamar kepada para wisatawan membawa sebuah pengalaman berharga. Beberapa bulan lalu B&B kami kembali kedatangan sepasang tamu dari sebuah negara adidaya yang seringkali manusia-manusia yang tinggal di dalamnya dapat dikategorikan sebagai manusia yang arogan--menurut saya. Yang ini pun tak terkecuali. 

Sangat bersahabat dan sopan. Semua baik. Hanya saja cukup kental persepsi "I can conquor everything". Bersikap tidak butuh orang lain. Sama sekali tidak pernah bertanya pendapat ataupun saran dari orang lain. Ketika berbicara, mereka hanya menyampaikan apa yang ingin dilakukannya (sudah diputuskan). Walaupun ada beberapa keputusan yang menurut saya kurang tepat, yah saya biarkan saja. Saya hanya akan berpendapat kalau mereka meminta pendapat saya. Ada tipe orang tertentu yang (walaupun tidak secara eksplisit meminta pendapat), tapi mereka terlihat terbuka untuk masukan. They're just not that kind of people. . 

Setelah pulang setelah seharian pergi-pulang ke Bandung di hari Sabtu (inilah salah satu keputusan yang kurang tepat menurut saya), sang perempuan secara tidak sengaja meninggalkan dompetnya di mobil. Sang supir yang sadar dan menemukan dompet tersebut hingga akhirnya mengantarkan kembali ke tempat kami. Tidak setiap hari kejadian semacam itu terjadi, bukan? 

Saya dan ayah saya kemudian membahas kejadian tersebut. Intinya, kami berharap mereka mendapat tilikan bahwa kita tidak selamanya bisa hidup sendiri. Ada kalanya ada hal-hal "di luar" diri kita yang "berbuat" untuk kita--bukan sebaliknya. Bahwa ada kalanya sesuatu berada di luar kendali kita dan satu-satunya cara adalah berharap sesuatu/seseorang "di luar" sana melakukan kebaikannya. Oleh karena itu, saya sangat menantikan obrolan saat sarapan di keesokan paginya. Saya ingin tahu bagaimana persepsi mereka terhadap kejadian tersebut. 

Ternyata saya harus kecewa. Setelah menceritakan fakta bahwa supir tersebut menemukan dompet dan mengantarkannya kembali kepada mereka, cerita tersebut tidak diakhiri dengan pernyataan bahwa "supir itu baik" atau "kami beruntung". Yang ada adalah pernyataan "tapi kami memang bersikap baik pada dia". "We treat him well during the trip." Dengan tidak lupa menyertakan berbagai contoh bagaimana mereka bersikap sopan dan segera melunaskan pembayaran (catat, bukan memberikan bonus), dll. Semua itu menurut mereka menjadi alasan mengapa pria itu melakukan kebaikan tersebut. Saya bengong. Saya terlalu yakin bahwa mereka menangkap pesan dari kejadian tersebut. 

Mungkin saya berlebihan kalau berharap mereka belajar sesuatu. Tapi yang jelas saya kecewa. Mereka terlalu percaya bahwa semua yang terjadi adalah hasil jerih payah mereka. 

"Orang baik pada saya karena saya juga baik pada mereka." 
"Jualan saya sukses karena memang saya pandai mengemas dan memasarkan produk saya."
"Saya sukses karena memang saya bekerja keras."
"Saya sehat karena saya memang rajin berolahraga dan menjaga gaya hidup sehat."
"Saya kurus karena saya memang menjaga pola makan."
"Saya berprestasi karena saya memang rajin belajar."
Tentunya hal ini bisa menjadi positif kalau hal ini dijadikan sebagai pendorong untuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Namun seringkali kata "saya" di sana kemudian berubah menjadi "dia" ataupun "mereka". Lama kelamaan hal tersebut dianggap menjadi sebuah ilmu pasti dan menjadi modal pengotak-kotakan sesamanya. 

Pada akhirnya, mereka yang biasanya mengklaim berkat-berkat tersebut MURNI sebagai hasil jerih payah mereka, biasanya akan lebih mudah menghakimi orang-orang yang berada di kondisi sebaliknya. Menilai bahwa jerih payah orang-orang tersebut tidak sebesar mereka. Ah, seandainya saja rumusnya sesederhana itu. Hidup mungkin bisa lebih sederhana. Karena faktanya, ada (bahkan sangat banyak) hal-hal yang kita punya tapi tidak dimiliki orang lain, dan itu jelas bukan ada karena hasil jerih payah kita. Genetics, talent, personality, trait, environment, life-span, etc. 

But too bad. Some people believe in themselves too much that sometimes they forget there's a greater power working upon them. 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...